Fasilitas Nuklir Iran Tetap Rentan terhadap Serangan, Termasuk dari Israel

Agregasi BBC Indonesia, · Jum'at 22 Januari 2021 07:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 22 18 2348791 fasilitas-nuklir-iran-tetap-rentan-terhadap-serangan-termasuk-dari-israel-E3Znduyzjw.jpg Iran menghabiskan dana besar untuk mengembangkan rudal darat ke udara guna mencegah serangan udara.

AKHIR dari era Presiden Donald Trump telah menimbulkan rasa lega secara kolektif di Iran, meskipun tetap waspada.

Sebagian kalangan di wilayah Teluk sempat khawatir jika di hari-hari terakhir masa jabatannya, Presiden Trump mungkin menggalakkan kebijakannya untuk memberikan "tekanan maksimum" kepada Iran dan melancarkan serangan militer terhadap pembangkit-pembangkit tenaga nuklir sipil dan sasaran-sasaran lain.

Laporan dari Washington pada November menunjukkan bahwa langkah itu menjadi pilihan yang pernah dipertimbangkan oleh presiden Amerika Serikat (AS), sebelum ditentang oleh para penasihatnya.

Sebaliknya, presiden baru Joe Biden menegaskan bahwa ia menginginkan AS untuk bergabung kembali dalam perundingan nuklir yang ditandatangani tahun 2015 dengan Iran.

Ini berarti AS harus mencabut sanksi-sanksi terhadap Iran dan mencairkan dana untuk negara itu sebagai imbalan dari kepatuhan total terhadap perjanjian.

Lalu apakah Iran sekarang aman dari serangan?

Singkat kata, tidak. Israel tetap sangat khawatir, tidak saja karena aktivitas nuklir Iran untuk kepentingan sipil, tetapi juga karena program yang produktif untuk mengembangkan rudal balistiknya.

Pada Kamis (14/01), terkait dengan program nuklir Iran ini, Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz dilaporkan mengatakan, "Jelas bahwa Israel perlu membahas opsi militer. Ini memerlukan sumber daya serta investasi dan saya berusaha mewujudkannya."

Israel, yang dinyatakan sebagai musuh oleh Iran, menganggap bom nuklir di tangan Iran akan mengancam keberadaannya dan telah menyerukan kepada dunia untuk menghentikan langkah Iran sebelum terlambat.

Iran selalu menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata untuk kepentingan sipil, tetapi tindakannya baru-baru ini untuk menggenjot pengayaan uranium - salah satu dari serangkaian pengayaan uranium yang melanggar perjanjian tahun 2015 - menimbulkan kekhawatiran.

Pada tahun 1981, Israel mencurigai Presiden Irak Saddam Hussein berusaha mengembangkan kemampuannya untuk membuat senjata nuklir.

Dalam Operasi Babylon yang dilancarkan Israel, negara itu mengambil langkah pertama dengan meluncurkan serangan udara yang sukses. Serangan tersebut menggunakan jet tempur F15 dan F16, menghancurkan reaktor nuklir Osirak, Irak.

Dua puluh enam tahun kemudian, pada 2007, Israel melakukan langkah yang sama terhadap Suriah dalam operasi yang dinamai Operation Outside the Box. Serangan udara tersebut menghancurkan reaktor plutonium rahasia di gurun pasir dekat Deir al-Zour, tak lama sebelum diaktifkan.

Tidak tampak

Tetapi Iran adalah sasaran serangan yang lebih sulit, sehubungan dengan jarak, aksesibilitas dan pertahanan udara.

Masih menjadi pertanyaan apakah Israel bisa berhasil melancarkan serangan udara tanpa partisipasi Amerika Serikat. Pemerintahan Presiden Biden enggan terlibat.

Baca Juga : Menlu AS Sebut Iran Sebagai Sarang Baru Al Qaeda

Karena menyadari adanya ancaman yang sudah lama ada terhadap fasilitas-fasilitas nuklirnya, Iran telah menginvestasikan dana dan usaha untuk menyembunyikan fasilitas tersebut jauh di kedalaman, di bawah gunung.

Industri nuklir Iran, meskipun dikatakan untuk kepentingan sipil, terkait erat dengan infrastruktur keamanan dan militernya.

Kenyataannya, Iran telah lama menyiapkan diri menghadapi serangan sehingga kini ada kemungkinan jelas bahwa fasilitas bawah tanah semakin tidak tertembus.

Walaupun begitu, fasilitas nuklir Iran tetap rentan terhadap serangan dari tiga sisi.

Serangan fisik

"Fasilitas Iran bukannya tak tertembus," kata Mark Fitzpatrick, associate fellow di International Institute for Strategic Studies (IISS) dan juga seorang ahli bidang pengendalian senjata.

"[Fasiltas lain di ] Natanz rentan terhadap serangan bom yang dapat menghancurkan bunker dengan presisi, mungkin dua hantaman yang tepat sekaligus: satu untuk membuat lubang dan satu lagi untuk menembusnya atau setidaknya cukup untuk menggoyahkan mesin-mesin sehingga tidak berfungsi."

Tetapi wilayah Iran luas dan fasilitas-fasilitas nuklirnya terpencar-pencar jauh di kedalaman.

Pada tahun 2012, para ahli mengatakan fasilitas pengayaan uranium di Fordo, yang ditanam setidaknya 80 meter di dalam gunung, mungkin tidak bisa ditembus oleh kekuatan eksplosif yang dihasilkan bom-bom presisi tinggi "bunker-busting (bom yang dapat menghancurkan bunker)".

"Kedalaman Fordo melindungi fasilitas itu dari serangan bom yang dapat menghancurkan bunker, tetapi tidak tahan melawan sabotase," kata Mark Fitzpatrick, "dan fasilitas tersebut bisa dinonaktifkan selama berbulan-bulan dengan meledakkan pintu dan ruang udara".

Tetapi untuk menjangkau fasilitas-fasilitas itu memerlukan satu atau mungkin dua kali serangan udara yang dapat menembus ke dalam wilayah udara Iran dan menghindari atau menaklukkan pertahanan udara negara itu.

Iran menghabiskan dana besar untuk mengembangkan kekuatan rudal darat ke udara, termasuk Bavar-373 - sistem yang dikembangkan di dalam negeri dari versi S-300 Rusia.

Sistem itu mampu melacak dan menembak jatuh pesawat pada ketinggian hingga 300 kilometer.

Serangan manusia

Serangan dengan metode ini sudah terjadi.

Badan intelijen Israel, Mossad, berhasil mengembangkan jaringan mata-mata yang luar biasa mahir di wilayah Iran.

Begitu mahirnya sehingga ketika ilmuwan militer paling terkenal Iran, Mohsen Fakhrizadeh, bepergian dengan konvoi yang dikawal melalui jalan sepi di Teheran timur pada tanggal 27 November lalu, para penyerangnya tahu betul rute dan waktunya.

Berbagai laporan menurunkan versi berbeda-beda tentang apa yang terjadi pada hari itu.

Baca Juga : Trump Lengser, Putri Soleimani: Anda Bunuh Ayah Saya, tapi Hidup Ketakutan

Iran mengkaim serangan itu dilancarkan dari jarak jauh dengan menggunakan senapan mesin di atas truk yang dikendalikan dengan satelit.

Sumber-sumber lain meyakini serangan dilancarkan oleh tim mata-mata yang dilatih Mossad, yang kemudian melarikan diri dan bebas berkeliaran.

Apapun caranya, Fakhrizadeh - dikenal sebagai "bapak program nuklir Iran" dan yang oleh badan intelijen AS dikatakan mengembangkan senjata nuklir secara diam-diam, telah dibunuh.

Israel belum mengeluarkan tanggapan tentang siapa yang berada di balik pembunuhan ilmuwan Iran itu.

Sebelum pembunuhan Fakhrizadeh, antara tahun 2010 hingga 2012, empat ilmuwan nuklir terkemuka juga dibunuh di wilayah negara itu, di antaranya dilakukan dengan bom mobil.

Lagi-lagi, Israel tidak mengakui atau membantah keterlibatannya.

Tetapi pembunuhan itu menunjukkan bahwa meskipun ada pengamanan ketat, keamanan negara Iran, pelaku-pelaku pembunuhan mampu mencapai sasaran mereka, sehingga menjegal kapasitas intelektual di bidang teknologi nuklir negara itu.

Serangan siber

Terjadi perang yang tak dideklarasikan di dunia maya; Iran berhadapan dengan kubu AS, Israel dan Arab Saudi.

Pada 2010, sebuah perangkat lunak jahat dengan kode Stuxnet secara diam-diam dimasukkan ke dalam komputer yang mengendalikan sentrifugal pengayaan uranium di Natanz.

Akibatnya terjadilah kekacauan, membuat sentrifugal berputar-putar di luar kendali dan menyebabkan program pengayaan itu mengalami kemunduran beberapa tahun.

Serangan siber tersebut banyak dilaporkan sebagai ulah dari Israel, meskipun sejumlah ahli AS dan Israel diyakini bekerja sama dalam mengembangkan piranti lunak Stuxnet.

Tak lama kemudian Iran melancarkan pembalasan, dengan memasukkan piranti lunak jahatnya sendiri dengan kode Shamoon ke dalam jaringan komputer perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco. Akibatnya, 30.000 komputer lumpuh dan produksi minyak Arab Saudi terganggu.

Peristiwa itu disusul dengan serangan-serangan lain.

Risiko terus-terusan

Perjanjian nuklir tahun 2015 - Rencana Aksi Komprehensif Gabungan - seharusnya memberikan pembatasan ketat terhadap aktivitas nuklir Iran sehingga tidak sampai membuat musuh-musuhnya merasa perlu melakukan serangan militer.

Namun Israel dan Arab Saudi selalu bersikap skeptis terkait perjanjian itu karena menganggapnya terlalu lunak dan bersifat sementara, dan juga karena tidak mencakup program rudal balistik Iran.

Sekarang, kedua negara itu tak begitu berharap pada presiden baru AS, Joe Biden untuk menghidupkan kembali perjanjian, kecuali jika kekhawatiran-kekhawatiran tersebut diatasi.

Tak seorang pun di kawasan Teluk menghendaki perang lagi.

Bahkan serangan rudal terhadap infrastuktur minyak Arab Saudi pada tahun 2019, yang diyakini dilakukan oleh Iran dan sekutu-sekutunya, tidak dibalas.

Tetapi sepanjang ada kecurigaan bahwa Iran secara diam-diam mengembangkan hulu ledak nuklir, maka risiko serangan terhadap fasilitas-fasilitasnya dengan tujuan menghentikan gerak negara itu, akan selalu ada.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini