Ribuan Orang Ikuti Pemakaman Demonstran yang Tewas Ditembak di Myanmar

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 22 Februari 2021 11:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 22 18 2366113 ribuan-orang-ikuti-pemakaman-demonstran-yang-tewas-ditembak-di-myanmar-QrcPLLxW84.jpg Peti mati yang membawa jenazah Mya Thwate Thwate Khaing pada pemakamannya di Nayp Yi Daw, 21 Februari 2021. (Foto: Reuters)

YANGON - Pengunjuk rasa di Myanmar kembali berkumpul pada Minggu (21/2/2021), sehari setelah pasukan keamanan menembak mati dua orang pada demonstrasi anti kudeta di Mandalay, kota terbesar kedua negara itu. Pemakaman seorang demonstran yang ditembak dan tewas oleh peluru tajam polisi dalam demonstrasi sebelumnya dihadiri ribuan orang.

Mya Thwate Thwate Khaing adalah kematian pertama yang dikonfirmasi di antara ribuan orang yang turun ke jalan untuk memprotes kudeta 1 Februari yang menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi. Wanita itu ditembak pada 9 Februari, dua hari sebelum ulang tahunnya yang ke-20, di sebuah protes di Ibu Kota Nayp Yi Daw, dan meninggal pada Jumat (19/2/2021).

BACA JUGA: Demonstran di Myanmar Tewas Tertembak Peluru Tajam di Bagian Kepala

Sekira 1.000 orang menggunakan mobil dan sepeda berkumpul pada Minggu pagi di rumah sakit tempat jasadnya ditahan di tengah keamanan yang ketat. Setelah jasad Mya dilepaskan, iring-iringan kendaraan bermotor yang panjang memulai perjalanan ke pemakaman.

Di Yangon, kota terbesar Myanmar, sekira 1.000 demonstran menghormati wanita muda tersebut di bawah jalan layang.

"Saya ingin mengatakan melalui media kepada diktator dan rekan-rekannya, kami adalah demonstran damai," kata pengunjuk rasa Min Htet Naing sebagaimana dilansir Associated Press. “Hentikan genosida. Berhenti menggunakan senjata mematikan."

Pada protes besar di Mandalay pada Sabtu (20/2/2021), polisi menembak mati dua orang di dekat galangan kapal ketika pasukan keamanan berusaha memaksa pekerja untuk memuat perahu. Para pekerja, seperti pekerja kereta api dan pengemudi truk dan banyak pegawai negeri, telah mengambil bagian dalam kampanye pembangkangan sipil melawan junta.

BACA JUGA: Inggris Sanksi para Jenderal Myanmar Terkait Kudeta Militer dan Pelanggaran HAM

Penembakan terjadi setelah warga lingkungan bergegas ke dermaga Yadanabon untuk mencoba membantu para pekerja dalam perlawanan mereka. Salah satu korban, yang digambarkan sebagai remaja laki-laki, ditembak di kepala dan meninggal seketika, sementara korban lainnya ditembak di dada dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Beberapa luka serius lainnya juga dilaporkan. Keterangan saksi dan foto selongsong peluru menunjukkan bahwa aparat keamanan menggunakan peluru tajam, selain peluru karet, meriam air, dan ketapel.

Kematian baru ini dengan cepat menarik keras dari komunitas internasional, termasuk dari Inggris dan Singapura.

Kudeta pada 1 Februari yang menggulingkan Aung San Suu Kyi merupakan kemunduran besar bagi transisi Myanmar menuju demokrasi setelah 50 tahun pemerintahan militer yang dimulai dengan kudeta 1962. Suu Kyi berkuasa setelah partainya memenangkan pemilu 2015, tetapi para jenderal mempertahankan kekuasaan substansial di bawah konstitusi, yang diadopsi di bawah rezim militer.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini