Hampir Semua Kota di Negara Ini Tolak Vaksinasi Covid-19

Susi Susanti, Koran SI · Rabu 03 Maret 2021 09:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 03 18 2371330 hampir-semua-kota-di-negara-ini-tolak-vaksinasi-covid-19-TpGnJgoYil.jpg Banyak kota di Meksiko tolak vaksinasi Covid-19 (Foto: CNN)

MEKSIKO – Bagi Presiden Meksiko Andrés Manuel López Obrador, memvaksinasi Covid-19 semua orang Meksiko adalah masalah kebijakan kesehatan nasional yang bertanggung jawab serta keadilan sosial.

"Vaksin akan mulai berdatangan sedikit demi sedikit," katanya pada 15 Februari lalu, selama konferensi pers pagi hari, seminggu setelah kembali ke kegiatan publik setelah tertular Covid-19.

“Hari ini kami meluncurkan rencana vaksinasi kami dan tidak akan berhenti. Kami akan terus maju dengan tujuan untuk memvaksinasi semua orang, sesuai dengan prioritas yang telah ditetapkan sebelumnya,” tambah Presiden.

Tetapi sudah ada tanda-tanda yang jelas bahwa tidak setiap orang Meksiko siap atau ingin mendapatkan suntikan vaksin itu.

Di Aldama, sebuah kota kecil berpenduduk sekitar 7.000 yang terletak di dataran tinggi tengah negara bagian Chiapas, Meksiko selatan, beberapa orang mengatakan mereka tidak akan divaksinasi, terlepas dari rencana vaksinasi apa pun atau dari mana asalnya vaksin tersebut.

(Baca juga: Mobil SUV Tabrakan dengan Truk Semi-Trailer, 13 Orang Tewas)

"Mengapa saya harus divaksinasi? Saya tidak sakit. Tidak baik jika mereka mencoba memaksa kami untuk divaksinasi. Saya tidak tahu," kata María Magdalena López Santís, seorang warga Aldama kepada CNN dalam bahasa Spanyol.

Komunitas adat seperti Aldama memiliki sejarah ketidakpercayaan terhadap pemerintah federal. Para pemimpin komunitas mengatakan dalam beberapa kasus, mereka kerap diabaikan.

Dalam kasus terburuk, mereka menjadi sasaran perampasan tanah, diskriminasi, pelecehan, dan serangan. Kali ini, tampaknya kurangnya informasi dan teori konspirasi yang telah menyebar di wilayah seperti kebakaran hutan menjadi penyebab keraguan vaksin.

Sekretaris Kota Aldama Tomás López Pérez, mengatakan kepada CNN jika orang-orang di sana, termasuk dirinya, sangat percaya jika vaksin dapat lebih berbahaya daripada kebaikan.

"Orang-orang tidak mendapat informasi yang baik tentang hal ini. Karena kami tidak benar-benar tahu terbuat dari apa vaksin itu, kami yakin vaksin itu mengandung virus Covid-19 dan itulah alasan utama mengapa orang tidak ingin divaksinasi," terangnya.

(Baca juga: Pendeta Katolik Dituduh Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap 10.000 Anak di Bawah Umur dan Orang Rentan Sejak 1950)

Karena banyak orang di kota-kota itu berkomunikasi dalam dialek asli mereka, informasi pemerintah tentang strategi pandemi Covid-19, dalam banyak kasus, hilang dalam terjemahan.

Tapi di satu sisi, Aldama juga beruntung. Penduduknya, terutama suku Maya Tzotzil, jarang bepergian ke kota-kota besar dan sangat sedikit orang yang pernah berkunjung ke kota. Ini menyelamatkan kota dari pandemi terburuk - dan itu berarti banyak penduduk merasa tidak perlu divaksinasi.

Pejabat setempat dengan bangga menegaskan tidak ada seorang pun di sini yang terinfeksi virus corona, meskipun pejabat kesehatan tidak dapat mengonfirmasi klaim itu. Namun demikian, kota itu ditutup selama beberapa bulan, pada saat yang sama pemerintah federal memberlakukan pembatasan di seluruh negeri.

Walikota Aldama Adolfo Victorio López Gómez, mengatakan dia juga memuji pengobatan tradisional untuk kasus Covid-19 yang rendah di kota dan memercayai kemanjurannya.

"Untungnya, kami memiliki cara berpikir nenek moyang kami tentang pengobatan tradisional dan kami meminta bimbingan dari kakek nenek dan buyut kami dan itu sangat membantu kami," kata López.

Kota-kota adat seperti Aldama bersifat otonom. Konstitusi Meksiko mengizinkan kota-kota seperti ini untuk mengatur diri mereka sendiri di bawah prinsip "tradisi dan adat istiadat".

Pada 2018, terdapat 421 kotamadya di Meksiko dengan status otonom dari total 2.469 (17%). Dan itu bukan satu-satunya kota di Meksiko selatan di mana orang-orang menolak untuk divaksinasi.

Awal bulan ini, José López López, walikota San Juan Cancuc, kota adat lain yang terletak di dataran tinggi tengah Chiapas, mengirim surat kepada otoritas kesehatan negara bagian, memberi tahu mereka tentang keputusan daerahnya untuk menolak vaksin apa pun.

Dalam surat itu, López menulis sebanyak 24.000 kotamadya, yang terdiri dari 45 komunitas, mengadakan pertemuan pada akhir Januari lalu. Dari pertemuan itu para tetua kota memutuskan "kampanye vaksinasi tidak akan diizinkan." Surat itu juga berbicara tentang "manfaat dan kemungkinan efek samping" dari vaksin.

Departemen Kesehatan Negara Bagian Chiapas menjawab mereka menghormati otonomi penduduk asli, meskipun para pejabat bersikeras bahwa mereka akan terus mempromosikan dialog dengan komunitas tersebut demi kesehatan semua orang.

Gubernur Chiapas Rutilio Escandón baru-baru ini fokus pada mendiskreditkan teori konspirasi dan kebohongan tentang vaksin Covid-19.

“Saya meminta masyarakat Chiapas untuk tidak menjadi mangsa kebohongan dari mereka yang mencoba memanfaatkan keadaan darurat kesehatan, mereka yang menjual 'vaksin' di media sosial. Vaksin tidak tersedia secara pribadi. Mereka gratis dan akan tersedia untuk semuanya, "kata Escandón di Twitter.

Sementara itu, saat ditanya secara khusus tentang penolakan komunitas adat Chiapas untuk memvaksinasi selama konferensi pers harian paginya, Presiden López Obrador menekankan tidak ada yang akan dipaksa untuk mengikuti vaksin virus corona.

"Semuanya sukarela," kata Presiden.

"Saya ulangi: tidak ada yang dipaksakan, tetapi semuanya berdasarkan akal dan hak. Kita harus meyakinkan, membujuk, menginformasikan, mengarahkan, menyadarkan, tanpa memaksakan apa pun,” lanjutnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini