Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah WNI Pulang ke Kampung Halaman saat Pandemi hingga Dikarantina Satu Keluarga

Arif Budianto , Jurnalis-Minggu, 07 Maret 2021 |18:56 WIB
Kisah WNI Pulang ke Kampung Halaman saat Pandemi hingga Dikarantina Satu Keluarga
Ilustrasi. (Foto: Okezone.com)
A
A
A

(Bersambung, bagian 1 dari 2)

JAKARTA - Kisah Warga Negara Indonesia (WNI) tinggal di luar negeri dan memutuskan pulang ke Indonesia saat pandemi diunggah akun Twitter @andiazhar_. Unggahan tersebut menarik lantaran mengangkat kisah perjalanan satu keluarga yang rela mengorbankan masa depan serta harta dan tenaganya, mengikuti semua proses karantina di Wisma Atlet.

Kisah tersebut diceritakan oleh Andi Azhar yang juga dipublikasikan di situs pribadinya andiazhar.com. Dikutip dari situs itu, kisah mereka dimulai dengan beratnya pengambilan keputusan untuk kembali ke Indonesia.

Dia dan istri terlibat diskusi panjang, hampir setiap malam selama beberapa bulan terakhir. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan mereka beradu argumen mencari jalan terbaik tentang permasalahan apakah harus tinggal di Taiwan atau pulang saja ke Indonesia. 

Sebabnya, saat itu dia sebenarnya tinggal menunggu waktu saja untuk melengkapi persyaratan agar bisa sidang akhir. Sehingga keputusan berat mesti diambil untuk memilih kembali ke Indonesia sebagai sebuah mufakat bersama. Banyak pihak yang menyayangkan keputusan tersebut, termasuk dekan-dekan dan profesor di kampusnya yang sampai marah. 

“No, Prof. There are several principal thing that be our consideration, like social environment for our babies and etc," kenang Andi menjawab pertanyaan prosesornya yang menyayangkan kepulangannya ke Indonesia.  

Baca juga: Sang Ibu Lumpuh Kaku, Remaja Ini Terpaksa Putus Sekolah

Tanggal 2 Maret lalu, akhirnya dia berpamitan pulang ke Indonesia melalui pesan WhatsApp. Mereka pun akhirnya mengalah dan menerima keputusan untuk kembali ke Indonesia. Tanggal 3 Maret mereka berempat berangkat menuju Indonesia dengan barang bawaan berupa 1 stroller besar untuk anak kembar, 2 koper besar, 1 tas jinjing, 2 tas ransel, dan 1 tas laptop.  

"Ditambah saya dan istri masing-masing menggendong bayi karena anak kami kembar. Dan dari sinilah cerita ini dimulai," cerita dia.

Dia berangkat pukul 3 subuh dari rumah kontrakan di Kota Chiayi, Taiwan menggunakan sebuah mobil yang khusus disewa untuk mengantarkannya ke bandara. Mobil ini sebenarnya adalah semacam taksi tidak resmi milik seorang kenalan dari teman. Perjalanan dari Kota Chiayi menuju bandara internasional Taoyuan memakan waktu kurang lebih 3 jam. 

Baca juga: Ditinggal Kabur Ibu, Siswi SD Yatim Merawat Sang Bibi Disabilitas Netra

Pukul 6 pagi sampai di bandara dan langsung menuju tempat untuk check-in. Saat check-in, dia dan keluarga diminta untuk mendownload aplikasi eHAC sebagai salah satu syarat agar bisa masuk wilayah Indonesia di masa pandemi. eHAC bisa diisi jika sudah check-in karena salah satu poin yang harus diisi adalah nomor kursi di pesawatnya. Jika bepergian dengan keluarga atau teman, cukup salah satu saja yang mengisi eHAC tersebut. Satu eHAC bisa untuk beberapa orang sekaligus.

Tak hanya itu, sesuai peraturan terbaru dari Satgas Covid-19 Indonesia, semua orang yang masuk ke wilayah Indonesia wajib menyertakan hasil tes PCR yang berlaku 3 hari tanpa terkecuali. Dia mengaku sempat kebingungan dengan aturan ini, karena menurut aturan ini bayi umur berapapun juga wajib di PCR. Ini berbeda dengan aturan-aturan sebelumnya dimana bayi di bawah 2 tahun tidak wajib di PCR. 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement