Pemerintah Selidiki Larangan Bernyanyi Bagi Anak Perempuan

Susi Susanti, Koran SI · Senin 15 Maret 2021 10:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 15 18 2377840 pemerintah-selidiki-larangan-bernyanyi-bagi-anak-perempuan-1c2oajFFNP.jpg Pemerintah selidiki larangan bernyanyi bagi anak perempuan (Foto: EPA)

AFGHANISTAN - Kementerian Pendidikan Afghanistan sedang menyelidiki pernyataan pejabat pendidikan di ibu kota, Kabul, yang melarang anak perempuan berusia lebih dari 12 tahun bernyanyi di depan umum.

Pernyataan pejabat ini melarang gadis berusia 12 tahun ke atas untuk bernyanyi di acara sekolah, dan juga melarang gadis yang lebih tua memiliki guru musik pria.

Kementerian pendidikan mengatakan akan menilai dan mungkin mengambil tindakan disipliner terhadap pejabat tersebut.

Larangan yang diumumkan beberapa hari lalu, memicu kritik di media sosial. Tokoh sastra dan juru kampanye mengatakan itu adalah langkah mundur dalam hak pendidikan.

Larangan itu dikritik secara luas di media sosial. Para gadis membagikan klip diri mereka yang bernyanyi menggunakan tagar #IAmMySong.

(Baca juga: Bocah Muslim Dipukuli Saat Minum di Kuil Hindu, Polisi Tangkap Pelaku

"Maafkan kami Tuhan, manusia bisa begitu kejam bahkan mereka melihat seorang anak dari perspektif berbasis gender," tweet penulis dan penyair Shafiqa Khpalwak, salah satu penulis wanita paling terkenal di negara itu.

Beberapa wanita membandingkannya dengan kehidupan di bawah Taliban - yang digulingkan pada 2001 - ketika anak perempuan dilarang pergi ke sekolah dan sebagian besar musik dilarang.

"Ini adalah Talibanisasi dari dalam republik," Sima Samar, seorang aktivis hak asasi manusia Afghanistan selama hampir 40 tahun, seperti dikutip oleh kantor berita Associated Press (AP).

Perselisihan itu muncul di tengah kekhawatiran tentang konsekuensi dari kemungkinan kesepakatan damai dengan Taliban.

(Baca juga: Dewan Muslim Kecam Rencana Larangan Burqa)

Di bawah Taliban, anak perempuan tidak diberi pendidikan dan sebagian besar musik dilarang.

Pemerintah Afghanistan saat ini berada di bawah tekanan untuk membuat kesepakatan damai dengan Taliban, dan meskipun banyak wanita Afghanistan ingin diakhirinya kekerasan, mereka khawatir tentang hak-hak mereka di masa depan.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini