Pada tahun 2018, pemerintah negara bagian Rajasthan mendirikan pusat pelatihan di sini untuk mendidik masyarakat tentang "Model Piplantri". Para insinyur, pejabat, dan penduduk dari distrik lain yang mau belajar meniru model pemanenan air dan penanaman pohon Piplantri dari wilayah sekitar berdatangan ke pusat pelatihan itu.
Sekitar 50 hingga 60 pengunjung datang ke Piplantri selama beberapa hari. kebanyakan dari mereka datang untuk menghadiri lokakarya di pusat pelatihan. Piplantri kini bahkan memiliki rumah-rumah yang diperuntukkan untuk melayani para tamu.
Menurut Gupta, kesuksesan Piplantri tercapai karena membuat kesinambungan mendalam antara lingkungan dengan masyarakat. "Ketika Anda mengaitkannya dengan tradisi dan membuat pohon seperti anggota keluarga, itu masuk akal secara emosional," katanya.
Hubungan desa dengan alam sangat jelas.
Sore itu, warga lokal, Prem Shankar Salvi, muncul bersama istri dan putrinya yang berusia satu tahun, Ruchika, ke tengah desa dengan membawa kue. Salvi ingin merayakan ulang tahunnya di tengah kehijauan.
"Melakukan dengan cara ini adalah istimewa," katanya. "Kami berpikir, mengapa tidak melakukan sesuatu yang berbeda?"
Ketika Ruchika lahir, Salvi dan istrinya menanam pohon, menandatangani surat pernyataan dan membuka rekening deposito untuknya.
"Biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan setelah dia besar nanti," kata Salvi. "Saat dia lahir, sepertinya dewi Lakshmi datang ke rumah kami."
Salvi akan mendaftarkan putrinya ke sekolah yang gratis di tingkat dasar. Faktanya, di salah satu dari sembilan sekolah desa yang dikelola pemerintah di sini, perbandingan pendaftaran siswa perempuan dan laki-laki adalah 33 banding 19.
"Tidak ada yang putus sekolah, tak peduli apa kasta atau latar belakang mereka," kata Giridharilal Jatia, seorang kepala sekolah setempat.
"Selama 10 tahun terakhir, kami telah melihat ini. Sebelumnya, lebih sedikit anak perempuan yang bersekolah," ujarnya.
Yana Paliwal (tidak ada hubungannya dengan Nikita atau Shyam Sunder), yang baru berusia dua tahun, belum memahami bahwa pohon telah ditanam atas namanya atau bahwa orang tuanya menaruh harapan besar padanya.
Ibunya, Sangeeta Paliwal, yang pindah ke Piplantri setelah menikah 12 tahun yang lalu, memiliki akses ke pendidikan yang terbatas. Meski begitu ia bertekad bahwa putrinya harus belajar dan baru memikirkan pernikahan setelahnya.Sangeeta biasa menutupi wajahnya karena kesopanan, mengikuti praktik konservatif ghunghat di desanya sendiri, tapi tidak di Piplantri.
Di desa ini, dia bisa menyelesaikan gelar kuliahnya melalui pembelajaran jarak jauh. Dia bisa mengemudikan mobil, dan dia bahkan sudah mulai bekerja. "Banyak hal telah berubah," kata Sangeeta.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.