Balas Dendam, Anak Perintahkan Eksekusi Mati Bagi Ibunya Sendiri

Susi Susanti, Koran SI · Rabu 24 Maret 2021 14:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 24 18 2383257 balas-dendam-anak-perintahkan-eksekusi-mati-bagi-ibunya-sendiri-fulKsA8Pcy.jpg Ilustrasi eksekusi mati (Foto: Okezone)

IRAN - Seorang wanita dilaporkan telah dieksekusi oleh putrinya sendiri di Iran di bawah undang-undang (UUhukuman mati yang memungkinkan anak-anak membalas dendam pada orang tua mereka atas nama "keadilan".

Maryam Karimi dan ayahnya Ebrahim membunuh suaminya, yang melakukan kekerasan dan pelecehan terhadapnya tetapi tidak setuju untuk bercerai, 13 tahun yang lalu.

Pihak berwenang menangkap dan mendakwanya dengan tuduhan 'pembunuhan yang dimediasi sebelumnya'. Dia pun harus menghabiskan lebih dari satu dekade di balik jeruji besi sampai eksekusi minggu lalu.

Putri Maryam, yang berusia enam tahun pada saat pembunuhan itu, menolak untuk mengampuni ibunya sehingga diizinkan untuk mengambil bagian dalam eksekusi pada 13 Maret lalu.

Dia dieksekusi setelah didakwa dengan 'retribution in kind', yang dikenal di Iran sebagai 'Qisas', atau 'mata ganti mata' di Republik Islam.

(Baca juga: Kerap Diberi Makan Junk Food Orang yang Lewat, Monyet Ini Alami Obesitas)

Sementara itu, ayah Maryam, Ebrahim, dibawa oleh pihak berwenang untuk melihat jenazahnya digantung, tetapi tidak dikonfirmasi mengapa pihak berwenang tidak memberinya hukuman mati.

“Empat dekade cuci otak di sekolah, hukuman ekstrim dalam masyarakat Iran dan rezim patriarki berarti bahwa putri Maryam dibesarkan untuk memastikan bahwa mengeksekusi ibunya adalah kemenangan bagi seorang pria, baik itu untuk ayahnya atau untuk rezim yang menindas,” terang aktivis dan jurnalis Aram Bolandpaz tentang kasus ini.

“Qisas tidak manusiawi, buas, dan kejam, dimanapun di dunia ini. Untuk negara yang memprioritaskan hak-hak bayi yang belum lahir dan menekankan bahwa hidup adalah fenomena yang paling berharga, bagaimana Republik Islam bisa merebut kehidupan dari seseorang dengan cara yang begitu mengerikan,” lanjutnya.

(Baca juga: Dianggap Rasis, Kepala Sekolah Kulit Putih di Sekolah Katolik Diberhentikan)

Qisas mengharuskan keluarga terdekat korban untuk hadir saat eksekusi dan mereka secara aktif didorong untuk melakukan eksekusi sendiri.

“Undang-undang Republik Islam membuat seorang gadis yang ayahnya dibunuh ketika dia masih kecil, menjadi algojo ibunya sendiri. Republik Islam adalah pendukung utama kekerasan dalam masyarakat Iran saat ini,” ungkap Direktur Hak Asasi Manusia (HAM) Iran Mahmood Amiry-Moghaddam.

Dia mengatakn penggunaan Qisas yang terus menerus dan prevalensi hukuman mati di Iran juga memicu seruan dari Ham Iran untuk menghentikan proses karena 'mendorong kekerasan dan kekejaman lebih lanjut di seluruh Republik Islam'.

Diketahui, hukuman mati Qisas telah dipertahankan untuk kejahatan pembunuhan sebagai bagian dari KUHP Islam Iran 2019.

Hukuman mati qisas juga diterapkan untuk pelaku remaja. Sedangkan hukum Syariah menetapkan usia tanggung jawab pidana untuk anak perempuan menjadi 9 tahun, dan 15 tahun untuk anak laki-laki.

Pada 2019, sebanyak 225 eksekusi dilakukan sebagai qisas. 68 eksekusi diantaranya dilakukan di satu penjara saja, dan 4 dari eksekusi ini melibatkan individu yang masih remaja pada saat pelanggaran.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini