Kisah Mendebarkan Jurnalis Perang Berkelana Keliling Dunia 12.000 Km dengan Berjalan Kaki

Agregasi BBC Indonesia, · Kamis 08 April 2021 06:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 08 18 2391161 kisah-mendebarkan-jurnalis-perang-berkelana-keliling-dunia-12-000-km-dengan-berjalan-kaki-ajeIkIXqiS.jpeg Paul Salopek. (Foto: National Geographic)

Ini mendorong Anda untuk berpikir sebelum menulis. Saya menyebutnya "jurnalisme lambat", tapi itu hanyalah bentuk penemuan kita yang paling tua.

Apa yang membuat saya terus berjalan? Kisah-kisah yang saya temui. Mereka tak pernah berakhir dan tidak ada yang menyamainya. Masing-masing memunculkan pertanyaan baru.

T: Apa yang membuat Anda memutuskan untuk menelusuri jalur kuno migrasi manusia? 

Saya seorang ilmuwan otodidak. Saya mempelajari genetika, arkeologi, dan asal usul manusia. Saya selalu terpesona betapa eratnya hubungan populasi manusia secara global. Kita yang tinggal di luar Afrika pada dasarnya hanya berpencar dari benua induk, secara biologis.

Dan saya juga tertarik dengan betapa sangat sedikit yang kita ketahui tentang manusia pertaa di dunia. Sejauh ini, itu adalah kisah pencapaian 300.000 sejarah spesies kita - mengeksplorasi seluruh planet, sebagian besar dengan berjalan kaki. Perjalanan itulah yang menjadikan kita makhluk pemecah masalah seperti sekarang ini.

Kita semua entah bagaimana berkontribusi pada pencapaian itu, karena nenek moyang yang sama pasti telah berjalan di bagian dari jalan setapak itu, mengikuti rute penyebaran kuno yang berfungsi sebagai narasi pemersatu melalui jalur migrasi. 

Ini adalah pengingat bahwa [penyair Inggris] Donne benar. Nasib kita saling terkait, mungkin sekarang lebih dari sebelumnya. Anda bodoh jika yakin bahwa apapun yang terjadi di Amerika atau Myanmar tak menyentuh perasaan Anda. 

T: Setelah apa yang terjadi, apakah gerakan Black Lives Matter berdampak pada perjalanan Anda dan pada apa yang Anda tunjukkan melalui perjalanan Anda?

Saya seorang pengembara yang sangat beruntung. Saya laki-laki, berkulit putih dan didukung institusi yang kuat seperti National Geographic Society. Saya menambahkan bahwa saya membawa paspor yang layak, tetapi itu tak berlaku lagi, bukan?

Bagaimanapun saya berjalan di Bumi karena pilihan, bukan karena kebutuhan, seperti yang dilakukan sekitar satu miliar migran yang melakukan migrasi didunia saat ini - pengungsi perang, migrasi karena tuntutan ekonomi, dan mereka yang melarikan diri dari kehancuran akibat krisis iklim. 

Saya mencoba yang terbaik untuk menyampaikan posisi ini dalam kisah saya. Sebenarnya sulit untuk melakukannya. Berjalan adalah pengalaman yang membuat Anda rendah hati. Tapi itu juga kekuatan utamanya. Pikirkan tentang itu. 

Ketika Anda bergerak terus menerus, tahun demi tahun, dengan berjalan kaki melintasi negeri yang asing, sulit untuk mengesampingkan orang lain yang tak Anda kenal yang Anda temui, karena sering kali, hidup Anda bergantung pada mereka. Saya sudah meninggal jika tanpa belas kasihan orang asing.

Anda segera mengetahui bahwa orang-orang di mana pun memperhatikan 95% hal yang sama. Kita membicarakan hal yang sama. Cinta dan ketidakhadirannya. Nasib anak-anak kita. Kebencian terhadap atasan kita. Dan, iklim yang semakin tidak menyenangkan.

Apa yang terjadi dengan Black Lives Matter, menurut saya, melibatkan banyak perhitungan yang sudah lama tertunda tentang sistem kasta di Amerika dan ketidakadilan yang telah langgeng. Tapi ini juga merupakan kesempatan untuk mendengar. Maksud saya benar-benar mendengarkan. Itu adalah kekuatan yang langka.

Inilah yang saya katakan kepada siswa yang mengikuti perjalanan saya. Saya mendengarkan sebanyak saya berjalan melintasi dunia. Itu yang dilakukan semua pendongeng yang baik, tentu saja. Tetapi menurut saya itu adalah bentuk doa. Mendengarkan adalah aksi reklamasi manusia. 

T: Anda menghabiskan waktu berbulan-bulan di India berkelana di sepanjang sungai-sungai besar di negara itu, seperti Gangga dan Brahmaputra. Apa yang Anda pelajari tentang negara tersebut dan rakyatnya?

Rute di India berlangsung selama 16 bulan dan memiliki jarak hampir 4.000 km melintasa bagian utara negeri itu. Apa yang Anda pelajari dengan berjalan kaki adalah bahwa setiap desa adalah kosmos, dengan kepribadian dan persoalannya sendiri-sendiri.

Fokus dalam liputan saya adalah air. India adalah sebuah sungai. Setiap sungai adalah dewa. Namun negara itu sedang mengalami bencana yang sunyi - kekurangan air, polusi yang dampaknya mengejutkan bagi 600 juta orang.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini