Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Bayi di Brasil Meninggal Dunia Akibat Covid-19 Kian Melonjak, Kok Bisa?

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Jum'at, 16 April 2021 |05:38 WIB
Bayi di Brasil Meninggal Dunia Akibat Covid-19 Kian Melonjak, <i>Kok</i> Bisa?
Jessika Ricarte (Foto: BBC)
A
A
A

Dokter memberi tahu Jessika bahwa detak jantung dan kadar oksigen Lucas tiba-tiba turun, dan dia meninggal pagi itu.

Jessika merasa yakin bahwa jika Lucas diberi tes Covid-19 ketika dia memintanya pada awal Mei, dia akan selamat.

"Penting bagi dokter, meskipun mereka yakin itu bukan Covid, melakukan tes untuk mengeliminasi kemungkinan," katanya.

"Seorang bayi tidak mengatakan apa yang dia rasakan, jadi kami bergantung pada tes."

Jessika percaya, keterlambatan penanganan yang tepat membuat kondisi Lucas semakin serius. "Lucas mengalami beberapa peradangan, 70% paru-parunya rusak, detak jantungnya meningkat 40%. Itu situasi yang bisa dihindari."

Dr. Monte, yang merawat Lucas, setuju. Dia mengatakan bahwa meskipun MIS tidak dapat dicegah, pengobatan akan jauh lebih sukses jika kondisi tersebut didiagnosis dan diobati lebih awal.

"Semakin awal dia menerima perawatan khusus, semakin baik," katanya. "Dia tiba di rumah sakit dalam keadaan kritis. Saya yakin hasilnya akan berbeda jika kita bisa merawatnya lebih awal."

Jessika sekarang ingin berbagi cerita Lucas untuk membantu orang lain yang mungkin melewatkan gejala kritis.

"Setiap anak yang saya kenal diselamatkan oleh suatu peringatan dan ibunya berkata: 'Saya melihat tulisan Anda, saya membawa putra saya ke rumah sakit dan sekarang dia sudah rumah.' Seolah-olah itu adalah Lucas," katanya.

"Saya telah melakukan untuk orang-orang ini apa yang saya harap mereka lakukan untuk saya. Jika saya memiliki informasi [ketika Lucas masih hidup], saya akan lebih berhati-hati."

Ada kesalahpahaman bahwa anak-anak tidak berisiko terkena Covid-19, kata Dr Fatima Marinho, yang juga penasihat senior di LSM kesehatan internasional Vital Strategies. Penelitian Marinho menemukan bahwa sangat banyak anak dan bayi yang terkena virus tersebut.

Antara Februari 2020 dan 15 Maret 2021, Covid-19 menewaskan sedikitnya 852 anak-anak Brasil hingga usia sembilan tahun, termasuk 518 bayi di bawah usia satu tahun, menurut angka dari Kementerian Kesehatan Brasil. Namun Dr. Marinho memperkirakan bahwa jumlah sebenarnya lebih dari dua kali lipat, mengingat ada banyak kasus yang tidak terlaporkan karena kurangnya jumlah tes.

Dr Marinho menghitung ekses kematian akibat sindrom pernapasan akut yang tidak dipastikan selama pandemi, dan mendapati bahwa ada 10 kali lebih banyak kematian akibat sindrom pernapasan yang tidak dapat dijelaskan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dengan menjumlahkan angka-angka tersebut, dia memperkirakan virus corona sebenarnya menewaskan 2.060 anak di bawah sembilan tahun, termasuk 1.302 bayi.

Mengapa ini terjadi?

Para pakar mengatakan banyaknya kasus Covid-19 di Brasil - terbanyak kedua di dunia - meningkatkan kemungkinan bayi dan anak kecil di negara itu terkena.

"Tentu saja, semakin banyak kasus yang muncul dan, akibatnya, semakin banyak yang dirawat di rumah sakit, semakin besar jumlah kematian di semua kelompok umur, termasuk anak-anak.

"Akan tetapi jika pandemi terkendali, skenario ini jelas bisa diminimalkan," kata Renato Kfouri, presiden Departemen Saintifik Imunisasi di Perhimpunan Dokter Anak Brasil.

Tingkat infeksi yang begitu tinggi telah membuat sistem kesehatan Brasil kewalahan. Di seluruh negeri, suplai oksigen menipis, terjadi kekurangan obat-obatan dasar, dan di banyak ICU di seluruh negeri sudah tidak ada lagi tempat tidur yang kosong.

Presiden Brasil Jair Bolsonaro terus menentang lockdown, dan tingkat infeksi didorong oleh varian P.1 yang muncul di Manaus, di Brasil utara, tahun lalu, dan diduga jauh lebih menular. Jumlah orang meninggal bulan lalu dua kali lipat dari bulan lainnya selama pandemi, dan trennya terus meningkat.

Masalah lain yang mendorong tingkat Covid-19 pada anak-anak adalah kurangnya tes.

Marinho mengatakan bahwa untuk anak-anak seringkali diagnosis Covid datang terlambat, padahal mereka sudah sakit parah.

"Kami punya masalah serius dalam deteksi kasus. Kami tidak punya cukup tes untuk masyarakat umum, apalagi untuk anak-anak. Karena ada keterlambatan dalam diagnosis, ada keterlambatan dalam perawatan anak," katanya.

Ini bukan hanya karena kapasitas pengujian yang tidak memadai, tetapi juga karena lebih mudah untuk melewatkan, atau salah mendiagnosis, gejala pada anak-anak yang menderita Covid-19 karena penyakit ini cenderung menimbulkan gejala berbeda pada anak muda.

"Seorang anak lebih banyak mengalami diare, sakit perut, dan nyeri dada, daripada gambaran klasik Covid-19. Karena ada keterlambatan diagnosis, ketika anak tiba di rumah sakit mereka sudah dalam kondisi serius dan akhirnya bisa mengalami komplikasi - dan meninggal," ujarnya.

Tetapi persoalan ini juga tentang kemiskinan dan akses ke perawatan kesehatan.

Sebuah studi observasi terhadap 5.857 pasien Covid-19 di bawah usia 20 tahun, yang dilakukan oleh tim dokter anak di Brasil dan dipimpin Braian Sousa dari sekolah kedokteran São Paolo, mengidentifikasi komorbiditas dan kerentanan sosial ekonomi sebagai faktor risiko untuk kondisi terparah Covid-19 pada anak-anak.

Marinho setuju dua hal tersebut adalah faktor penting. "Yang paling rentan adalah anak-anak kulit hitam, dan mereka dari keluarga yang sangat miskin, karena mereka paling sulit mendapatkan bantuan. Mereka adalah anak-anak yang paling berisiko meninggal."

Dia mengatakan itu karena kondisi perumahan yang padat tidak memungkinkan untuk menjaga jarak saat terinfeksi, dan karena komunitas miskin tidak memiliki akses ke ICU setempat.

Anak-anak ini juga berisiko mengalami malnutrisi, yang "buruk bagi respons kekebalan", kata Marinho. Ketika subsidi Covid-19 dihentikan, jutaan orang kembali jatuh ke dalam kemiskinan. "Jumlah orang di bawah garis kemiskinan dari 7 juta meningkat jadi 20 juta dalam satu tahun. Jadi banyak orang juga kelaparan. Semua ini berdampak pada kematian."

Sousa mengatakan studinya mengidentifikasi kelompok risiko tertentu di antara anak-anak yang harus diprioritaskan untuk vaksinasi. Saat ini, belum ada vaksin yang tersedia untuk anak di bawah usia 16 tahun.

Kunjungan kerabat ke anak-anak di ICU telah dibatasi sejak awal pandemi, karena kekhawatiran akan infeksi.

Dr Cinara Carneiro, seorang dokter ICU di Rumah Sakit Anak Albert Sabin, mengatakan hal ini sangat menantang, tidak hanya karena orang tua adalah penghibur bagi anak-anak mereka, tetapi juga karena mereka dapat membantu secara klinis - mereka dapat mengetahui kapan anak mereka merasakan sakit atau tekanan psikologis dan saat mereka lebih membutuhkan ketenangan daripada pengobatan.

Dan dia mengatakan ketika orang tua mendengar kondisi anak mereka memburuk, dan mereka tidak hadir untuk menyaksikannya, itu akan memperburuk trauma mereka.

"Sungguh menyakitkan ketika melihat seorang anak meninggal tanpa melihat orang tuanya," kata Dr Carneiro.

Dalam upaya meningkatkan komunikasi antara orang tua dan anak-anak mereka, para staf di rumah sakit Albert Sabin urunan untuk membeli ponsel dan tablet guna memfasilitasi video call.

Dr Carneiro mengatakan ini sangat membantu. "Kami telah melakukan lebih dari 100 video call antara anggota keluarga dan pasien. Kontak ini telah sangat mengurangi stres."

Para ilmuwan menekankan bahwa risiko kematian pada kelompok usia ini masih "sangat rendah" - angka saat ini menunjukkan hanya 0,58% dari 345.287 kematian akibat Covid di Brasil sejauh ini terjadi pada anak usia 0-9 tahun - tetapi itu saja jumlahnya lebih dari 2000 anak.

"Jumlahnya sangat mengerikan," kata Dr Carneiro.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement