Israel Pekerjakan Mitra Seks untuk Bantu Para Serdadu yang Cedera

Agregasi BBC Indonesia, · Sabtu 17 April 2021 18:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 17 18 2396356 israel-pekerjakan-mitra-seks-untuk-bantu-para-serdadu-yang-cedera-cqOEhp6Arw.jpg Ilustrasi (Foto: BBC Indonesia)

DI BANYAK negara, terapi yang melibatkan orang bayaran untuk menjadi mitra seks seorang pasien dianggap kontroversial dan jarang diterapkan. Akan tetapi, terapi semacam itu tersedia di Israel. Bahkan, pemerintah Israel membiayai terapi tersebut untuk membantu para serdadu yang cedera parah dan memerlukan rehabilitasi seksual.

Ruang konsultasi milik juru terapi seksual Ronit Aloni tidak tampak seperti yang mungkin Anda bayangkan. Ruangan yang terletak di Tel Aviv itu dilengkapi sofa kecil untuk para kliennya serta beragam diagram alat kelamin pria dan perempuan, yang dia gunakan sebagai bahan penyuluhan. Namun, apa yang terjadi di ruang sebelah, dengan ranjang sofa dan lilin-lilin, lebih mengejutkan.

Baca Juga:  Israel Larang Azan di Masjid Al Aqsa, Yordania Protes Keras

Di ruangan inilah para mitra bayaran membantu klien-klien Aloni untuk menjalin hubungan dan cara berhubungan seks. "Ruangan tersebut tidak terlihat seperti kamar hotel — lebih mirip kamar rumah, atau apartemen," kata Aloni.

Terdapat sebuah ranjang, pemutar CD, kamar mandi, dan beberapa karya seni erotis yang menghiasi dinding.

"Terapi seks, dalam banyak hal, adalah terapi pasangan dan jika seseorang tidak punya pasangan maka dia tidak bisa menuntaskan proses itu. Mitra seks, apakah itu pria atau perempuan, ada untuk memerankan pasangan."

Meskipun banyak kalangan mengkritik terapi itu seperti prostitusi, di Israel hal tersebut diterima. Bahkan, pemerintah membiayai terapi itu untuk membantu para serdadu yang cedera dan mengalami gangguan seksual.

"Manusia perlu merasa mereka bisa memuaskan orang lain dan mereka bisa mendapat kepuasan dari orang lain," kata Aloni, perempuan bergelar doktor di bidang rehabilitasi seks.

"Orang-orang berdatangan untuk sesi terapi. Mereka tidak datang mencari kepuasan. Sama sekali tidak mirip dengan prostitusi," tambahnya dengan tegas.

"Lagipula, 85% dari seluruh sesi adalah [mengenai] keintiman, menyentuh, memberi dan menerima, berkomunikasi - ini tentang belajar menjadi manusia dan bagaimana berhubungan dengan orang lain. Ketika seseorang bisa berhubungan seksual, itulah akhir dari proses."

Baca Juga:  Fasilitas Nuklirnya Diserang, Iran Sebut Tindakan Terorisme

A, sebagaimana dia ingin disebut, adalah salah satu serdadu yang pertama kali dibiayai Kementerian Pertahanan untuk menerima terapi mitra seks setelah mengalami insiden hampir 30 tahun lalu, saat dia berstatus tentara cadangan.

Akibat jatuh dari ketinggian, A lumpuh dari pinggang ke bawah sehingga tidak bisa berhubungan seks seperti sebelum jatuh.

"Saat saya cedera, saya membuat daftar hal-hal yang ingin dilakukan. Saya harus bisa mandi sendiri, saya harus makan dan berpakaian sendiri, mengemudi sendiri, serta berhubungan seks secara mandiri."

A telah menikah dan memiliki anak. namun istrinya merasa tidak nyaman berbicara mengenai seks kepada dokter dan terapis. Sehingga dia mendorong A untuk mencari bantuan dari Aloni.

A menjelaskan bagaimana Aloni memberikan arahan dan masukan kepadanya dan kepada mitra seks-nya, sebelum dan setelah setiap sesi terapi.

"Saya mulai dari awal: sentuh ini, sentuh bagian sana. Dari situ membangun langkah demi langkah sampai tahap akhir mencapai orgasme," jelas A.

A berpendapat bahwa wajar bagi negara membayar sesi terapi mingguannya, seperti yang juga dilakukan negara dalam merehabilitasi bagian dirinya yang lain. Sekadar gambaran, biaya terapi seks selama tiga bulan adalah US$5.400 (Rp78,5 juta).

"Mendapatkan mitra seks bukanlah tujuan hidup saya. Saya cedera dan ingin merehabilitas semua aspek hidup saya," kata A, yang duduk di kursi roda.

"Saya tidak jatuh cinta pada mitra seks saya. Saya sudah menikah. [Terapi] ini hanyalah mempelajari teknik bagaimana mencapai gol. Saya memandangnya sebagai hal logis yang harus saya lakukan."

A menyalahkan pemahaman Barat soal seks atas pandangan miring mengenai terapi mitra seks.

"Seks adalah bagian dari hidup saya, itu adalah kepuasan dalam hidup. Bukannya saya menjadi playboy, bukan itu," kata A.

Orang-orang dari berbagai usia dan latar belakang secara kontinyu mengunjungi Aloni secara diam-diam di kliniknya.

Banyak yang berupaya keras mempunyai hubungan romantis akibat masalah kecemasan, keintiman, atau trauma pada pelecehan seksual. Ada pula yang mengidap gangguan kesehatan fisik dan mental.

Sejak awal kariernya, Aloni secara khusus fokus pada kalangan difabel. Beberapa keluarga dekatnya mengalami disabilitas, termasuk ayahnya yang seorang pilot. Sang ayah mengalami cedera otak setelah pesawatnya jatuh.

"Sepanjang hidup, saya selalu berada di dekat orang yang harus mengatasi disabilitas dalam wujud berbeda. Semua orang ini direhabilitasi dengan sangat baik sehingga saya punya pendekatan yang sangat optimistis."

Saat belajar di New York, Aloni menjadi dekat dengan seorang mitra seks yang bekerja bersama kalangan difabel.

Ketika dia kembali ke Israel pada akhir 1980-an, dia mendapat persetujuan dari beberapa rabbi terkemuka untuk menggunakan jasa mitra seks. Dia lantas mulai memberikan terapi di pusat rehabilitasi yang berada di sebuah komunitas keagamaan.

Para rabi itu punya satu aturan - tidak boleh ada mitra seks yang sudah menikah. Aloni pun mengikuti aturan tersebut.

Seiring waktu, dia mendapat dukungan dari pemerintah Israel.

Dari sekitar 1.000 orang yang menjalani terapi bersama mitra seks di kliniknya, puluhan orang adalah veteran serdadu yang cedera - banyak yang mengalami trauma otak atau cedera saraf punggung, yang perawatannya dibiayai negara.

Aloni meyakini bahwa budaya Israel yang berorientasi pada keluarga dan sikap negara terhadap militer memberi angin segar pada dirinya.

Pada usia 18 tahun, kebanyakan warga Israel dipanggil untuk menjalani dinas militer dan bisa berlanjut menjadi tentara cadangan sampai usia paruh baya.

"Kami terus berada dalam situasi perang sejak negara ini didirikan," katanya.

"Semua di Israel mengenal orang yang pernah cedera atau tewas, dan semua punya pendekatan positif untuk mengompensasi orang-orang ini. Kami merasa berkewajiban pada mereka."

Seorang pria jangkung sekitar usia 40 tahun duduk di taman dengan sehelai selimut menutupi pangkuannnya. Dia adalah mantan tentara cadangan Israel yang hidupnya hancur akibat Perang Lebanon pada 2006.

David - bukan nama sebenarnya - tidak bisa bicara atau bergerak.

Dia hanya bisa berkomunikasi dengan bantuan terapis okupasi-nya. Jika sang terapis menopang lengan David dan memegang bolpoin pada tangannya, David bisa menulis pada papan tulis.

"Saya hanyalah orang biasa. Saya baru kembali dari perjalanan ke Timur Jauh. Saya dulu belajar di universitas dan bekerja sebagai bartender. Saya dulu suka olahraga dan berkumpul bersama teman-teman," kata David.

Saat unit militernya diserang, David mengalami cedera serius pada kaki dan kepalanya. Selama tiga tahun dia habiskan di rumah sakit.

Dalam periode itu, dia mengaku kehilangan keinginan hidup.

Keadaan mulai berubah setelah terapis okupasi-nya mengusulkan agar David menjalani terapi dengan mitra seks.

"Saat saya mulai terapi mitra seks, saya merasa seperti pecundang. Dalam terapi, saya mulai merasa seperti seorang pria, muda dan tampan," ujar David.

"Itu adalah pertama kalinya saya merasa hal tersebut sejak cedera. Terapi itu memberikan saya kekuatan dan harapan."

David mengetahui bahwa hubungan intim yang dia mulai akan berakhir. Lantas apakah ada risiko dia terluka secara emosional?

"Awalnya, sulit bagi saya karena saya menginginkan mitra seks tersebut untuk diri saya. Namun saya menyadari bahwa meskipun kami bukan mitra lagi, kami masih teman baik. Dan itu sepadan. Terapi tersebut membantu saya membangun diri saya kembali."

Meskipun dalam aturan disebutkan bahwa mitra seks dan klien tidak bisa saling kontak di luar sesi terapi, David dan mitra seksnya (seorang perempuan dengan nama samaran Seraphina) diberikan izin khusus oleh klinik Dr Aloni untuk tetap berhubungan meski sesi mereka sudah berakhir.

Sejak menjalani terapi, orang-orang dekat David mengatakan melihat perubahan dalam dirinya. Dia fokus pada rencana masa depannya.

Walau berhubungan seks tetap sangat sulit, dia mulai lebih bersosialisasi dan pergi dengan bantuan perawat sebelum pandemi Covid-19 melanda.

Seraphina telah bekerja sebagai mitra seks bersama Ronit Aloni selama lebih dari 10 tahun. Dia bertubuh langsing dengan rambut pendek. Sikapnya hangat kepada orang lain dan lancar dalam berkomunikasi.

Baru-baru ini dia menerbitkan sebuah buku berjudul More than a Sex Surrogate mengenai pengalamannya. Menurut pihak penerbit, buku itu menggambarkan "memoar unik mengenai keintiman, rahasia, dan cara kita mencintai".

Seperti semua mitra seks di klinik Dr Aloni, Seraphina punya pekerjaan lain di bidang seni. Dia mengaku mengambil peran sebagai mitra seks demi tujuan mulia.

"Semua orang itu menderita di bawah [permukaan] dan punya rahasia tersembunyi yang mereka bawa ke mana-mana. Saya benar-benar ingin membantu karena saya tahu saya punya kemampuannya," jelasnya.

"Saya tidak masalah menggunakan seksualitas atau tubuh saya atau sentuhan dalam proses terapi. Dan topiknya menarik buat saya, seksualitas menarik buat saya."

Seraphina menggambarkan peran dirinya "seperti pemandu wisata". Menurutnya, dirinya membawa para klien dalam perjalanan yang dia tahu jalannya.

Seraphina telah bekerja sama dengan sekitar 40 klien, termasuk dengan seorang serdadu lain.

Namun, menurutnya, tingkat keparahan cedera David menimbulkan tantangan unik. Dia belajar membantu David menulis sehingga mereka bisa berbincang empat mata.

"David adalah kasus paling ekstrem. Ibaratnya seperti berjalan kaki di padang pasir—Anda tidak tahu arahnya," kata Seraphina.

"Saya harus sangat, sangat kreatif karena dia tidak bisa bergerak sama sekali. Saya menggerakkan badannya dengan membayangkan gerakannya jika dia bisa bergerak. Dia merasakan tubuhnya sendiri, tapi tidak bisa menggerakkannya.

"David selalu berkata: 'Dia selalu tahu dengan pasti apa yang saya mau, meskipun saya tidak mengatakan apa-apa'. Itu sungguh sebuah sanjungan."

Dalam bekerja sebagai mitra seks, Seraphina punya kekasih, yang menurutnya, menerima pekerjaannya. Namun, dia tahu perempuan dam pria lain berhenti berperan sebagai mitra seks demi pasangan pribadi atau karena ingin menikah.

Menurutnya, berpisah dengan klien setelah mereka sangat akrab perlu dilakukan tapi bisa jadi sulit.

"Seperti liburan. Kita punya kesempatan untuk menjalin hubungan yang menyenangkan untuk waktu singkat. Kita terima atau jangan?

"Perpisahan [dengan klien] adalah perpisahan paling menyenangkan yang bisa dialami siapapun. Itu demi tujuan baik. Kadang kala saya bisa menangis, tapi pada saat bersamaan saya bisa sangat bahagia."

"Saat saya mendengar orang itu menjalin hubungan asmara atau punya anak atau menikah, bukan main gembiranya saya dan bersyukurnya saya atas apa yang saya lakukan."

Short presentational grey line

Sudah larut malam dan Ronit Aloni masih bekerja, memberikan kuliah online kepada sekelompok seksolog dari Eropa hingga Amerika Selatan.

Dia menceritakan sejumlah kasus dan mengutip sejumlah kajian yang menyebut mitra seks lebih efektif ketimbang terapi psikologi klasik dalam mengatasi masalah seksual.

"Ini paling menarik, terapis-terapis yang pernah bekerja dengan mitra seks, semuanya mengatakan bakal melakukannya lagi," kata Aloni kepada mereka.

Dengan adanya operasi modern untuk membantu serdadu yang cedera parah agar bisa bertahan hidup, dia meyakini terapi mitra seks dapat diterapkan secara luas.

"Anda tidak bisa merehabilitasi seseorang tanpa merehabilitasi kepercayaan dirinya, persepsi mereka dalam menjadi seorang pria atau seorang perempuan," jelasnya.

"Anda tidak bisa mengabaikan bagian ini dalam kehidupan kita. Ini sangat penting, sungguh kuat. Ini adalah pusat kepribadian kita. Dan Anda tidak bisa hanya membicarakannya. Seksualitas adalah sesuatu yang dinamis, sesuatu yang berada antara kita dan orang lain."

Dalam pandangan Aloni, masyarakat modern telah mengembangkan sikap tidak sehat terhadap seks.

"Kita tahu bagaimana gurauan soal seksualitas. Kita tahu bagaimana mempermalukan orang, kita tahu menjadi sangat konservatif atau terlalu ekstrem soal seksualitas," paparnya.

"Hal ini tidak pernah seimbang, tidak pernah terjalin dalam kehidupan kita dalam cara yang seharusnya, dan seksualitas - adalah hidup. Inilah cara kita menghadirkan kehidupan. Ini alamiah!"

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini