Sadis, Wanita Ini Bunuh dan Potong Tubuh Korban, Dimasukkan ke Koper, Dibuang ke Hutan

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 23 April 2021 13:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 23 18 2399592 sadis-wanita-ini-bunuh-dan-potong-tubuh-korban-dimasukkan-ke-koper-dibuang-ke-hutan-havwK2v9oz.jpg Wanita ini bunuh korbannya secara sadis (Foto: PA)

INGGRIS – Seorang wanita yang tinggal di pengungsian membunuh korbannya, memotong tubuhnya dengan gergaji bundar, memasukkannya ke dalam koper dan membuangnya ke hutan di Forest of Dean.

Semua aksi ini diakui pelaku Gareeca Gordon, 28, melalui videolink dari penjara. Dia mengaku membunuh korbannya bernama Phoenix Netts, 28, dan akan dijatuhi hukuman bulan depan.

Dia ditangkap Mei lalu setelah polisi menemukannya berdiri sendirian di dekat pintu masuk tambang pada larut malam.

Di dekatnya ada dua koper besar berisi tubuh hangus dan bagian tubuh lain yang diidentifikasi oleh DNA sebagai Netts, yang dilaporkan hilang dari tempat perlindungan wanita di Birmingham.

Gordon tinggal di asrama yang sama di sebuah kamar di seberang kamar korbannya. Apa yang memotivasi pembunuhan itu - atau bagaimana hal itu dilakukan - masih belum jelas tetapi ada laporan tentang perselisihan yang timbul di antara keduanya.

Polisi menemukan jasad Netts di samping sebuah tambang dekat Coleford, Gloucestershire, di Forest of Dean, pada 12 Mei lalu.

Investigasi forensik polisi difokuskan pada asrama, pemakaman terdekat dan lokasi di Forest of Dean, 80 mil jauhnya.

(Baca juga: RS Dilalap Si Jago Merah, 13 Pasien Covid-19 di ICU Tewas)

Setelah melakukan aksi pembunuhan itu, Gordon mencoba menutupi jejaknya. Dia berpura-pura menjadi korban dan menghubungi teman serta keluarga korbannya dengan teks, email dan panggilan suara, memberikan kesan jika dia masih hidup dan pindah ke London.

Selama sidang empat menit di Pengadilan Bristol Crown kemarin, Gordon mengaku membunuh Netts antara 14 April dan 12 Mei tahun lalu.

Polisi yakin dia benar-benar meninggal pada 16 April dan dia dibunuh di properti tempat tinggal keduanya.

Pada sidang pendahuluan, pengadilan mendengar bagaimana Gordon memesan sopir taksi paruh waktu Mahesh Sorathiya, 39, melalui Gumtree untuk membawanya ke dan dari Forest of Dean di Gloucestershire sebanyak empat kali.

Gordon dijadwalkan menghadapi persidangan penuh minggu depan. Melalui sidang pengadilan terkuak pada kesempatan pertama, pada 25 April, dia meminta untuk diturunkan di tempat perkemahan.saat itu Gordon diketahui membawa dua koper. Tiga perjalanan selanjutnya dilakukan antara 10 Mei dan 12 Mei. Pada kesempatan terakhir, Gordon meminta untuk diturunkan di gerbang tambang.

(Baca juga: Rusia Tarik Pasukannya dari Perbatasan Ukraina)

Pada malam dia ditemukan oleh polisi, Sorathiya telah dihentikan oleh petugas yang menanyainya tentang keluar mengemudi di bawah larangan penguncian. Jaksa penuntut, James Ward QC, mengatakan kepada pengadilan bahwa dia dihentikan karena lokasinya terisolasi.

"[Inilah] mengapa polisi terlibat di tempat pertama dalam menghentikan mobilnya karena peraturan Covid-19. Apa yang dia lakukan di sana? Ketika polisi dipanggil kembali ... mereka menemukan wanita dengan koper itu,” terangnya.

Sorathiya awalnya dituduh membantu pelaku, tetapi semua tuduhan terhadapnya kemudian dibatalkan. Dia menegaskan bahwa dia sama sekali tidak tahu apa isi koper-koper itu dan bekerja sama sepenuhnya dengan polisi.

Pengacaranya berspekulasi di pengadilan jika pada perjalanan pertama Gordon telah membawa mayat yang dipotong-potong ke Forest of Dean dan pada perjalanan berikutnya dia kembali untuk membuangnya. Ini termasuk upaya untuk membakarnya.

“Gareeca Gordon melakukan kejahatan yang benar-benar mengerikan dan mencoba menutupi jejaknya,” terang Lesley Milner, dari Crown Prosecution Service.

“Syukurlah, penyelidikan polisi yang luar biasa dan terperinci ... menyebabkan CPS membangun kasus yang memaksa terhadap Gordon, yang mengakibatkan dia mengaku bersalah,” ujarnya.

Melalui pengadilan diketahui jika nama lengkap Gordon adalah Gareeca Conita Gordon dan dia memberikan kewarganegaraannya sebagai orang Jamaika. Tapi dia diketahui dibesarkan di London utara, bersekolah di sekolah negeri khusus perempuan.

Sementara itu, korban Netts diketahui lahir di Croydon dari orang tua Mark dan Saskia dan besar di ibukota. Netts sempat berharap menjadi paramedis, menjalani kehidupan yang bermasalah, putus kuliah dan berjuang melawan masalah narkoba dan kesehatan mental sebelum berakhir di pengungsian wanita.

Pengakuan bersalah Gordon membuat keluarga korban trauma karena harus mendengar bukti rinci tentang kematiannya. Namun kerabat mengatakan bahwa mereka sedang berjuang untuk mengatasinya.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan setelah mayatnya ditemukan, keluarga pun merasa terpukul dan kehilangan.

"Dia gadis yang manis dan manis," kata bibinya Liliana Netts.

"Aku terkejut dia meninggal dengan cara yang begitu mengerikan,” lanjutnya.

Diketahui bahwa setelah tinggal bersama bibinya di Midlands, Netts pindah ke asrama di Birmingham pada akhir 2019.

“Keluarga ini sudah cukup disiksa. Setidaknya seseorang sekarang telah mengakui kejahatan itu ... dan akan masuk penjara karenanya,” terang bibi korban.

 Kepegian Netts juga membuat warga penghuni tempat penampungan merasa kehilangan. “Kami tidak mengenalnya dengan baik - semua wanita di pengungsian menyembunyikan diri mereka sendiri. Mereka semua rentan. Tapi dia akan selalu menyapa dan bertanya 'apa kabar?' Dia adalah seorang gadis muda yang cantik,” ungkap seorang tetangga di pengungsian, Wahidur Rahman.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini