Hina Ratu, Polisi Malaysia Tangkap Seorang Seniman

Agregasi VOA, · Senin 26 April 2021 11:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 26 18 2400776 hina-ratu-polisi-malaysia-tangkap-seorang-seniman-v1cbLw3zDC.jpg Raja dan Ratu Malaysia (Foto: Reuters)

MALAYSIA - Seorang seniman Malaysia ditahan pihak berwenang pada Jumat (23/4) malam karena diduga menghina Ratu Malaysia dengan membuat daftar putar Spotify yang mengejek komentar di akun Instagram ratu. Penangkapan tersebut dikecam oleh kelompok hak asasi manusia (HAM) sebagai kekerasan terhadap kebebasan berbicara.

Polisi mengatakan dalam keterangannya, seniman grafis Fahmi Reza mengunggah daftar putar Spotify dengan lagu-lagu yang mengandung kata 'cemburu', dengan foto Ratu Tunku Azizah Aminah Maimunah Iskandariah.

Direktur investigasi kriminal polisi Huzir Mohamed mengatakan Fahmi, yang sedang diselidiki berdasarkan undang-undang penghasutan dan komunikasi Malaysia, juga mengunggah tautan ke daftar putar di akun Facebook-nya.

Unggahan Spotify tersebut sebagai tanggapan terhadap seorang pengikut akun Instagram ratu yang menanyakan apakah semua koki istana telah divaksinasi.

(Baca juga: Penghalang Israel Dicopot di Gerbang Damaskus Yerusalem, Warga Palestina Bergembira)

Menurut media lokal, akun Instagram ratu menanggapi pertanyaan pengikutnya tersebut dengan menanyakan apakah dia cemburu. Tanggapan itu menyebabkan kegaduhan di media sosial. Akun Instagram sempat dinonaktifkan dan diaktifkan kembali saat tidak ada komentar.

Seorang juru bicara istana tidak segera menanggapi pertanyaan Reuters tentang pernyataan itu dan penangkapan Fahmi.

Fahmi dibebaskan dengan jaminan polisi pada Sabtu (24/4) malam. Sebelumnya, Fahmi pernah dijatuhi hukuman penjara di Malaysia karena menggambarkan mantan perdana menteri Najib Razak sebagai badut, meskipun hukumannya kemudian diubah.

(Baca juga: Aktivis Myanmar Kritik Konsensus ASEAN, Berjanji Lanjutkan Demonstrasi)

Penangkapannya dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran kelompok hak asasi atas tindakan keras terhadap perbedaan pendapat di bawah pimpinan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin.

Amnesty International Malaysia pada hari Jumat (23/4) mengatakan karya satir tidak boleh dilihat sebagai kejahatan.

"Berkali-kali, Undang-Undang Penghasutan yang kejam dan CMA digunakan sebagai alat oleh pihak berwenang untuk membungkam suara-suara kritis dan perbedaan pendapat. Ini perlu dihentikan," kata Amnesty di Twitter, merujuk pada Undang-Undang Penghasutan dan Undang-Undang Komunikasi dan Multimedia Malaysia.

Diketahui, posisi Malaysia jatuh 18 peringkat pada indeks Kebebasan Pers Dunia 2021 dari Wartawan Tanpa Batas (Reporters Without Borders) - penurunan paling tajam dari tahun lalu di antara semua negara.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini