Ombudsman Minta Mabes Polri Ambil Alih Kasus Rapid Test Bekas

Wahyudi Aulia Siregar, Okezone · Jum'at 30 April 2021 17:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 30 608 2403640 ombudsman-minta-mabes-polri-ambil-alih-kasus-rapid-test-bekas-B96dr0A8uF.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

MEDAN - Ombudsman Republik Indonesia meminta Mabes Polri mengambil alih penyidikan kasus penggunaan Rapid Test Swab Antigen PT Kimia Farma Diagnostik bekas di Bandara Internasional Kualanamu, Deliserdang, Sumatera Utara. Di mana, kasus tersebut dibongkar personel Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumatera Utara pada Selasa, 27 April 2021.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara, Abyadi Siregar, mengatakan pentingnya Mabes Polri mengambil alih penyidikan kasus tersebut agar penyidikan terus berkembang lebih dalam lagi.

Pengembangan pengusutan kasus tersebut, menjadi sangat penting, karena bisa saja penggunaan cutton buds swab yang hasil daur ulang itu, tidak hanya digunakan di Bandara Internasional Kualanamu (KNIA). Sangat besar kemungkinan aksi kejahatan itu juga digunakan di tempat tempat lain, setidaknya di lima bandara yang layanan Rapid Test Swab Antigen-nya dikelola PT Kimia Farma Diagnostik.

"Karena itu, ombudsman berharap, penyelidikan jangan berhenti sampai di Bandara Kualanamu. Tapi perlu dikejar, di tempat mana lagi cutton buds antigen swab itu digunakan," ujar Abyadi, Jumat (30/4/2021).

Baca Juga:  Poldasu Tetapkan 5 Tersangka Kasus Alat Rapid Test Bekas di Bandara Kualanamu

Upaya pengejaran kasus ini secara lebih detail, sangat penting, lanjut Abyadi, karena ini adalah kejahatan yang luar biasa. Sangat besar kemungkinan tindakan para pelaku yang menggunakan perusahaan Kimia Farma itu telah berperan besar menyebarkan/menularkan virus Covid-19 yang sangat mematikan itu.

"Di tengah tengah kerja keras pemerintah dan semua pihak menghentikan penyebaran virus Covid-19, justru para pelaku tega melakukan tindakan yang justru sangat berpotensi menyebarkan virus Covid-19 yang sangat mematikan itu," tukasnya.

Pengembangan kasus yang diharapkan, tidak saja mengarah pada sekadar pencarian lokasi atau tempat penggunaan cutton buds antigen yang didaur ulang. Tapi juga mengarahkan pengembangan untuk mendapatkan pihak-pihak yang terlibat. Karena bisa saja ada orang lain yang ikut menikmati bisnis jahat ini.

"Apalagi dari hasil penanganan yang dilakukan polisi, seluruh proses daur ulang itu diketahui dilakukan di Laboratorium Kimia Farma," jelasnya.

Ombudsman, kata Abyadi, juga berharap agar penanganan kasus ini dilakukan sesuai proses hukum. Para pelaku harus mendapat ganjaran sesuai hukum yang berlaku.

"Ini adalah perilaku kejahatan yang sangat luar biasa. Tindakan para pelaku sangat berpotensi menyebarkan virus Covid-19 yang mematikan itu. Padahal, sejak tahun. 2020 negara ini telah bekerja susah payah mengentikan penyebaran virus ini. Tapi justru mereka melakukan tindakan kejahatan yang berpotensi menyebarkan virusnya," tegasnya.

Baca Juga:  Layanan Rapid Test Bekas di Bandara Kualanamu Sudah Terjadi sejak Desember 2020

Ombudsman, sebut Abyadi, tak lupa mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih atas keberhasilan jajaran kepolisian di Sumut yang berhasil membongkar perbuatan jahat ini.

"Kita yakin, seluruh masyarakat juga akan memberi apresiasi yang luar biasa kepada kepolisian. Sebab, dengan berhasil dibongkarnya tindakan pendaurulangan cutton buds antigen swab ini, itu artinya telah menghentikan penyebaran virus Covid-19 yang mewabah ini," pungkasnya.

Terakhir, kata Abyadi, Ombudsman juga meminta agar Kimia Farma sebagai perusahaan besar milik pemerintah, mengevaluasi pelaksanaan seluruh usahanya di Indonesia. Karena bisa aja kasus ini terjadi di provinsi lain.

"Lakukanlah pengawasan yang lebih ketat," tandasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini