Arab Saudi Kutuk Serangan di Gaza, Sebut Israel Lakukan "Pelanggaran Terang-terangan"

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 17 Mei 2021 12:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 17 18 2411088 arab-saudi-kutuk-serangan-di-gaza-sebut-israel-lakukan-pelanggaran-terang-terangan-2ANTlWjuK5.jpg Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan Al Saud. (Foto: Reuters)

RIYADH - Menteri luar negeri Arab Saudi mengutuk "pelanggaran terang-terangan" Israel atas hak-hak Palestina dan meminta komunitas internasional untuk bertindak segera guna mengakhiri operasi militer yang mematikan di Jalur Gaza.

Dalam pernyataan yang disampaikan di awal pertemuan darurat negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pada Minggu (16/5/2021), Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud mengutuk apa yang dia sebut sebagai pelanggaran terhadap kesucian situs suci Islam dan penggusuran "paksa" warga Palestina dari rumah mereka di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur.

BACA JUGA: Jumlah Korban di Gaza Kian Bertambah, DK PBB Gelar Sidang, Sebut Situasi Sangat Mengerikan

Israel menduduki Yerusalem Timur pada tahun 1967 dan mencaploknya pada 1980. Sejak itu Israel mulai membangun pemukiman Yahudi, yang dianggap ilegal menurut hukum internasional.

Pangeran Faisal meminta komunitas internasional menjalankan tanggung jawabnya untuk mengakhiri “eskalasi berbahaya", untuk bertindak segera untuk menghentikan operasi militer Israel, dan untuk menghidupkan kembali negosiasi perdamaian berdasarkan solusi dua negara, demikian diwartakan Al Jazeera.

Juga berbicara di awal pertemuan OKI pada Minggu, Menteri Luar Negeri Palestina Riyad Maliki mengecam apa yang disebutnya sebagai "serangan pengecut" Israel. Dia mengatakan bahwa rakyat Palestina akan melakukan perlawanan terhadap Israel sampai akhir.

BACA JUGA: Warga Palestina yang Terjebak Konflik Israel: Lebih Parah dari Film Horor, Pengeboman di mana-mana

Konflik terbaru ini merupakan yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir, dan sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Korban jiwa hampir mencapai 200 orang, sebagian besar di pihak Palestina, dan banyak di antaranya anak-anak.

Komunitas internasional mendesak kedua pihak mengakhiri pertikaian yang terjadi usai kerusuhan selama beberapa hari di Yerusalem.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini