Ritual Usir Genderuwo Tewaskan Bocah di Temanggung, Jangan Sampai Terulang!

krjogja.com, · Selasa 18 Mei 2021 08:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 18 512 2411493 ritual-usir-genderuwo-tewaskan-bocah-di-temanggung-jangan-sampai-terulang-Bi6czL35VQ.jpg Ilustrasi. (Foto: Forddekstop)

TEMANGGUNG – Nasib tragis dialami bocah berusia 7 tahun bernama Ais. Dia ditemukan sudah meninggal dunia di di rumahnya Dusun Paponan Desa Bejen Kecamatan Bejen, Temanggung, Jawa Tengah, Minggu 16 Mei 2021. Ironisnya lagi, Ais meninggal di tangan kedua orang tuanya yang mengaku menjalani ritual mengusir genderuwo. Jasad Ais sudah 4 bulan disimpan di dalam kamar.

Ritual tersebut berawal saat Ais dianggap keturunan genderuwo karena bertingkah nakal. Kedua orang tuanya, Mar (42) dan Suw (38) lantas menjalani ritual dengan membenamkan kepala Ais ke dalam air hingga tak sadarkan diri. Ais yang ternyata sudah tewas diyakini bisa dihidupkan diri dengan bantuan dukun.

Pemerintah Kabupaten Temanggung prihatin atas kejadian pengobatan tradisional yang menewaskan Ais. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Temanggung Woro Andijani mengatakan, kasus Ais harus menjadi yang terakhir di Temanggung. Jangan sampai ada Ais lain yang menjadi korban pengobatan tradisional berujung maut.

Baca juga: Ritual Usir Genderuwo, Orangtua yang Simpan Jasad Anaknya 4 Bulan Diamankan Polisi

”Kami prihatin dengan pengobatan yang justru menghilangkan nyawa anak-anak,” kata Woro Andijani, Senin (17/5).

Woro Andijani mengatakan perlunya pemahaman tentang proses tumbuh kembang anak yang betul pada semua pihak khususnya orang tua. Anak yang aktif dan hiperaktif bukan sebagai penyakit, tetapi memang membutuhkan perhatian khusus, sebab terkait erat dengan karakter anak dan kecukupan gizi.

”Anak aktif dan hiparaktif sebagai kewajaran, sebagai tanda anak dengan kecukupan guziu yang baik,” kata dia.

Baca juga: Ritual Usir Genderuwo, Orangtua Ini Simpan Jenazah Anaknya Empat Bulan di Kamar

Waro mengaku telah memerintahkan staf untuk mendapatkan data detail kasus Ais, mengevaluasi dan merumuskan kebijakan atau kegiatan yang harus dikerjakan. “Bidang perlindungan anak dan Bidang Ketahanan Keluarga segera bertindak di kasus ini,” kata dia.

Ketua Umum Women Crisis Center (WCC) Kabupaten Temanggung, Supangat MAg mengatakan aparat hukum untuk bertindak tegas. Pelaku harus ditindak tegas sesuai dengan hukum yang tertuang dalam Undang Undang No. 35 tahun 2014 atas perubahan Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang no. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

”Pelaku melakukan kekerasan terhadap anak secara terencana dengan dalih penyembuhan, walaupun dalih pengobatan namun apa yang dilakukan pelaku dalam proses pengobatan atau penyembuhan telah memenuhi unsur tindak pidana sehingga menghilangkan nyawa korban yang merupakan anak sendiri,” kata Supangat.

Menurut dia, kasus Ais menjadi pelajaran bagi masyarakat walaupun dalih penyembuhan namun kalau memenuhi unsur tindak pidana maka bisa diproses hukum walaupun niatnya pengobatan. Apalagi pengobatan yang tidak terukur secara keumuman medis yang berlaku di masyarakat.

Dia mengatakan perlu adanya sosialisasi pengobatan atau penyembuhan tradisional yang dibenarkan secara medis dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di masyarakat. Sehingga pelayanan kesehatan tradisional yang diberikan harus memenuhi hukum dan menghindari terjadinya kelalaian oleh praktisinya sebagaimana yang telah terjadi tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini