Lord Rothschild, Otak di Balik Terusirnya Palestina dari Tanah Mereka Sendiri

Widi Agustian, Okezone · Jum'at 21 Mei 2021 07:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 20 18 2412981 lord-rothschild-otak-di-balik-terusirnya-palestina-dari-tanah-mereka-sendiri-cezzXpauA3.jpg

JAKARTA - Kisah tentang Palestina yang terusir dari tanahnya oleh Israel telah berlangsung lama. Salah satu titik yang menjadi awal mula terjajahnya Palestina adalah saat perang dunia pertama.

Pada tahun 1914-1918 pecah perang dunia pertama. Dalam perang tersebut, daulah Utsmaniyah memihak Jerman.

Gagal dalam ‘merayu’ pemerintah Turki Ustmani, maka bangsa Yahudi ini mulai menggalang dukungan internasional untuk mensuksesan misi Zionis membentuk negara Yahudi di Palestina.

Memanfaatkan situasi yang ada, Chaim Weizmann, seorang Zionis yang kelak menjadi presiden pertama Israel, pada tahun 1917 menulis surat kepada Parlemen Inggris untuk meminta dukungan dan persetujuan Inggris untuk membentuk sebuah negara Yahudi di Palestina. Demikian dikutip dari buku 10 Isu Global di Dunia Islam, karya Akhmad Jenggis P yang diterbitkan NFP Publishing.

Baca Juga: Sejarah Panjang Konflik Palestina-Israel, Ada 4 Periode!

Pada tanggal 2 November 1917 Menteri Luar Negeri Inggris, Lord Balfour mengirimkan nota kepada Parlemen Inggris dengan isi antara lain, “Menurut pendapat pemerintah Inggris, mempertahankan Terusan Suez akan mencapai hasil maksimal dengan mendirikan suatu negara Palestina yang terikat dengan kita. Dan mengembalikan orang Yahudi ke Palestina di bawah pengawasan Inggris akan menjamin rencana ini.”

Akhirnya, Parlemen Inggris pun memberikan persetujuannya, dan dengan dasar dukungan itu. Lord Balfour kemudian mengirim surat pada hari yang tidak jauh berselang kepada Lord Rothschilds yang intinya berbunyi, “Pemerintahan Sri Baginda dengan segala senang hati merestui pembentukan tanah air bagi kaum Yahudi di Palestina, dan akan menggunakan segala upaya untuk memfasilitasi tercapainya tujuan ini.”

Lord Rothschild yang dimaksud disini adalah Lionel Walter Rotshschild (1868-1937) peraih gelar “Lord” kedua dalam keluarga besar Rothschild yang merupakan anak dari Lionel Nathan de Rothschild, pemegang “Lord” pertama dan merupakan generasi keturunan dari pemilik institusi raksasa keuangan Yahudi yang mengusai keuangan dunia.

Dukungan Inggris kepada terbentuknya negara Yahudi itu, terkait erat dengan kepentingan imperialisme global Inggris dikemudian hari, sebagaimana ditegaskan oleh Winston Churchill pada tahun 1921. Menteri Luar Negeri Inggris pada waktu itu menyatakan, “Kalau Palestina tidak pernah ada, maka menurut keyakinan saya, demi kepentingan Imperium, ia harus diciptakan.”

Baca Juga: Tak Hiraukan Biden, PM Israel Akan Lanjutkan Serangan ke Gaza

Pada tanggal 2 November 1917, Inggris menjadi pendukung utama dengan menetapkan sebuah perjanjian yang disebutnya dengan Deklarasi Balfour, yang diambil dari nama Menteri Luar Negeri Inggris saat itu Arthur James Balfour bersama dengan Lord Rothschild, Presiden Federasi Zionis Inggris. Deklarasi itu pun telah disetujui oleh Kabinet Inggris.

Teks Deklarasi Balfour adalah sebagai berikut, “Pemerintah (Inggris) menyetujui didirikannya sebuah tanah air bagi bangsa Yahudi di Palestina, dan berusaha sebaik-baiknya untuk melancarkan pencapaian tujuan ini, setelah dipahami secara jelas bahwa tidak akan dilakukan sesuatu yang dapat merugikan hak-hak sipil dan hak-hak keagamaan komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, atau hak-hak dan status politik yang dinikmati oleh bangsa Yahudi di setiap negeri lain.”.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini