Kisah Anak-anak yang Tewas Akibat Konflik Palestina-Israel, 'Mereka Sudah Sangat Menderita'

Agregasi BBC Indonesia, · Kamis 20 Mei 2021 18:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 20 18 2413119 kisah-anak-anak-yang-tewas-akibat-konflik-palestina-israel-mereka-sudah-sangat-menderita-ZxWUtALfF0.jpg Anak-anak yang tewas akibat konflik Israel-Palestina (Foto: Al-Kawlak Family/DCIP/NRC)

PALESTINA - Menurut kementerian kesehatan yang dikendalikan kelompok Hamas, dari 219 orang yang terbunuh di Gaza, sedikitnya 63 di antaranya adalah anak-anak.

Dari 10 orang yang terbunuh di Israel, dua anak termasuk di antara yang tewas. Berikut adalah kisah dari beberapa anak yang terbunuh.

  • Anak-anak keluarga al-Kawalek, usia 5 hingga 17 tahun

Ketika serangan Israel menghantam ruas Jalan al-Wihda di pusat Kota Gaza pada Minggu pagi, setidaknya 13 orang anggota keluarga besar al-Kawalek diyakini telah tewas, terkubur di reruntuhan rumah mereka sendiri.

Banyak dari korban adalah anak-anak, salah seorang di antaranya dikatakan berusia enam bulan.

"Kami tidak melihat apa-apa selain asap," kata salah satu anggota keluarga yang masih hidup, Sanaa al-Kawalek, kepada Felesteen Online.

"Saya tidak bisa melihat anak saya di samping saya dan saya memeluknya, tapi saya tidak bisa melihat apa-apa,” terangnya.

Pasukan Israel (IDF) menggambarkan pemboman itu sebagai "tidak normal" dan mengatakan jatuhnya korban sipil tidak diinginkan. Juru bicaranya mengatakan serangan udara itu menyebabkan sebuah terowongan runtuh, sekalian meruntuhkan rumahnya.

Di antara mereka yang tewas adalah dua bersaudara, Yara, 9 tahun, dan Rula, 5 tahun. Keduanya sempat dirawat di pusat penanganan trauma Dewan Pengungsi Norwegia (NRC).

Salah satu guru mereka mengatakan anak-anak perempuan keluarga Al-Kawalek yang berperilaku sopan selalu mengerjakan pekerjaan rumahnya tepat waktu.

Sebuah foto yang beredar secara online dikatakan memperlihatkan Aziz al-Kawalek yang berusia 10 tahun, satu-satunya anggota keluarga itu yang masih hidup, duduk di dekat ibunya.

 (Baca juga: Netanyahu Tolak Seruan Biden untuk Redakan Ketegangan di Gaza)

  • Ido Avigal, 5 tahun

Adapun korban termuda di pihak Israel diperkirakan bernama Ido Avigal, 5, yang terbunuh pada Rabu (19/5) lalu di Kota Sderot di wilayah selatan Israel.

Ido terbunuh di dalam ruangan perlindungan yang menurut militer Israel digambarkan sebagai insiden "sangat langka".

Times of Israel melaporkan sang ibu menarik dan membawanya ke ruangan tersebut ketika sirene adanya serangan roket berbunyi pada Rabu (19/5) malam di Sderot.

Pecahan roket menembus lapisan logam pelindung yang digunakan untuk menutup jendela ruangan mereka berada, yang melukai ibu dan saudara perempuannya yang berusia tujuh tahun.

Bocah 5 tahun itu kemudian meninggal karena luka-lukanya beberapa jam kemudian.

"Itu adalah bagian dari roket yang datang dengan sudut yang sangat spesifik, dengan kecepatan yang sangat spesifik dan pada titik yang sangat spesifik," kata juru bicara militer Israel, Hidai Zilberman tentang insiden tersebut.

(Baca juga: Konflik Israel-Palestina Terus Memanas, Sistem Kesehatan Gaza Nyaris Ambruk)

"Kami berada di rumah dan anak-anak sedikit bosan, jadi istri saya Shani pergi bersama mereka ke rumah saudara perempuannya yang berjarak dua gedung," kata ayah Ido, Asaf Avigal, kepada Channel 13.

"Maafkan ayahmu tak mengambil pecahan peluru di tempatmu," terang Avigal saat pemakaman anaknya.

"Beberapa hari yang lalu, kamu bertanya kepada saya: 'Ayah, apa yang akan terjadi jika sirene berbunyi saat kita berada di luar?' Aku sudah bilang padamu bahwa selama kamu bersamaku, kamu akan terlindungi. Aku berdusta,” ungkapnya.

Beberapa bulan yang lalu, Avigal dan istrinya mengobrol betapa cerdasnya Ido, seolah-olah dia sudah berusia 50 tahun dalam sosok berusia lima tahun.

Dia acap kali mendesak ayahnya agar meninggalkan komputernya dan menghabiskan lebih banyak waktu dengannya. "Cukuplah sudah dengan layar komputermu- ayo, bersamaku," pintanya.

Ibu Ido sejauh ini masih dirawat di rumah sakit.

  • Nadine Awad, 16 tahun

Nadine Awad, pelajar beretnis Arab-Israel berusia 16 tahun, bersama ayahnya - 52 tahun - pada Rabu (19/5) dini hari, ketika roket menghantam mobil dan rumahnya, menewaskan mereka berdua.

Petugas medis mengatakan sang ibu yang juga berada di dalam mobil dalam kondisi terluka parah.

Sepupu Nadine, Ahmad Ismail, mengatakan dia mendengar suara roket menghantam dari dalam rumah keluarga, di kota Lod, dekat Tel Aviv, tempat orang Arab dan Yahudi Israel tinggal bersama.

"Itu terjadi begitu cepat," katanya kepada lembaga penyiaran publik, Kan.

"Bahkan jika kami ingin lari ke suatu tempat, kami tidak memiliki ruangan yang aman,” terangnya.

Orang-orang yang mengenalnya mengatakan Nadine adalah "gadis yang sangat istimewa" di tahun pertama sekolah menengahnya yang bercita-cita menjadi dokter.

Kepala sekolahnya berujar bahwa Nadine "bermimpi mengubah dunia".

"Dia adalah gadis yang istimewa, gadis yang sangat berbakat. Dia ingin menaklukkan dunia," kata Shirin Natur Hafi kepada stasiun radio setempat, seperti dilaporkan Times of Israel.

Nadine terlibat dalam sejumlah proyek yang berhubungan dengan sains dan sosial dengan sekolah-sekolah Yahudi di daerah tersebut, dan dia berencana berpartisipasi dalam program studi biomedis, kata Hafi.

  • Anak-anak keluarga al-Hadidi, berusia 6 hingga 13 tahun

Pada Jumat pekan lalu, empat anak Muhammad al-Hadidi - Suhayb, 13 tahun, Yahya, 11, Abderrahman, delapan tahun, dan Osama, enam tahun- mengenakan pakaian terbaiknya dan pergi mengunjungi sepupu mereka di dekatnya, di kamp pengungsi Syati di luar Kota Gaza, guna merayakan Idul Fitri, yang menandai akhir Ramadan.

"Anak-anak mengenakan pakaian Idul Fitri, membawa mainan mereka dan pergi ke rumah pamannya untuk merayakannya," ungkap ayahnya yang berusia 37 tahun kepada wartawan.

"Mereka menelepon di malam hari agar dibolehkan menginap dan saya berkata OK,” lanjutnya.

Keesokan harinya, gedung tempat mereka menginap dihantam. Hanya adik laki-laki mereka yang berusia lima bulan, Omar, yang selamat, setelah diseret dari puing-puing tempat dia berbaring di samping ibunya yang sudah meninggal.

"Mereka aman di rumahnya, mereka tidak membawa senjata, mereka tidak menembakkan roket," jelasnya tentang anak-anaknya.

"Apa yang mereka lakukan sehingga pantas menerima ini? Kami warga sipil,” ujarnya.

Di tengah puing-puing itu ada mainan anak-anak, permainan Monopoli, dan, mereka tengah duduk di meja dapur, serta makanan yang tersisa di piring-piring mereka.

"Ketika anak-anak saya tidur, mereka berharap bahwa ketika mereka bangun semuanya akan berakhir. Tapi kini mereka pergi selamanya. Saya hanya memiliki kenangan atas mereka, dan aroma mereka di rumah saya," terangnya kepada surat kabar The Times di London.

  • Ibrahim al-Masry, 14 tahun

Ibrahim al-Masry tengah bermain dengan saudara-saudaranya di halaman depan rumah mereka di kawasan utara Gaza pekan lalu, ketika terjadi serangan, ungkap sejumlah laporan.

Ibrahim dan saudaranya Marwan, serta sejumlah kerabat lainnya, langsung terbunuh.

"Setiap hari di bulan Ramadan mereka bermain di jalanan sebelum buka puasa," kata ayah mereka, Youssef al-Masri, kepada The Independent.

"Kami tidak melihat serangan itu, kami hanya mendengar dua ledakan besar ... Semua orang berlarian di jalan, anak-anak berdarah, ibu-ibu menangis, darah berceceran di mana-mana,” terangnya.

Saudara laki-laki mereka, yang juga dipanggil Ibrahim, mengatakan bahwa mereka sedang mengisi karung jerami untuk dijual di pasar lokal.

"Kami tertawa dan bergembira, ketika tiba-tiba mereka mulai mengebom kami, semua di sekitar kami terbakar," katanya kepada kantor berita AFP.

"Saya melihat sepupu saya dibakar, dan tercabik-cabik,” tambahnya.

  • Hamza Nassar, 12 tahun

Hamza Nassar meninggalkan rumahnya di Gaza pada Rabu malam lalu untuk membeli sayuran sehingga ibunya dapat menyiapkan makanan berbuka puasa, ungkap sebuah laporan. Dia tidak pernah kembali ke rumahnya.

Sang ayah mengatakan kepada Al Jazeera jika Hamzah adalah bocah yang baik dan murid luar biasa.

Tala Abu al-Ouf, 13 tahun

Serangan yang sama menghantam rumah al-Kawaleks merenggut nyawa tetangga mereka yang berusia 13 tahun, Tala Abu al-Ouf, dan saudara laki-lakinya yang berusia 17 tahun, Tawfik.

Ayah mereka, Dr Ayman Abu al-Ouf, juga tewas dalam serangan itu. Dia adalah salah-satu pimpinan i rumah sakit al-Shifa Kota Gaza, tempat dia bertanggung jawab menangani virus korona.

Beberapa hari sebelum serangan itu, Dr Abu al-Ouf bekerja lebih lama dan lebih lama berada di rumah sakit, ungkapa kerabat keluarganya kepada BBC.

Seorang guru di tempat Tala bersekolah, yang tidak ingin disebutkan namanya, menggambarkannya sebagai "siswa luar biasa" di kelas tujuh.

Tala "tertarik dengan kelas agama dan dia suka membaca dan menghafal Alquran," kata guru itu kepada BBC, seraya menambahkan bahwa dia selalu siap mengikuti ujian.

Dia juga mengambil bagian dalam program NRC guna membantu anak-anak dalam mengatasi trauma.

"Mereka sudah sangat menderita," kata Hozayfa Yazji, manajer lapangan wilayah dewan pengungsi itu, kepada BBC.

"Kegilaan ini harus dihentikan ... kekerasan harus dihentikan, guna memberi anak-anak ini masa depan,” lanjutnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini