Pada minggu ini Osaka telah melampaui Tokyo, kota terbesar di negara itu, dengan jumlah kematian akibat virus terbanyak, di angka 2.036. Dari sekitar 15.000 pasien di Osaka, hanya 12% yang dirawat di rumah sakit, sementara sisanya harus menunggu di rumah atau di hotel. Berdasarkan data statistik kepolisian, angka kematian akibat COVID-19 yang terjadi di luar rumah sakit di bulan April meningkat tiga kali lipat dibandingkan bulan Maret menjadi 96, termasuk 39 di Osaka dan 10 di Tokyo.
Lalu mengapa kekacauan terjadi?
Sebagian penyebabnya adalah, karena perawatan COVID-19 yang tergolong non-profit, kebanyakan terbatas hanya pada rumah sakit pemerintah, yang jumlahnya hanya seperlima dari 8000 rumah sakit di Jepang. Rumah sakit swasta, yang kebanyakan berskala kecil, ragu-ragu atau tidak siap untuk menangani kasus terkait virus corona.
Pemerintah juga secara signifikan telah mengurangi jumlah pusat kesehatan lokal, yang menjadi kunci pencegahan penyebaran penyakit ini, dari sekitar 850 pada tahun 1990an menjadi 469 di tahun 2020, menyebabkan “penyumbatan” karena pegawai berkurang namun jam kerja bertambah.