Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pesawat Penumpang Dikawal Jet Tempur dan Dipaksa Mendarat, Ini Negara yang Pernah Melakukannya

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Kamis, 27 Mei 2021 |10:51 WIB
Pesawat Penumpang Dikawal Jet Tempur dan Dipaksa Mendarat, Ini Negara yang Pernah Melakukannya
Pesawat Ryanair diberhentikan secara mendadak (Foto: AFP via BBC)
A
A
A

BELARUSIA - Peristiwa pemaksaan arah pesawat Ryanair menuju ibu kota Belarusia, Minsk, pada Minggu (23/05) yang disertai penangkapan seorang jurnalis telah memicu kemarahan di Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Pesawat dengan nomor penerbangan FR4978 tersebut berangkat dari Yunani dan semestinya mendarat di Vilnius, Lithuania.

Namun, saat sedang mengudara, pesawat penumpang itu tiba-tiba dikawal jet tempur Belarusia yang memaksa pesawat tersebut berbelok ke Minsk dengan dalih adanya ancaman bom.

Pilot maskapai Ryanair kemudian terpaksa mengikuti arahan dari jet militer Belarusia.

Peristiwa ini dikecam Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS). Apakah sebelumnya pernah ada peristiwa pencegatan terhadap pesawat penerbangan sipil?

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menuduh negara-negara Barat munafik. Ia mengatakan dalam bahasa Rusia bahwa negara-negara Barat "memiliki reaksi yang berbeda ketika menanggapi peristiwa serupa yang terjadi di negara lain sebelumnya".

Dia secara khusus menyinggung insiden delapan tahun lalu, yang melibatkan pesawat yang ditumpangi Evo Morales saat menjabat presiden Bolivia.

(Baca juga: Biden: AS Siapkan Sanksi untuk Belarusia, Terkait Pendaratan Pesawat Secara Mendadak)

Berikut adalah kilas balik peristiwa pesawat yang hampir atau mungkin telah dipaksa untuk mendarat.

  • 2013: Pesawat presiden Bolivia mendarat di Wina

Pada Juli 2013, Evo Morales dalam perjalanan udara kembali ke Bolivia setelah melakukan pertemuan tingkat tinggi di Moskow. Saat itu pesawat presiden Bolivia ini dipaksa berbelok ke Bandara Wina di Austria setelah sejumlah negara Eropa menolaknya masuk ke dalam wilayah udara mereka.

Pihak Bolivia mengatakan telah terjadi "kebohongan besar" lantaran Morales dituduh menyembunyikan mantan kontraktor badan keamanan AS, Edward Snowden, di dalam pesawat tersebut.

Prancis kemudian meminta maaf kepada pemerintah Bolivia atas "konfirmasi izin yang terlambat" untuk memasuki wilayah udara Prancis, dan menyalahkan "informasi yang saling bertentangan"

Akan tetapi, insiden pesawat di Belarus tidak sepenuhnya bisa disamakan dengan insiden pesawat Morales. Hal ini karena pesawat Morales tidak dicegat pesawat jet tempur dan dipaksa untuk mendarat - tapi tidak diberikan izin oleh negara lain untuk memasuki wilayah udara mereka.

(Baca juga: Jika Pesawat Militer Menyergap Pesawat Penumpang Seperti Terjadi di Belarusia, Perintahnya 'Harus Dipatuhi')

Presiden Bolivia juga melakukan perjalanan menggunakan pesawat kepresidenan, bukan pesawat komersial atau penerbangan sipil.

Badan Penerbangan Pesawat Sipil PBB (ICAO) mengatakan prihatin atas "pendaratan paksa yang sangat jelas" dalam insiden Belarusia. Peristiwa tersebut dinilai bisa "bertentangan dengan Konvensi Chicago" yang mengatur akses wilayah udara dan keselamatan pesawat.

Konvensi Chicago 1944 ini berlaku untuk penerbangan sipil seperti Ryanair, tapi tidak berlaku untuk urusan penerbangan kenegaraan seperti pesawat presiden dan pesawat militer.

Pesawat Presiden Bolivia dipaksa mendarat

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement