Angka Kelahiran di China Turun Imbas Pengendalian Kelahiran dan Pria Kesulitan Dapat Istri karena Wanita Fokus Karier

Agregasi BBC Indonesia, · Jum'at 28 Mei 2021 08:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 28 18 2416537 angka-kelahiran-di-china-turun-imbas-pengendalian-kelahiran-dan-pria-kesulitan-dapat-istri-karena-wanita-fokus-karier-r6sEqPfvg7.jpg Angka kelahiran di China turun drastis.(Foto:Gatty Image)

BEIJING - Sensus penduduk yang dilakukan sekali dalam satu dekade, menunjukkan bahwa angka kelahiran di China turun ke level terendah sejak 1960-an.

Hal itu kemudian memicu seruan diakhirinya kebijakan pengendalian kelahiran. Namun beberapa orang di China mengatakan, kebijakan ini bukan satu-satunya yang membuat mereka enggak untuk punya anak.

Kendati ibunya kerap memintanya untuk segera punya anak, warga Beijing bernama Lili (bukan nama sebenarnya) tak berencana untuk memiliki anak dalam waktu dekat.

Perempuan berusia 31 tahun yang telah menikah selama dua tahun itu ingin "menjalani hidup" tanpa "kekhawatiran terus-menerus" dalam membesarkan anak.

"Saya memiliki beberapa teman yang memiliki anak, dan mereka terobsesi untuk mendapatkan pengasuh terbaik atau mendaftarkan anak di sekolah terbaik. Kedengarannya melelahkan."

Baca Juga: Terkait Kasus Perceraian, Hampir 80.000 Anak di China Diperkirakan Diculik dan Disembunyikan

Lili kepada BBC dengan syarat anonim, menyebut bahwa ibunya akan sedih jika dia tahu bagaimana perasaan putrinya.

Namun, perbedaan pendapat antar generasi ini mencerminkan perubahan sikap banyak anak muda China perkotaan terhadap persalinan.

Data sensus penduduk terbaru dengan sendirinya mengungkap hal itu. Sensus yang dirilis awal bulan ini menunjukkan bahwa sekitar 12 juta bayi lahir tahun lalu - penurunan yang signifikan dari 18 juta pada 2016, dan jumlah kelahiran terendah yang tercatat sejak 1960-an.

Sementara populasi secara keseluruhan tumbuh, angka kelahiran di China paling lambat dalam beberapa dekade, menambah kekhawatiran bahwa China mungkin menghadapi penurunan populasi lebih cepat dari yang diduga.

Populasi yang menyusut bermasalah karena struktur usia terbalik, dengan lebih banyak lanjut usia daripada usia muda.

Jika itu terjadi, tidak akan ada cukup sumber daya manusia di masa depan untuk mendukung para lansia, dan mungkin ada peningkatan permintaan akan kesehatan dan pelayanan sosial.

Ning Jizhe, Kepala Biro Statistik China, mengatakan dalam sebuah presentasi bahwa angka kesuburan yang lebih rendah adalah akibat alami dari perkembangan sosial dan ekonomi di China.

Seiring dengan negara-negara yang kian maju, angka kelahiran akan turun karena pendidikan dan prioritas lain seperti karier.

Negara tetangga seperti Jepang dan Korea Selatan, misalnya, juga mengalami penurunan angka kelahiran dalam beberapa tahun terakhir kendati ada beragam insentif pemerintah bagi pasangan agar mau memiliki lebih banyak.

Tetapi para ahli mengatakan, situasi China bisa lebih buruk mengingat banyaknya pria yang merasa sulit untuk menemukan istri, apalagi memikirkan untuk memulai sebuah keluarga.

Bagaimanapun, ada ketidakseimbangan gender yang parah di negara itu - tahun lalu, jumlah laki-laki lebih banyak 34,9 juta dari jumlah perempuan.

Ini adalah efek samping dari kebijakan satu anak yang ketat di negara itu, yang diperkenalkan pada 1979 untuk memperlambat pertumbuhan penduduk.

Dalam budaya yang secara historis lebih menyukai anak laki-laki daripada perempuan, kebijakan tersebut menyebabkan aborsi paksa dan dilaporkan melimpahnya anak laki-laki yang baru lahir dari tahun 1980-an dan seterusnya.

"Ini menimbulkan masalah bagi pasar perkawinan, terutama bagi pria dengan sumber daya sosial ekonomi yang kurang," kata Dr Mu Zheng, dari departemen sosiologi Universitas Nasional Singapura.

Dengan jumlah laki-laki yang lebih banyak ketimbang perempuan, beberapa di antaranya akan kesulitan mencari pasangan. Pada 2016, pemerintah menghentikan kebijakan itu dan memperbolehkan pasangan untuk memiliki dua anak.

Namun, reformasi ini gagal memulihkan angka kelahiran yang anjlok meskipun dua tahun setelah kebijakan itu dicabut angka kelahiran mengalami sedikit peningkatan.

Para ahli mengatakan gagalnya pemulihan angka kelahiran juga disebabkan pelonggaran kebijakan yang tak disertai perubahan lain yang dapat mendukung keberlangsungan hidup sebuah keluarga, seperti dukungan keuangan untuk pendidikan atau akses ke fasilitas penitipan anak.

Banyak orang tidak mampu membesarkan anak-anak di tengah meningkatnya biaya hidup, kata mereka.

"Keengganan orang untuk memiliki anak tidak terletak pada proses melahirkan anak, tetapi apa yang terjadi setelahnya," kata Dr Mu.

Dia menambahkan bahwa gagasan tentang apa yang membuat seseorang sukses juga telah berubah di China - setidaknya bagi mereka yang tinggal di kota besar. Di China 12 juta bayi lahir tahun lalu - penurunan signifikan ketimbang tahun 2016 yang sebanyak 18 juta bayi.

Tidak lagi ditentukan oleh penanda tradisional dalam kehidupan seperti menikah dan memiliki anak - melainkan tentang perkembangan pribadi seseorang. Para perempuan masih diharapkan menjadi pengasuh utama karena norma gender.

Sementara China secara teori memiliki 14 hari cuti untuk ayah, bukan hal yang bisa bagi para pria di China untuk mengambil cuti tersebut. Bahkan, lebih jarang bagi mereka untuk menjadi ayah penuh waktu.

Ketakutan seperti itu dapat menyebabkan perempuan tidak ingin memiliki anak jika mereka merasa hal itu dapat mengurangi prospek karier mereka, kata Dr Mu.

Beberapa perempuan di China enggan punya anak karena merasa itu bisa mengurangi prospek karir mereka. Di media sosial China, isu ini menjadi topik panas dnegan tagar "mengapa generasi muda ini enggan punya anak" telah dibaca lebih dari 440 juta kali di platform Weibo.

"Kenyataannya bahwa tidak banyak pekerjaan yang bagus untuk para perempuan dan mereka yang memiliki karir yang bagus akan melakukan segala upaya untuk mempertahankannya. Siapa yang berani punya anak dalam situasi begini?" salah satu warganet bertanya.

Sementara beberapa kota telah memperpanjang tunjangan cuti melahirkan dalam beberapa tahun terakhir, memberi perempuan pilihan untuk mengajukan cuti melebihi standar 98 hari, orang mengatakan itu hanya berkontribusi pada diskriminasi gender di tempat kerja.

Pada bulan Maret, seorang pelamar kerja perempuan di Chongqing dipaksa oleh calon bos untuk berjanji dia akan berhenti dari pekerjaannya segera setelah dia hamil.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini