Share

PM Jacinda Ardern Tidak Merasa 'Cukup Tangguh' di Politik

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 04 Juni 2021 17:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 04 18 2420306 pm-jacinda-ardern-tidak-merasa-cukup-tangguh-di-politik-oDtD0fSVKU.JPG PM Jacinda Ardern (Foto: Reuters)

SELANDIA BARU - Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern mengaku ‘tidak cukup tangguh’ untuk hidup di politik. Hal ini diungkapkan Ardern saat wawancara membahas persiapan untuk Covid-19 dan bagaimana hubungan dengan Amerika Serikat ( AS).

“Hambatan terbesar bagi saya mungkin adalah fakta bahwa saya tidak selalu berpikir bahwa sifat-sifat yang saya pegang dan paling saya hargai adalah sifat-sifat yang akan dengan mudah diterima dalam politik,” kata Ardern kepada David Axelrod dari CNN di podcast “The Axe Files”, Kamis (3/6).

"Anda tahu, saya berbicara sedikit tentang perasaan bahwa saya tidak cukup tangguh untuk lingkungan politik,” lanjutnya.

Ardern mengatakan bahwa garis pemikiran itu mengasumsikan politisi "harus benar-benar berkulit tebal" dan tidak bisa menjadi "orang yang sensitif" atau "secara lahiriah menunjukkan belas kasih atau empati Anda."

Ardern telah memimpin partai Buruh kiri-tengah Selandia Baru sejak 2017 setelah periode ketika banyak pemimpin pria paruh baya - empat dalam waktu kurang dari satu dekade - gagal memicu antusiasme pemilih.

(Baca juga: Jumlah Bayi yang Lahir di Jepang Jatuh ke Rekor Terendah)

Pencalonannya memberi energi pada pemilih dan dia berakhir sebagai Perdana Menteri (PM) setelah pemilihan September 2017 dalam koalisi dengan Partai Pertama Selandia Baru yang konservatif dan Partai Hijau yang liberal. Pada Oktober 2020, Ardern memenangkan masa jabatan kedua, kali ini dengan kemenangan telak yang memungkinkan Partai Buruh untuk memerintah sendiri.

Ardern, 40, mengatakan dia adalah politisi wanita ke-99 yang yang telah memasuki politik Selandia Baru. Dia menyebut jumlah ini meningkat "dengan cepat" secara "fantastis."

"Tapi belum lama ini menjadi perempuan dalam politik adalah pengalaman yang sangat mengasingkan," tambahnya.

Ardern menjelaskan meskipun dia mungkin tidak mendapatkan "komentar terus-menerus tentang pakaian atau seksisme terang-terangan" yang mungkin dialami oleh politisi wanita sebelumnya, wanita dari generasinya tidak boleh "meremehkan" pengalaman mereka sendiri.

Selandia Baru mungkin negara yang hanya berpenduduk lima juta orang, tetapi Ardern telah menjadi berita utama global karena menjadi PM muda yang luar biasa. Dia dipuji karena tindakannya yang cepat dan efektif melawan Covid-19.

(Baca juga: India Pesan 300 Juta Vaksin Covid-19 yang Tidak Disetujui)

Ardern juga membahas seperti apa mempersiapkan Selandia Baru menghadapi pandemi dan tindakan penguncian ekstrem yang diberlakukan pemerintahnya.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

"Saya benar-benar merasa seperti kami sedang mempersiapkan warga Selandia Baru untuk perang," ujarnya.

Dia menceritakan bagaimana dia mendengar orang-orang berhenti untuk menonton pengumumannya tentang sistem peringatan Covid-19 negara itu di ponsel mereka di supermarket.

"Besarnya itu terasa sangat signifikan,” ungkapnya.

Ardern memberlakukan apa yang dia sebut "strategi membasmi kecil, yang telah memungkinkan kita untuk menghilangkan Covid-19," alih-alih mencoba meratakan kurva infeksi seperti yang dilakukan banyak negara lain.

Pilihan itu muncul setelah pertemuan dengan kepala penasihat sainsnya, yang mengatakan meratakan kurva tidak akan berhasil di Selandia Baru, mengutip tingkat infeksi dan kapasitas rumah sakit.

Ardern juga menyoroti bagaimana dia sangat optimis tentang hubungan internasional sekarang karena Joe Biden menjabat sebagai Presiden AS.

"Perubahan kepemimpinan di Amerika Serikat bagi kami, tidak dapat disangkal, telah menciptakan perubahan nada," terangnya.

"Isu-isu penting global, seperti perubahan iklim, kami sangat senang melihat bahwa itu adalah salah satu langkah pertama yang diambil oleh pemerintahan Biden,” jelasnya.

Ardern mengungkapkan bagaimana pengalaman masa kecilnya tinggal di kota kecil bernama Murupara, tempat banyak orang jatuh miskin setelah kehilangan pekerjaan, telah membuatnya bertanya-tanya mengapa beberapa orang hidup dengan nyaman dan yang lain tidak.

"Butuh waktu lama bagi saya untuk memutuskan bahwa politik adalah tempat untuk melakukan sesuatu tentang hal itu," lanjutnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini