Melihat Jejak Perusahaan Perkebunan Serat Terbesar Hindia Belanda di Wonogiri

Agregasi Solopos, · Senin 14 Juni 2021 06:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 14 512 2424625 melihat-jejak-perusahaan-perkebunan-serat-terbesar-hindia-belanda-di-wonogiri-CJRBUNAXkw.jpg Aktivitas perusahaan perkebunan serat Mento Toelakan di Wonogiri (Foto: Ist/Arsip Digital Universitas Leiden)

WONOGIRI - Di Wonogiri, Jawa Tengah ternyata pernah ada perusahaan perkebunan serat terbesar dan terbaik pada masa Hindia Belanda. Bahkan, masih ada jejak peninggalan sejarah perusahaan tersebut.

Dulu perusahaan itu dikenal dengan sebutan Cuultur-Maatschappij Mento Toelakan atau _Onderneming_ Mento Toelakan. Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Perusahaan Perkebunan Mento Toelakan.

Baca Juga:  5 Bocah Laki-Laki Dicabuli Temannya Gegara Video Porno

Kini, nama Mento Toelakan menjadi nama dua dusun yang berbeda, yakni Mento dan Tulakan. Kedua dusun itu berada di Desa Wonoharjo, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri.

Sedangkan kawasan perkebunan perusahaan saat ini tersebar menjadi beberapa desa di Sukoharjo, Karanganyar dan Wonogiri. Namun, sebagian besar berada di Wonogiri.

Fakta-fakta mengenai adanya perusahaan serat terbesar dan terbaik pada masa Hindia Belanda itu disampaikan Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Komisariat Wonogiri, Dennys Pradita, saat berbincang dengan Solopos.com, pekan lalu.

Koleksi Digital Universitas Leiden

Penelitian tentang perusahaan perkebunan dilakukan Dennys bersama anggota MSI Wonogiri. Penelitian diawali dengan mengumpulkan arsip Belanda yang tersimpan di delpher.nl dan koleksi digital Universitas Leiden.

MSI Wonogiri juga mengecek ke lokasi dan menemukan sejumlah peninggalan yang diyakini dulu digunakan untuk aktivitas perusahaan perkebunan serat tersebut. Selain itu, mereka mendatangi anak dari mandor perusahaan yang dulu bekerja di sana.

Baca Juga:  Proses Pembuatan E-KTP ke Depan Cukup Sampai Desa dan Kelurahan

Dennys mengatakan Perusahaan Perkebunan Mento Toelakan menjadi sebuah perlawanan stigma Wonogiri sebagai kawasan yang tandus dan gersang. Hal itu dibuktikan dengan adanya kawasan perkebunan serat terbesar dan terbaik se-Hindia Belanda pada masa itu.

Menurut hasil penelitian Dennys dan rekan-rekannya, perusahaan itu berdiri pada 1897 dan berakhir pada akhir 1940-an ketika masa revolusi kemerdekaan. Ada pun luas perkebunan perusahaan itu sekitar 1.000 hektare.

Perusahaan milik swasta dari Belanda. Pemilik dan kepala kebun perusahaannya pun berganti-ganti. Di perkebunan itu, kata Dennys, ada tiga jenis tanaman serat. Ada serat Nanas atau dikenal dengan sebutan serat Konas, serat tumbuhan Rami dan serat Yute Jawa. Selain itu ada tumbuhan kapas dan kapuk.

Membuat Tali Tambang Kapal

 

"Pengolahannya itu daun tumbuhan diambil dan direndam di kolam. Kemudian dipintal atau digulung sebelum dibuat berbagai jenis produk. Serat yang bagus itu tingginya hingga dua meter," katanya saat ditemui di kawasan Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri.

Serat yang dihasilkan dari kebun itu berkarakter kuat sehingga digunakan juga untuk membuat tali tambang kapal, karung goni, benang, tas jaring, tempat tidur gantung, kabel, tikar, dan alat senam.

Dennys menuturkan tumbuhan yang ditanam di Kebun Mento Toelakan berasal dari Benua Amerika. Meski berada di pinggiran Wonogiri, tumbuhan itu cocok ditanam di sana dan menghasilkan olahan serat terbaik.

Tak mengherankan, pada saat itu perusahaan perkebunan di Wonogiri itu mendapatkan dua penghargaan yakni penghasil serat nanas dan serat yute jawa terbaik di Hindia Belanda pada 1911. Selain itu Mento Toelakan menjadi Pusat Pembibitan serat nanas dan Percobaan Traktor perkebunan (Fordson) pada abad ke-20.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini