Haiti Umumkan Keadaan Darurat Pengepungan Pasca Pembunuhan Presiden Jovenel Moise

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 08 Juli 2021 14:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 08 18 2437541 haiti-umumkan-keadaan-darurat-pengepungan-pasca-pembunuhan-presiden-jovenel-moise-56yqfkkEtL.JPG Polisi berjaga di sekitar kediaman Presiden Haiti Jovenel Moise yang dibunuh orang-orang bersenjata di rumahnya di Port Au Prince, Haiti, 7 Juli 2021. (Foto: Reuters)

PORT AU PRINCE – Perdana Menteri (PM) sementara Claude Joseph mengumumkan keadaan darurat tingkat tertinggi kedua di Haiti setelah pembunuhan Presiden Jovenel Moise.

“Kami memutuskan untuk mendeklarasikan Keadaan Pengepungan (di) seluruh negeri,” kata Joseph dalam pidato yang disiarkan di televisi nasional setelah pertemuan darurat Dewan Menteri Haiti.

BACA JUGA: Presiden Haiti Tewas Dibunuh di Rumahnya, Istrinya Tertembak 

"Kami tidak ingin negara ini terjerumus ke dalam kekacauan," tambahnya sebagaimana dilanisir RT.

Deklarasi Keadaan Pengepungan adalah keadaan darurat tingkat tertinggi kedua, di bawah Keadaan Perang. Status Keadaan Pengepungan melibatkan jam malam, kontrol atas media dan penduduk sipil, dan penutupan perbatasan.

Darurat militer diberlakukan sementara dan tentara dikerahkan untuk membantu polisi dalam menjaga hukum dan ketertiban. Menurut perintah dalam lembaran resmi negara yang diterbitkan pada Rabu (7/7/2021), Keadaan Pengepungan dijadwalkan untuk diberlakukan selama 15 hari.

BACA JUGA: Pembunuh Presiden Haiti Menyamar Sebagai Agen Dinas Anti-Narkoba AS

Dalam pidatonya, perdana menteri meminta orang-orang untuk “tetap tenang” dan membantu pemerintah melalui “masa-masa sulit” ini. Dia juga berulang kali menyatakan bahwa situasinya “terkendali.”

Presiden Haiti Jovenel Moise dibunuh dalam serangan malam hari di kediamannya pada Rabu. Ibu Negara Martine Moise juga terluka dalam serangan itu dan dalam kondisi stabil tetapi kritis.

Perdana Menteri Sementara Claude Joseph mengutuk apa yang disebutnya "tindakan barbar" yang dilakukan oleh sekelompok individu tak dikenal, yang berbicara "Inggris dan Spanyol."

Pembunuhan itu telah menuai kecaman dari beberapa negara asing, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Tetangga Haiti, Republik Dominika, dilaporkan memerintahkan penutupan perbatasannya atas insiden tersebut dan meningkatkan pengawasan.

Moise – pengekspor pisang yang menjadi politisi – telah lama terlibat dalam ketegangan dengan oposisi, yang menuduhnya melampaui mandatnya dan berusaha mengubah negara menjadi kediktatoran – sesuatu yang berulang kali dia tolak.

Presiden telah memerintah dengan dekrit sejak Januari 2020, ketika masa jabatan parlemen terakhir berakhir tetapi tidak ada pemilihan umum yang diadakan. Pemilihan parlemen baru dijadwalkan pada September.

Pada Februari, pihak berwenang Haiti mengatakan 23 orang, termasuk seorang hakim Mahkamah Agung dan seorang perwira tinggi polisi, ditangkap dalam apa yang kemudian disebut Moise sebagai upaya kudeta dan pembunuhan yang gagal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini