Kidung Panji Wijayakrama melaporkan bahwa 10 hari setelah pengusiran pasukan Tartar (Mongol), Mahisa Anabrang yang memimpin ekspedisi ke Melayu tahun 1275, pulang membawa dua orang putri bernama Dyah Dara Petak dan Dara Jingga.
Dara Petak disebutnya sebagai sang Anwan Inapati “yang muda diperistri (oleh Baginda)”. Kedatangan kedua perempuan dari Melayu ini adalah hasil diplomasi persahabatan yaang dilakukan oleh Kertanegara kepada raja Dharmasraya di Jambi untuk bersama-sama membendung pengaruh Kublai Khan.
Atas dasar rasa persahabatan inilah Raja Dharmasraya, Srimat Tribhuwanarāja Mauliwarmadewa, mengirimkan dua cucunya, Dara Petak dan Dara Jingga, untuk dinikahkan dengan bangsawan Singasari (karena belum tahu Singasari telah runtuh). Dari Dara Petak, Wijaya memiliki anak lelaki bernama Kala Gemet.
Sementara itu, Nagarakretagama menyebut bahwa Dyah Indreswari beranak Jayanagara yang kemudian menggantikan Kertarajasa pada 1309 (Muljana, 2006: 132).
Dari dua sumber ini, dapat ditafsirkan bahwa Kala Gemet dan Jayanagara adalah orang yang sama dan juga bahwa Dyah Indeswari adalah “nama Jawa” dari Dara Petak setelah berada di Majapahit.
Tribhuwaneswari sangat ulung dalam permainan kata (mahalalita), Sri Mahadewi Narendraduhita menjadi landasan percintaan Baginda; Sri Jayendradewi, biasa disebut Prajnyaparamitā, begitu setia dan berperilaku luhur; dan Dewi Gayatri, biasa dipanggil Rajapatni, paling bungsu, sangat cantik dan paling disayangi oleh Baginda.
Hubungan Sri Kertarajasa dengan Gayatri dilukiskan bagai sepasang Dewa Siwa dengan Dewi Uma. Nama Rajapatni sendiri tercantum pada Piagam Kertarajasa tahun 1305.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.