Aksara arab pegon berbahasa Jawa ini punya cerita tersendiri di kalangan para kiai NU untuk persoalan strategis menghadapi penjajah. Penjajah yang senantiasa mengendus gerak-gerik para kiai dan santri kala itu juga terus berupaya dengan memahami apa yang mereka sebar melalui media. Dengan menulis informasi dan kabar menggunakan aksara pegon, penjajah tidak akan mengerti isi dari berita-berita yang NU sebarkan.
Terbitnya Swara Nahdlatoel Oelama disusul munculnya majalah Oetoesan Nahdlatoel Oelama pada Januari 1928. Kemudian majalah Berita Nahdlatoel Oelama pada tahun 1931. Tiga majalah itu hidup berdampingan.
Majalah yang disebut terakhir masih terbit hingga pada tahun 1953. Ada juga Swara Ansor NO dan Soeloeh Perdjoeangan. Tumbuhnya media-media NU pada zaman penjajahan tersebut menunjukkan bahwa peran dan fungsi media sangat dibutuhkan oleh para kiai NU dalam berdakwah maupun mendorong propaganda kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan.
Namun demikian, munculnya gerakan-gerakan NU di bidang pers dan jurnalisme, utamanya adalah edukasi keagamaan, sosial, budaya, dan politik kebangsaan.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.