Sumbang 94,8 Persen Total Kasus, Covid Varian Delta Mendominasi Italia

Antara, · Sabtu 31 Juli 2021 14:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 31 18 2448903 sumbang-94-8-persen-total-kasus-covid-varian-delta-mendominasi-italia-XKjdMqyfcd.jpg Foto: Reuters.

MILAN - Covid-19 Varian Delta mendominasi Italia, demikian disampaikan Institut Kesehatan Nasional (ISS) pada Jumat (30/7/2021). Data ISS menunjukkan varian Delta telah menyumbang 94,8 persen kasus Covid-19 di Italia sejak 20 Juli.

Varian yang pertama kali ditemukan di India pada Desember 2020 itu kini menjadi dominan di dunia dan menyebabkan lonjakan tingkat infeksi yang memicu kekhawatiran pemulihan ekonomi global.

BACA JUGA: Penularan Covid-19 di Nanjing China Paling Luas Setelah Wuhan 

Dalam survei sebelumnya berdasarkan data per 22 Juni, varian Delta hanya menyumbang 22,7 persen kasus. Sebaliknya, varian Alpha menyumbang 3,2 persen kasus sejak 20 Juli versus 57,8 persen dari data sebelumnya.

"Sangat penting untuk melanjutkan pelacakan kasus secara sistematis dan merampungkan siklus vaksinasi secepat mungkin," kata Kepala ISS Silvio Brusaferro melalui pernyataan.

ISS mengklaim survei mereka tidak mencakup semua kasus varian, tetapi hanya yang terdeteksi pada hari itu.

BACA JUGA: Covid Varian Delta Mulai Menjamur di Italia

Pihaknya menambahkan bahwa varian Gamma, yang pertama kali muncul di Brasil, berkurang menjadi 1,4 dari 11,8 persen dalam survei terdahulu.

ISS juga menunjukkan "peningkatan yang sangat tipis" dalam kasus varian Beta, yang mulanya terdeteksi di Afrika Selatan, yang katanya ditandai oleh pengelakan imun secara parsial.

Italia mencatat 128.029 kematian Covid-19 sejak wabah melanda negara tersebut pada Februari tahun lalu. Angka tersebut merupakan yang tertinggi kedua di Eropa setelah Inggris, dan tertinggi kedelapan di dunia.

Hingga kini, tercatat pula 4,34 juta kasus Covid-19 di negara tersebut.

Hingga Jumat, hampir 59 persen warga Italia yang berusia 12 tahun ke atas telah mendapatkan dosis vaksin lengkap, sementara sekira 10 persen masih menunggu dosis kedua.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini