Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Kemerdekaan RI: Mengerikannya Bom Atom "Little Boy" dan "Fat Man" yang Hempaskan Jepang

Tim Okezone , Jurnalis-Senin, 16 Agustus 2021 |06:30 WIB
 Cerita Kemerdekaan RI: Mengerikannya Bom Atom
Ledakan bom atom di Kota Hirosima pada 6 Agustus 1945 (foto: istimewa)
A
A
A

Penelitian yang dipimpin Dr. James V. Neel ini menemukan bahwa jumlah kecacatan kelahiran di kalangan anak-anak penyintas yang hamil saat pengeboman tidak terlalu tinggi. National Academy of Sciences mempertanyakan prosedur Neel yang tidak menyaring populasi Kure atas dugaan paparan radiasi.

Di antara kecacatan kelahiran yang diamati peneliti, jumlah kasus malformasi otak di Nagasaki dan Hiroshima, termasuk mikroensefalus dan anensefali, lebih banyak 2,75 kali lipat daripada jumlah kasus di Kure. Demikian penelusuran Okezone dari berbagai sumber.

Dan pada tahun 1985, genetikawan manusia dari Universitas Johns Hopkins James F. Crow mempelajari penelitian Neel dan membenarkan bahwa jumlah kecacatan kelahiran di Hiroshima dan Nagasaki tidak terlalu tinggi. Banyak anggota ABCC dan penggantinya, Radiation Effects Research Foundation (RERF), yang masih mencari potensi kecacatan kelahiran atau penyebab lain di kalangan penyintas beberapa puluh tahun kemudian, namun gagal menemukan bukti persebaran kecacatan di kalangan penyintas.

Namun, sejarawan Ronald E. Powaski menulis bahwa Hiroshima mengalami "peningkatan jumlah kelahiran mati, kecacatan kelahiran, dan kematian bayi" setelah pengeboman atom. Neel juga meneliti masa hidup anak-anak yang selamat dari pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. Ia melaporkan bahwa antara 90% sampai 95% anak-anak tersebut masih hidup 50 tahun kemudian.

Sekitar 1.900 korban tewas akibat kanker dapat ditelusuri penyebabnya pada efek bom atom. Kajian epidemiologi oleh RERF menyatakan bahwa sejak tahun 1950 sampai 2000, 46% penderita leukemia yang meninggal dan 11% penderita kanker padat yang meninggal di kalangan penyintas bom diakibatkan oleh radiasi bom. Persentase tersebut mewakili 200 penderita leukemia dan 1.700 penderita kanker padat. (din)

(Rani Hardjanti)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement