PADA 6 AGUSTUS 1945 atau sekiranya 76 tahun lalu, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom uranium “Little Boy” di Hiroshima. Sebuah serangan nuklir pertama dari Amerika dengan memakan korban jiwa 90-166 ribu manusia.
Tragedi itu terjadi ketika Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman meminta Jepang untuk menyerah dalam 16 jam, lalu memberi peringatan akan adanya hujan reruntuhan dari udara yang belum pernah terjadi sebelumnya di muka bumi.
Baca juga: PM Jepang Minta Maaf Usai 'Lompati' Pidato Saat Peringatan Bom Atom Hiroshima
Dan pada tanggal 6 Agustus 1945 tepatnya pukul 09.15 pagi waktu Tokyo, pesawat pembom B-29 Enola Gay, yang dikemudikan oleh Paul W. Tibbets, terbang di langit Hiroshima. Misinya adalah untuk mengejutkan Tokyo agar menerima syarat penyerahan tanpa syarat Deklarasi Potsdam. Tanpa disangka pemerintah Jepang, pesawat itu menjatuhkan sebuah bom atom uranium bernama Little Boy di Hiroshima.
Dalam hitungan menit, kota terbesar ketujuh di Jepang ini telah rata dengan tanah dan ribuan orang menjadi korban. Bahkan kira-kira 30 detik setelah bom diledakkan sebuah badai api muncul di tengah kehancuran. Orang-orang yang berada dalam jarak 300 kaki dari titik ledakan menguap seketika. Ledakan dan panas juga menanggalkan kulit dari tubuh, melelehkan bola mata, dan meledakkan perut.
Tiga hari berselang, saat tanggal 9 Agustus pesawat B-29 Bock's Car meluncur untuk mengebom Kokura. Akan tetapi, asap yang mengepul di atas sasaran menyebabkan pilot Sweeney mencari target alternatif lain yaitu Nagasaki.
Sekiranya pada pukul 11.02 pagi, Kota Nagasaki hancur luluh lantah akibat bom yang disebut 'Fat Man'. Bom itu meledak pada ketinggian 1.800 kaki untuk memaksimalkan dampak ledakan tersebut.
Bom meratakan bangunan, menghancurkan sistem kelistrikan, dan menimbulkan kebakaran. Bom tersebut menghancurkan sekitar 39 persen kota Nagasaki, dan memakan korban ribuan penduduk.
Baca juga: PM Jepang Dikecam Karena Pidato "Identik" di Peringatan Bom Atom Hiroshima-Nagasaki
Dalam kurun dua sampai empat bulan pertama setelah pengeboman terjadi, dampaknya menewaskan 90.000–146.000 orang di Hiroshima dan 39.000–80.000 di Nagasaki. Kurang lebih separuh korban di setiap kota tewas pada hari pertama.
Pasca-“Little Boy” memporak porandakan Hiroshima dan "Fat Man" menghancurkan Nagasaki, Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman mendirikan Atomic Bomb Casualty Commission (ABCC) pada musim semi 1948. Didirikannya ABCC untuk melakukan penyelidikan mengenai dampak radiasi terhadap penyintas di Hiroshima dan Nagasaki.
Salah satu penelitian pertama yang dilakukan ABCC adalah kehamilan di Hiroshima dan Nagasaki, dan di kota kendali Kure yang terletak 18 mi (29 km) di selatan Hiroshima, untuk mempelajari kondisi dan hasil kehamilan akibat paparan radiasi.
Penelitian yang dipimpin Dr. James V. Neel ini menemukan bahwa jumlah kecacatan kelahiran di kalangan anak-anak penyintas yang hamil saat pengeboman tidak terlalu tinggi. National Academy of Sciences mempertanyakan prosedur Neel yang tidak menyaring populasi Kure atas dugaan paparan radiasi.
Di antara kecacatan kelahiran yang diamati peneliti, jumlah kasus malformasi otak di Nagasaki dan Hiroshima, termasuk mikroensefalus dan anensefali, lebih banyak 2,75 kali lipat daripada jumlah kasus di Kure. Demikian penelusuran Okezone dari berbagai sumber.
Dan pada tahun 1985, genetikawan manusia dari Universitas Johns Hopkins James F. Crow mempelajari penelitian Neel dan membenarkan bahwa jumlah kecacatan kelahiran di Hiroshima dan Nagasaki tidak terlalu tinggi. Banyak anggota ABCC dan penggantinya, Radiation Effects Research Foundation (RERF), yang masih mencari potensi kecacatan kelahiran atau penyebab lain di kalangan penyintas beberapa puluh tahun kemudian, namun gagal menemukan bukti persebaran kecacatan di kalangan penyintas.
Namun, sejarawan Ronald E. Powaski menulis bahwa Hiroshima mengalami "peningkatan jumlah kelahiran mati, kecacatan kelahiran, dan kematian bayi" setelah pengeboman atom. Neel juga meneliti masa hidup anak-anak yang selamat dari pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. Ia melaporkan bahwa antara 90% sampai 95% anak-anak tersebut masih hidup 50 tahun kemudian.
Sekitar 1.900 korban tewas akibat kanker dapat ditelusuri penyebabnya pada efek bom atom. Kajian epidemiologi oleh RERF menyatakan bahwa sejak tahun 1950 sampai 2000, 46% penderita leukemia yang meninggal dan 11% penderita kanker padat yang meninggal di kalangan penyintas bom diakibatkan oleh radiasi bom. Persentase tersebut mewakili 200 penderita leukemia dan 1.700 penderita kanker padat. (din)
(Rani Hardjanti)