Kisah Pilu Keluarga Ngadiono, Tinggal di Kandang Sapi Gegara Usaha Bangkrut Terlilit Utang

Kismaya Wibowo, iNews · Rabu 01 September 2021 11:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 01 510 2464317 kisah-pilu-keluarga-ngadiono-tinggal-di-kandang-sapi-gegara-usaha-bangkrut-terlilit-utang-a9zsZcJhaD.jpg Keluarga Ngadiono tinggal di kandang sapi (Foto: Kismaya Wibowo)

GUNUNGKIDUL - Satu keluarga miskin di Gunungkidul, Yogyakarta ini kisahnya terbilang miris. Lantaran terlilit utang, satu keluarga ini harus tinggal bersama kotoran sapi dan hewan ternak kambing dan sapi karena mereka tidak memiliki rumah.

Kandang sapi yang ditempatinya tersebut pun jauh dari kata layak, hanya ada tikar sebagai ruang tamu dan juga untuk menutupi dari terik matahari pihak keluarga hanya menggunakan terpal agar jika malam hari mereka tidak kedinginan.

Baca Juga:  Mahasiswa Nekat Menjambret HP Wanita yang Berjalan di Depan Masjid Nurul Huda Yogyakarta

Profesi sang suami yang hanya buruh tani menyebabkan mereka sulit untuk terbebas dari belenggu kemiskinan.

Di kandang sapi inilah, Ngadiono (50) dan Sumini (44) bersama 4 orang anaknya yang merupakan warga Kedungranti, Desa Kedungpoh, Kecamatan Nglipar, Gunungkidul, Yogyakarta ini tinggal.

Faktor kemiskinan yang melanda menyebabkan satu keluarga ini harus tinggal bersama kotoran sapi dan juga hewan ternak milik mereka berupa kambing, sapi dan juga ayam. Kisah pilu keluarga miskin ini berawal ketika Ngadiono memiliki utang ke sebuah bank pada periode 2007 lalu sebesar Rp15 juta untuk modal usaha berjualan sayur.

Namun sayang, usaha yang dibangun tersebut justru gagal dan menyebabkan keluarga tersebut terjerat utang rentenir atau bank plecit hingga mencapai angka puluhan juta rupiah.

Baca Juga:  Yogyakarta dan Bali Masih Berada di PPKM Level 4

Pada periode 2015 lalu pihak keluarga memutuskan untuk merantau ke Sumatera, namun akhirnya memutuskan kembali pada 2018 karena dirasa tidak ada perubahan sama sekali.

Sejak 2018 lalu, satu keluarga ini memutuskan untuk tinggal di hutan negara milih pemerintah yang berada pada tengah hutan dan jauh dari permukiman warga untuk memulai kisah yang baru dengan cara menggarap lahan perhutani milik pemerintah dengan hasil yang terbilang pas - pas an.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini