JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengenang pidato Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang menggetarkan dunia di Markas Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat, pada 30 September 1960 silam.
Menurut Muhadjir, pidato Bung Karno di forum dunia itu menjadi momentum bersejarah yang terus dikenang hingga saat ini. Kehadiran Bung Karno di Markas PBB tidak hanya mengatasnamakan Presiden RI, tetapi juga mewakili rintihan bangsa-bangsa yang sedang dijajah oleh kekuatan kolonialisme dan imperialisme. Karenanya Bung Karno tidak hanya pemimpin nasional, tetapi juga dunia.
"Bung Karno bukan hanya pemimpin Indonesia, tapi juga pemimpin dunia dan beliau bukan hanya pemimpin, tetapi juga pelopor untuk memnuka era perjalanan dunia baru," ujar Muhadjir dalam webinar 'Peringatan 61 Tahun Pidato Bung Karno di PBB' yang digelar PP Bamusi, Kamis (30/9/2021).
Muhadjir menyebut Bung Karno lantang menentang dominasi negara yang terus menggelorakan imperialisme dan kolonialisme. Proklamator RI itu juga memperkenalkan istilah neokolonialisme atau kolonialisme gaya baru yang mesti ditentang keberadaannya. Muhadjir menganggap pidato Bung Karno di Markas PBB 1960 masih relevan hingga saat ini.
"Dalam rangka menggelorakan pidato dan ruh semangat jihad dari Bung Karno ketika pidato di Majelis Umum PBB 1960 itu, tetap masih relevan untuk saat saat ini," ucap Ketua PP Muhammadiyah itu.
Muhadjir juga mengungkapkan Bung Karno adalah pelopor gerakan non blok di forum dunia itu. Bung Karno tidak ingin berpihak ke salah satu blok yang terlibat pertikaian yakni blok barat dan timur. Gerakan non blok ini diharapkan menjadi kekuatan baru dunia yang diperhitungkan.