Namun kesaksian dari Kim akan menimbulkan pikiran sebaliknya.
"Di Korea Utara, terorisme adalah alat politik yang melindungi martabat tertinggi Kim Jong-il dan Kim Jong-un,” ujarnya.
"Itu adalah hadiah untuk menunjukkan kesetiaan penerus kepada pemimpin besarnya,” ungkapnya.
Ada lebih banyak lagi kejadian serupa yang terjadi selanjutnya. Setahun kemudian, pada 2010, sebuah kapal angkatan laut Korea Selatan, Cheonan, tenggelam setelah terkena torpedo. Empat puluh enam nyawa hilang. Pyongyang selalu membantah keterlibatannya.
Kemudian, pada November tahun itu, belasan peluru artileri Korea Utara menghantam pulau Yeonpyeong di Korea Selatan. Dua tentara dan dua warga sipil tewas.
Ada banyak perdebatan tentang siapa yang memberi perintah untuk serangan itu. Kim mengatakan dia "tidak terlibat langsung dalam operasi di Cheonan atau Pulau Yeonpyeong", tetapi mereka "bukan rahasia bagi petugas RGB, mereka diperlakukan dengan bangga, sesuatu untuk dibanggakan".
Dan operasi itu tidak akan terjadi tanpa perintah dari atas, katanya.
“Di Korea Utara, bahkan ketika sebuah jalan dibangun, harus mendapat persetujuan langsung dari Pemimpin Tertinggi untuk dapat dilakukan. Penenggelaman Cheonan dan penembakan Pulau Yeonpyeong bukanlah hal yang bisa dilakukan oleh bawahan,” jelasnya.
"Pekerjaan militer semacam ini dirancang dan dilaksanakan oleh perintah khusus Kim Jong-un. Ini sebuah pencapaian,” terangnya.
Kim mengatakan salah satu tanggung jawabnya di Korea Utara adalah mengembangkan strategi untuk menghadapi Korea Selatan. Tujuannya adalah "subordinasi politik".
Pengintaian atau spionase ini melibatkan mata-mata dan telinga di lapangan.
"Ada banyak kasus di mana saya mengarahkan mata-mata untuk pergi ke Korea Selatan dan melakukan misi operasi melalui mereka. Banyak kasus", klaimnya.
Dia tidak merinci, tetapi dia memberi kita satu contoh yang menarik.
"Ada kasus di mana seorang agen Korea Utara dikirim dan bekerja di Kantor Kepresidenan di Korea Selatan dan kembali ke Korea Utara dengan selamat. Itu pada awal 1990-an. Setelah bekerja untuk Blue House (Kantor Kepresidenan Korea Selatan) selama lima sampai enam tahun, dia kembali dengan selamat dan bekerja di Kantor Penghubung 314 Partai Buruh,” paparnya.
"Saya dapat memberitahu Anda bahwa operasi Korea Utara memainkan peran aktif dalam berbagai organisasi masyarakat sipil serta lembaga-lembaga penting di Korea Selatan,” urainya.
BBC tidak dapat memverifikasi klaim ini.