Kisah Pria dengan IQ Rendah yang Akan Dieksekusi Mati, PBB Desak Batalkan Hukuman

Agregasi VOA, · Selasa 09 November 2021 18:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 09 18 2499208 kisah-pria-dengan-iq-rendah-yang-akan-dieksekusi-mati-pbb-desak-batalkan-hukuman-BarlZllR06.jpg Dewan HAM PBB minta eksekusi mati dibatalkan terhadap terdakwa dengan IQ rendah (Foto: Sarmila Dharmalingam)

SINGAPURA - Sekelompok pakar hak asasi manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta Singapura untuk menghentikan eksekusi mati seorang warga negara Malaysia yang menyelundupkan narkoba ke negara itu. Eksekusi tersebut dijadwalkan akan dilakukan pada pekan ini. Penghentian itu dilakukan dengan alasan ia memiliki cacat intelektual atau kecerdasan intelektual (IQ) rendah.

Nagaenthran Dharmalingam, 3, dijadwalkan akan dihukum gantung pada Rabu (10/11). Namun pihak pengadilan menunda eksekusinya sambil menunggu sidang banding pada Selasa (9/11). Reuters melaporkan Singapura memiliki beberapa undang-undang terberat di dunia tentang narkoba.

Pengadilan sebelumnya menolak argumen bahwa hukuman gantung terhadap Nagaenthran akan melanggar konstitusi Singapura karena dia mengalami gangguan intelektual.

 Baca juga: Terpidana Mati Tuntut Negara karena Pemberitahuan Singkat Eksekusi, Minta Ganti Rugi Rp3 Miliar

"Kami sangat prihatin jika banding ditolak, dia masih bisa dieksekusi dalam waktu dekat," kata para ahli dalam sebuah pernyataan.

Para ahli PBB meminta Singapura untuk meringankan hukuman mati terhadap Nagaenthran, sejalan dengan hukum hak asasi manusia internasional.

Baca juga: Terpidana Mati Kasus Pembunuhan Disuntik Mati Usai Jalani 30 Tahun Masa Hukuman

Nagaenthran ditahan pada April 2009 karena menyelundupkan sekitar 42,72 gram diamorfin, atau heroin murni, yang diikatkan di pahanya, ke Singapura. Dia dijatuhi hukuman mati.

Pengacaranya, M Ravi, dan para aktivis mengatakan IQ (kecerdasan intelektual) Nagaenthran ditemukan berada di 69, tingkat yang diakui sebagai cacat mental. Dia juga memiliki gangguan lain yang memengaruhi pengambilan keputusan dan kontrol impulsnya.

Pihak berwenang sebelumnya mengatakan pengadilan Singapura puas bahwa Nagaenthran tahu apa yang dia lakukan ketika dia melakukan pelanggaran.

Kasus ini telah menarik perhatian internasional termasuk dari miliarder Inggris yang mendukung penghapusan hukuman mati Richard Branson yang telah meminta Singapura untuk membebaskan Nagaenthran dari hukuman gantung.

Kantor berita Bernama melaporkan Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob juga telah menulis surat kepada partnernya dari Singapura Lee Hsien Loong untuk meminta keringanan hukuman untuk Nagaenthran.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini