Ini menimbulkan kerusakan hebat, sebab orang-orang berebutan, tidak hanya itu, ini juga merusak moral manusia. "Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan," ungkapnya.
Mereka melupakan undang-undang karena tidak sanggup menahan lapar. "Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia. Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati," lanjut Mas Syarief.
Bencana-bencana melanda, mulai dari hujan tidak tepat waktu, angin besar menerjang dan merobohkan pohon-pohon, dan sungai meluap dan menyebabkan banjir, menghanyutkan kayu, warga, dan bebaguan.
Gunung-gunung besar mengeluarkan lahar panas dan menghancurkan desa maupun hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali.
Semuanya hancur sampai tidak ada yang tertinggal. Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanah pun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah.
"Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia," pungkasnya. (ari)
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.