“Saya datang ke sebuah daerah ada mural dihapus. Ramai. Apa presiden nyuruh kan. Urusan mural, oh urusan mural aja ngapain sih? Wong saya dihina, Saya dimaki-maki, difitnah udah biasa. Ada mural aja takut. Ngapain? Baca ini hati-hati. Ini kebebasan berpendapat,” katanya.
Meski begitu, dia tetap mengingatkan jika sudah menyebabkan ketertiban masyarakat di daerah menjadi terganggu maka akan beda soal.
“Sehingga saya mengapresiasi di balik oleh kapolri membuat lomba mural. Saya kira hasilnya positif,” tuturnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)