Share

Ini Alasan Novia Widyasari Belum Laporkan Oknum Polisi yang Perkosa hingga Paksa Aborsi

Avirista Midaada, Okezone · Senin 06 Desember 2021 00:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 06 340 2512355 ini-alasan-novia-widyasari-belum-laporkan-oknum-polisi-yang-perkosa-hingga-paksa-aborsi-QBpXG8pnlD.jpg Dekanat Universitas Brawijaya dan WCC menggelar konferensi pers soal kasus Novia Widyasari (Foto: MNC Portal)

MALANG - Sebelum bunuh diri, Novia Widyasari ternyata sempat melaporkan adanya tindakan pemaksaan aborsi oleh oknum polisi yang juga kekasihnya. Kisah itu diceritakan kepada salah satu anggota Woman Crisis Center (WCC) pada Agustus 2021.

Perwakilan staf kantor lembaga hukum UB Lucky Endrawati membenarkan, pascakejadian pada 2020 lalu dengan kakak tingkatnya berinisial RAW, korban kembali mendatangi tim layanan hukum meminta untuk diberikan pendampingan psikologis karena mengaku diperkosa dan hamil.

Bahkan dari pemerkosaan oleh oknum polisi berinisial R ini, Novia sempat hamil dua kali dan diminta untuk menggugurkannya dengan meminum pil aborsi.

“Pada Agustus 2021, karena kebetulan saya juga di WCC, NWR ini berkonsultasi ke Mbak Ina petugas WCC, untuk kasus yang sekarang bersama oknum polri,” ucap Lucky Endrawati saat konferensi pers kepada awak media di Gedung Rektorat Universitas Brawijaya, Minggu 5 Desember 2021.

Pakar pidana Fakultas Hukum (FH) UB ini menyatakan, bila sejak Agustus 2021 ini pihaknya rutin berkomunikasi dengan Novia demi mendampingi psikisnya yang terguncang. Sejak Agustus 2021 itu pula tim dari WCC mencoba mendampingi dan mendorong agar melanjutkan kasusnya ke proses hukum.

Baca juga: Paksa Novia Widyasari Aborsi Dua Kali, Oknum Polisi RB Telah Ditahan

“Kita lakukan pendampingan, dan kita kuatkan dulu, selanjutnya proses hukumnya dulu Agustus akhir sampai September kemarin, November masih proses penguatan, untuk menempuh jalur mitigasi,” kata dia.

Baca juga: Polri Pecat Bripda Randy Bagus Secara Tak Hormat dan Seret Kasusnya ke Ranah Pidana

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Perempuan yang juga dosen ini menegaskan, bila dua kasus pelecehan seksual yang dialami Novia pada konteks berbeda. Di mana pada 2017, korban saat itu hanya menerima bentuk pelecehan seksual fisik, tetapi belum sampai pada pemerkosaan.

“Sepengetahuan saya kasus yang terjadi bukan perkosaan, tapi kekerasan seksual. Ini pelecehan secara fisik bukan perkosaan, jenis pelecehan seksual secara fisik dan verbal oleh kakak tingkat,” ungkapnya.

Terkait kasus pelecehan seksual yang dialami mahasiswi asal Mojokerto itu oleh seniornya di kampus, pihak UB juga telah membentuk tim etik, termasuk dirinya yang ada di tim tersebut. Dari tim itu mencoba mendampingi psikis korban, sambil terus mendorong agar Novia bisa melaporkan kasus tersebut ke ranah hukum. Begitu pun yang terjadi saat kasus kedua yang menimpanya dengan oknum polisi berinisial R.

“Kami berpijak pada laporan resmi, harus ada legal standingnya korban sendiri yang laporan. Itu yang menjadi penegasan terkait perbuatan materiil kakak tingkatnya, dalam hukum itu yang harus laporan langsung korbannya,” paparnya.

Baca juga: Novia Widyasari Tewas Bunuh Diri, Sahabat Janji Lanjutkan Perjuangannya

Penguatan pun terus dilakukan oleh tim termasuk dari WCC Dian Mutiara hingga bulan November 2021 lalu. Tetapi dirinya juga terkejut saat menerima kabar korban telah meninggal karena bunuh diri pada Kamis 2 Desember 2021 lalu.

Baca juga: Usut Kasus Novia Widyasari, Polri Bakal Tindak Tegas Bripda Randy

“November masih proses penguatan untuk menempuh jalur mitigasi, hingga korban dikabarkan pada Jumat pagi meninggal. Memang NWR ini sempat lapor ke WCC Dian Mutiara, tapi masih proses mitigasi, ingin berkonsultasi dan masih mitigasi pendampingan,” tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini