20 Mahasiswa Dihukum Mati Atas Pembunuhan Brutal di Kampus

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 09 Desember 2021 14:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 09 18 2514437 20-mahasiswa-dihukum-mati-atas-pembunuhan-brutal-di-kampus-3WINOSt0pb.jpg Abrar Fahad dipukuli selama berjam-jam hingga tewas karena mengkritik pemerintah. (Foto: Facebook)

DHAKA – Dua puluh pemuda dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Bangladesh karena membunuh sesama mahasiswa yang mengkritik pemerintah melalui media sosial di halaman kampus. Lima terdakwa lainnya dipenjara seumur hidup.

Pengadilan juga memerintahkan para terdakwa membayar denda masing-masing 50.000 taka Bangladesh (sekira Rp8,3 juta).

BACA JUGA: Gara-Gara Kritik Pemerintah, Mahasiswa Ini Dipukuli Berjam-jam Hingga Tewas

Mereka yang dijatuhi hukuman mati berkisar antara 20 hingga 22 tahun dan kuliah di Universitas Teknik dan Teknologi Bangladesh (BUET) di Ibu Kota Dhaka, ketika pembunuhan itu terjadi pada 2019. Tiga dari terdakwa masih buron dan dihukum secara in absentia, demikian dilaporkan The Daily Star.

Pada Oktober 2019, Abrar Fahad, mahasiswa teknik elektro tahun kedua, ditemukan tewas di tangga sebuah asrama. Menurut jaksa, dia dipukuli dengan tongkat kriket dan benda tumpul lainnya selama enam jam oleh sesama siswa.

BACA JUGA: Aksi Kekerasan Terkait Pemilu di Bangladesh Tewaskan 17 Orang

Media Bangladesh melaporkan pada saat itu bahwa Fahad diserang setelah membuat posting Facebook yang mengkritik pemerintah karena melakukan kesepakatan pembagian air dengan India. Pelajar tersebut dilaporkan berargumen bahwa kesepakatan tentang Sungai Feni bertentangan dengan kepentingan Bangladesh, demikian diwartakan RT.

Para penyerang dikatakan anggota sayap mahasiswa Liga Awami (AL), sebuah partai politik besar di Bangladesh. Semua terdakwa dikeluarkan dari universitas karena hubungannya dengan kasus tersebut.

Pembunuhan brutal Fahad memicu protes di kampus-kampus di seluruh negeri. Selama persidangan, delapan terdakwa memberikan pernyataan pengakuan, menurut media.

Pengadilan dikutip mengatakan bahwa hukuman mati dan hukuman seumur hidup dipilih untuk memastikan bahwa pembunuhan semacam itu tidak terulang.

"Saya senang dengan putusan itu," kata ayah Fahad, Barkat Ullah, kepada wartawan di luar pengadilan. “Jiwa Abrar akan tenteram jika putusan itu segera ditegakkan.”

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini