JAKARTA - Innalilahi Wainnailaihi rojiun. Telah berpulang ke rahmatullah Widaningsri Soesilo Soedarman, istri Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan pada Kabinet Pembangunan VI (1993—1998), Soesilo Soedarman.
Kabar duka tersebut diberitakan pada Senin, 14 Desember 2021. Widaningsri meninggal dunia di di kediamannya, Jalan Panglima Polim III Nomor 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Jenazah Widaningsri akan diterbangkan ke Cilacap pada Rabu pagi, 15 Desember 2021, untuk dimakamkan di Pemakaman Keluarga Mukti Wibowo Mulyo (MWM), pada Desa Gentasari. Kompleks Pemakaman ini terletak dibelakang Museum Soesilo Soedarman, yang merupakan tempat kelahiran Soesilo pada 1928.
Baca juga: Haji Lulung Dimakamkan di TPU Karet Bivak Usai Sholat Ashar
Sedang sang suami, Soesilo Soedarman meninggal dunia pada tanggal 18 Desember 1997 dalam usia 69 tahun di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Jenazah Soesilo Soedarman dimakamkan di TMP Kalibata, Bertindak inspektur upacara Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Wiranto.
Widaningsri lahir di Lamongan, Jawa Timur pada 20 Januari 1931. Widaningsri adalah putri Pahlawan Nasional Muhammad Mangundiprojo. Muhammad Mangundiprojo menjadi tokoh sentral dalam peristiwa Gedung Internatio. Mangundiprojo sempat disandera dalam gedung, yang mengakibatkan Jenderal Mallaby terbunuh di depan gedung.
Baca juga: Oded M Danial Meninggal Dunia, Wakil Wali Kota Bandung Sampaikan Duka Mendalam dari Bali
Peristiwa ini mengakibatkan gempuran Kota Surabaya oleh Tentara Sekutu, yang melahirkan Hari Pahlawan 10 November 1945.
Pada saat Jenderal Sudirman memimpin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Jawa Tengah, Jenderal Mayor Muhammad Mangundiprojo memimpin TKR di Jawa Timur bersama Bung Tomo, dan Doel Arnowo.
Saat perlawanan oleh arek-arek Suroboyo, Widaningsri tidak mengungsi dan tetap berada di Surabaya. Ia mendengar kabar ayahnya terkena mortir dan meninggal di Wonokromo, pada perbatasan kota Surabaya. Widaningsri menemukan ayahnya yang terkena pecahan mortir tertanam di kepalanya, tetapi tidak meninggal.
Muhammad Mangundiprojo kemudian kembali memimpin pertempuran Surabaya.
Menjelang Agresi Militer Belanda di tahun 1948, Widaningsri bersama ayahnya berada di Jogjakarta.
Di sinilah ia bertemu kadet Taruna, yang akhirnya menjadi suaminya, yaitu Soesilo Soedarman. Mereka menikah pada 1951. Widaningsri bersama suaminya Soesilo Soedarman kemudian bertolak ke Padalarang.
Sang Suami sebagai perwira Kavaleri, hampir setiap malam, berpatroli dengan pasukan lapis baja pada jalan antara Jakarta dan Bandung. Karena adanya pemberontakan Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia (DI TII), Batalyon Kavaleri Badak Bercula Satu, selalu berupaya menumpas para pengganggu keamanan pada jalan tersebut.
Terkadang pada pagi hari, Widaningsri sering ikut membantu korban TNI yang terluka dari dalam tank. Tentara TNI terluka setelah pertempuran pada malam harinya, di jalan sekitar Raja Mandala.
Menjelang pemberontakan Gerakan 30 September 1965, seluruh keluarga Soesilo pindah ke Magelang, dengan tugas membina para calon pimpinan TNI pada Pendidikan Akademi Angkatan Bersenjata RI (AKABRI).
Setelah itu, Widaningsri kemudian menjadi ibu Asuh Taruna, mengasuh para calon Jenderal dan calon pimpinan TNI, seperti Endiartono Sutarto, Agum Gumelar, dan Luhut Pandjaitan.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.