Share

Tato Mentawai dan Dayak, Jati Diri dan Penerang Jalan Menuju Keabadian

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Rabu 12 Januari 2022 14:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 12 340 2531081 tato-mentawai-dan-dayak-jati-diri-dan-penerang-jalan-menuju-keabadian-mLKHY60p6e.jpg Tato Mentawai. (Foto: Rus Akbar/Okezone.com)

TATO di Nusantara sudah muncul sejak zaman nenek moyang. Seni rajah ini menjadi hal yang sakral dan luhur bagi masyarakat di beberapa suku.

Bagi mereka, tato tidak boleh dilepas atau bahkan dihapuskan dari adat istiadat mereka. Karena itu, budaya tato masih diturunkan dari generasi ke generasi sebagai warisan yang suci.

Motif dan pengerjaannya juga tidak boleh sembarangan karena punya makna mendalam. Di Indonesia, tradisi unik ini bisa ditemukan setidaknya di tiga suku. Salah satunya di Mentawai, yang menjadi tertua di dunia.

Berikut 3 tradisi tato yang berasal dari suku di Indonesia:

1. Tato Mentawai, Tato Tertua di Dunia

Berasal dari Suku Mentawai, Sumatra Barat, dinobatkan sebagai tato tertua di dunia sejak 1500 M. Bahkan, usianya lebih tua dari tato Mesir yang baru muncul pada 1300 SM.

Tato Mentawai merupakan sebuah seni melukis di atas kulit. Tinta yang dipakai berasal dari arang kayu atau bekas pembakaran yang dihaluskan dan dicampur dengan perasan tebu.

Setelah itu, duri atau jarum dicelupkan pada tinta dan ditusukkan pada lapisan kulit membentuk rupa-rupa motif. Tato dapat diberikan pada bagian mata kaki, jari, dada rusuk, leher, hingga pipi.

Foto: Rus Akbar

Masyarakat Suku Mentawai menganggap tato tersebut merupakan busana abadi yang dapat dibawa mati. Tato Mentawai memiliki makna tersendiri.

Tato itu berfungsi untuk menunjukkan jati diri dan perbedaan status sosial dalam masyarakat. Objek seperti batu, hewan, dan tumbuhan dalam tradisi orang Mentawai harus diabadikan di tubuh mereka.

2. Tato Dayak

Dayak merupakan tato yang berasal dari Suku Dayak, Kalimantan. Seorang perajin seni tato Dayak, David Christian, mengungkapkan bahwa alat yang digunakan untuk membuat lubang kecil dalam tubuh adalah duri pohon jeruk atau salak.

Kemudian duri tersebut dioleskan pada tinta jelaga yang telah dicampur dengan madu. Madu dipakai untuk meminimalisasi infeksi pada kulit.

Motif tato di kalangan Suku Dayak cukup beragam, mulai dari salampang mata andau, buah andu, buah terung, burung enggang, hingga kalajengking. Semua motif itu memiliki makna tersendiri.

Misalnya, motif tato salampang mata andau. Tato yang biasanya dibuat di betis kaki warga suku Dayak itu merupakan simbol tombak matahari bagi warga Dayak yang sudah menginjak usia dewasa. Harapannya kelak pengguna tato salampang mata andau dapat menjadi pribadi yang cekatan.

Secara umum, tato Dayak menjadi simbol filosofi spiritual tentang kedewasaan dan jalan kebenaran. Persamaan dari semua motif ini, tato Dayak selalu didominasi dengan warna hitam.

Menurut Elok Feni Sia dalam tulisannya yang berjudul "Pemaknaan dan Konsekuensi Budaya Tato pada Suku Dayak", tato yang berwarna hitam akan berubah menjadi penerang jalan menuju keabadian setelah mereka mati.

Tato Dayak merupakan aspek spiritual dan warisan suci bagi suku Dayak, selain sebagai lambang identitas dan status sosial yang tinggi.

3. Tato Moi

Kabupaten Sorong, Papua Barat memiliki suku bernama Moi. Pada zaman Neolitikum, Suku Moi telah melakukan seni rajah tubuh. Motif tato yang digunakan oleh Suku Moi adalah geometris dan garis-garis melingkar disertai dengan titik-titik berbentuk segitiga kerucut atau tridiagonal.

Bagian tubuh yang sering dijadikan objek tato adalah dada, pipi, kelopak mata, betis, pinggul, dan punggung. Sementara itu, untuk bahan pembuat tato adalah arang halus (yak kibi) hasil pembakaran kayu yang dicampur getah pohon langsat (loum).

Kemudian, duri pohon sagu atau tulang ikan dicelupkan ke dalam ramuan getah langsat dan arang yang selanjutnya ditusukkan pada bagian tubuh dengan membentuk motif tato tradisional. Bagi Suku Moi, tato merupakan hiasan tubuh dan identitas diri warga suku Moi.

Baca pembahasan mengenai Tradisi Unik selengkapnya di iNews.id melalui link berikut https://www.inews.id/tag/tradisi-unik

Penulis: Pratitis Nur Kanariyati/Litbang MPI

(qlh)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini