Ketika Peraih Nobel Perdamaian Pilih Pemakaman Aquamation, Kremasi Tanpa Api yang Ramah Lingkungan

Agregasi VOA, · Kamis 13 Januari 2022 16:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 13 18 2531727 ketika-peraih-nobel-perdamaian-pilih-pemakaman-aquamation-kremasi-tanpa-api-yang-ramah-lingkungan-a0PYwNVngt.jpg Peraih Nobel Perdamaian Desmond Tutu tutup usia (Foto: AP)

CAPE TOWN - Tidak banyak yang mengenal istilah Aquamation, sampai ketika peraih nobel perdamaian Uskup Agung Desmond Tutu tutup usia baru-baru ini. Cara pembakaran jenazahnya atau kremasi menggunakan metode Aquamation yang dianggap sebagai pilihan yang ramah lingkungan.

Jenazah  Tutu direduksi menjadi debu dengan aquamation, yakni metode kremasi baru menggunakan air. Rumah pemakaman mengklaim cara ini sebagai hal yang ramah lingkungan.

Seperti halnya metode pengomposan manusia, teknik pengomposan jenazah dengan lapisan bahan organik seperti daun atau serpihan kayu, aquamation masih diperbolehkan hanya di negara-negara tertentu.

Baca juga:  Peraih Nobel Perdamaian Desmond Tutu Wafat di Usia 90 Tahun

Di Afrika Selatan, tempat Tutu meninggal baru-baru ini, tidak ada undang-undang yang mengatur praktik tersebut.

Aquamation, atau "hidrolisis alkali", mencakup kremasi dengan sarana air ketimbang dengan api.

Tubuh almarhum direndam selama tiga sampai empat jam dalam campuran air dan alkali kuat seperti kalium hidroksida dalam silinder logam bertekanan dan dipanaskan hingga sekitar 150 derajat Celcius.

Baca juga: Afsel Desak Pelelangan Kunci Penjara Nelson Mandela Dihentikan

Proses tersebut mencairkan semua unsur kecuali tulang, yang kemudian dikeringkan dalam oven dan direduksi menjadi debu putih, ditempatkan di dalam guci dan diserahkan kepada kerabat.

Peneliti Philip R. Olson yang berbasis di Amerika Serikat (AS) mengatakan metode ini, pertama kali dikembangkan pada awal 1990-an sebagai cara untuk membuang hewan mati yang digunakan dalam eksperimen. Metode ini kemudian digunakan untuk membuang sapi selama epidemi penyakit sapi gila.

Olson menulis dalam makalah yang diterbitkan 2014, jika pada 2000-an sekolah kedokteran AS menggunakan aquamation untuk membuang mayat manusia yang disumbangkan, sebelum praktik tersebut masuk ke industri pemakaman.

Sementara itu, Tutu, yang meninggal pada Boxing Day, 26 Desember, dalam usia 90 tahun, dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana.

Michael Buttal, pensiunan Uskup Natal mengenang Tutu sebagai sosok yang humoris.

"Sahabatnya, Nelson Mandela, menggambarkannya dengan sempurna di mana ia 'kadang-kadang keras, sering lembut, tidak pernah takut, tidak jarang disertai humor'. Suara Desmond Tutu akan selalu menjadi perwakilan orang-orang yang kerap diabaikan,” terangnya.

Mpho Tutu, putri Desmond Tutu pada acara pemakaman menyampaikan terima kasih atas perhatian dunia pada ayahnya.

“Saya di sini menyampaikan terima kasih keluarga kami atas berbagai cara penyampaian betapa kalian mencintai ayah saya,” ujarnya.

Tutu meninggalkan pesan terakhir jika upacara pemakamannya harus sederhana dan tanpa embel-embel.

Pahlawan anti-apartheid, yang pemakamannya sudah digelar baru-baru ini, secara khusus meminta peti mati yang murah dan kremasi yang ramah lingkungan.

Dengan semakin langka dan mahalnya ruang pemakaman di daerah perkotaan di seluruh dunia, aquamation memiliki daya tarik yang jelas.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini