Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ketika Peraih Nobel Perdamaian Pilih Pemakaman Aquamation, Kremasi Tanpa Api yang Ramah Lingkungan

Agregasi VOA , Jurnalis-Kamis, 13 Januari 2022 |16:05 WIB
Ketika Peraih Nobel Perdamaian Pilih Pemakaman Aquamation, Kremasi Tanpa Api yang Ramah Lingkungan
Peraih Nobel Perdamaian Desmond Tutu tutup usia (Foto: AP)
A
A
A

CAPE TOWN - Tidak banyak yang mengenal istilah Aquamation, sampai ketika peraih nobel perdamaian Uskup Agung Desmond Tutu tutup usia baru-baru ini. Cara pembakaran jenazahnya atau kremasi menggunakan metode Aquamation yang dianggap sebagai pilihan yang ramah lingkungan.

Jenazah  Tutu direduksi menjadi debu dengan aquamation, yakni metode kremasi baru menggunakan air. Rumah pemakaman mengklaim cara ini sebagai hal yang ramah lingkungan.

Seperti halnya metode pengomposan manusia, teknik pengomposan jenazah dengan lapisan bahan organik seperti daun atau serpihan kayu, aquamation masih diperbolehkan hanya di negara-negara tertentu.

Baca juga:  Peraih Nobel Perdamaian Desmond Tutu Wafat di Usia 90 Tahun

Di Afrika Selatan, tempat Tutu meninggal baru-baru ini, tidak ada undang-undang yang mengatur praktik tersebut.

Aquamation, atau "hidrolisis alkali", mencakup kremasi dengan sarana air ketimbang dengan api.

Tubuh almarhum direndam selama tiga sampai empat jam dalam campuran air dan alkali kuat seperti kalium hidroksida dalam silinder logam bertekanan dan dipanaskan hingga sekitar 150 derajat Celcius.

Baca juga: Afsel Desak Pelelangan Kunci Penjara Nelson Mandela Dihentikan

Proses tersebut mencairkan semua unsur kecuali tulang, yang kemudian dikeringkan dalam oven dan direduksi menjadi debu putih, ditempatkan di dalam guci dan diserahkan kepada kerabat.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement