Share

Sejarah Hari Ini: Setelah Penyanderaan 444 Hari, Iran Bebaskan 52 Warga AS

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 20 Januari 2022 13:24 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 20 18 2535090 sejarah-hari-ini-setelah-penyanderaan-444-hari-iran-bebaskan-52-warga-as-mlgqOHtH6x.jpg Salah satu sandera dari Kedubes AS di Teheran ditunjukkan kepada publik, 9 November 1979. (Foto: AP)

JAKARTA - Pada 20 Januari 1981, Iran melepaskan 52 warga negara Amerika Serikat (AS) yang ditahan di Kedutaan Besar AS di Teheran dan mengakhiri krisis penyanderaan yang telah berlangsung selama 444 hari.

Krisis ini bermula pada 4 November 1979 setelah AS memberikan suaka kepada Shah Iran Mohammad Reza Pahlevi yang disingkirkan dalam Revolusi Islam.

BACA JUGA: Peristiwa 11 Februari: Revolusi Islam Iran dan Lahirnya Thomas Alva Edison

Para pemuda dan pelajar pendukung Revolusi Islam Iran menuntut Pahlevi, yang berada di New York untuk menjalani perawatan kanker, untuk dipulangkan ke Iran dan diadili atas tuduhan kejahatan yang dilakukan selama dia berkuasa.

Keputusan Washington memberikan suaka kepada Pahlevi dipandang sebagai bentuk keterlibatan AS dalam kejahatan yang dilakukan Sang Shah selama berkuasa dari 1941 hingga dia digulingkan pada 1979.

Marah dengan tindakan Washington, para pelajar Iran kemudian menyerbu Kedubes AS di Teheran dan menahan semua orang yang ada di sana. Situasi penyanderaan tersebut diambil alih oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khomeini yang menolak melepaskan semua sandera yang ditahan, bahkan setelah Dewan Keamanan PBB mendesak diakhirinya krisis dengan suara bulat.

BACA JUGA: Inggris si "Setan Kecil" untuk Iran

Setelah dua pekan penyerbuan Kedubes AS, Ayatollah Khomenei melunak dan melepaskan para sandera yang bukan warga AS, dan sandera warga AS dari kalangan minoritas dan perempuan.

Pemerintahan Presiden Jimmy Carter berusaha menyelesaikan krisis penyanderaan ini melalui jalur diplomatik. Namun, upaya pembicaraan gagal, sehingga memaksanya menggunakan jalur militer dengan menyetujui misi penyelamatan yang dinamakan Operation Eagle Claw atau Operasi Cakar Elang.

Operasi yang dimulai pada 24 April itu melibatkan delapan unit helikopter Sikorsky RH-53D yang berangkat dari kapal induk USS Nimitz, dan satu unit pesawat transpor C130-Hercules.

Namun, konvoi helikopter tersebut dihantam badai gurun dahsyat membuat tiga di antaranya tidak dapat digunakan. Kehilangan tiga helikopter, komandan operasi Kolonel Charles Alvin Beckwith mengusulkan misi tersebut dibatalkan.

Celakanya, setelah misi dibatalkan salah satu helikopter yang beroperasi bertabrakan dengan pesawat pengisi bahan bakar, menyebabkan delapan prajurit AS dan seorang warga sipil Iran tewas, serta melukai beberapa lainnya.

Tiga bulan setelah Operasi Cakar Elang, pada 27 Juli 1980, Shah Mohammad Reza Pahlevi meninggal dunia karena kanker yang dia derita. Namun, wafatnya Shah Pahlevi tidak lantas membuat penyanderaan berakhir.

Pada November 1980, Jimmy Carter kalah dalam pemilihan presiden dari saingannya Ronald Reagan, yang melanjutkan upaya negosiasi dengan Teheran.

Dengan bantuan Pemerintah Aljazair sebagai penengah, Iran dan AS menyepakati penyelesaian krisis yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun itu.

Di hari inagurasi Reagan, Pemerintah AS mencairkan hampir USD8 miliar (saat ini setara dengan USD24 miliar atau Rp321 triliun) aset Iran yang dibekukan Washington dan Teheran melepaskan 52 sandera yang masih ditahan.

Para sandera diterbangkan ke Aljazair, yang berperan sebagai penengah dalam proses negosiasi, sebelum diterbangkan ke Jerman Barat dan selanjutnya ke New York.

Krisis penyanderaan ini sampai sekarang masih mempengaruhi hubungan antara Iran dan AS yang selalu tidak bersahabat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini