Pada awalnya, Raden Arya Damar memosisikan Dewi Kian sebagaimana ibunya, yakni orang yang mesti ia taati dan hormati. Bagaimanapun, Dewi Kian adalah istri selir ayahnya sehingga ia dituntut untuk berlaku sopan-santun dan berbakti kepadanya.
"Jika Tuan Putri menghendaki si jabang bayi kelak menjadi seorang yang cerdas dan pintar, maka hendaknya Tuan Putri sering mendengarkan orang 'tadarusan' di Masjid kami," kata Arya Damar.
Arya Damar juga menjelaskan bahwa jika mendengarkan orang yang sedang membaca Alquran sambil mengelus-elus perut yang di dalamnya ada janin itu adalah sebagai bentuk komunikasi dengan si janin.
"Hei...Raden bagaimana engkau mengetahui rahasia seperti itu?" tanya Dewi Kian.
"Begitulah yang sering kami dengar dari para
ulama di sini." jawab Arya Damar.
Dewi Kian nampaknya mulai tertarik dengan obrolannya dengan Arya Damar.
"Apakah ada rahasia yang lain lagi?" Dewi Kian makin penasaran.
"Kalau Tuan Putri berkenan, hendaknya meminum air kelapa muda sebelum matahari terbit selama tujuh hari berturut-turut,” ujar Arya Damar.
"Terima kasih Raden Arya Damar! Engkau sangat baik kepadaku seperti Ramamu" ujar Dewi Kian yang tidak mengetahui kalau dirinya, setelah melahirkan nanti, akan dihadiahkan oleh Prabu Brawijaya V kepada Raden Arya Damar.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.