Share

Cerita Kapal Pengangkut Budak Terakhir dari Afrika ke AS

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 15 Februari 2022 18:43 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 15 18 2547779 cerita-kapal-pengangkut-budak-terakhir-dari-afrika-ke-as-6FIuxqzF7a.jpg Kapal pengangkut budak terakhir dari Afrika ke AS (Foto: Alamy)

NEW YORK - Penemuan sisa-sisa kapal Clotilda yang tenggelam 160 tahun lalu menghadirkan kehidupan baru ke sebuah desa kecil yang dibangun oleh para penyintas perbudakan.

"Sungguh gila berpikir mereka akan berlayar melewati daerah ini," kata Darron Patterson, sambil menarik mobilnya ke sebidang rumput yang menghadap ke Sungai Mobile yang keruh.

Sebagai pimpinan Asosiasi Keturunan Clotilda, Patterson fasih berbicara tentang pelayaran Clotilda, sebuah kapal pengangkut budak terakhir yang diketahui mencapai Amerika Serikat (AS).

Kakek buyutnya adalah Kupollee, yang kemudian berganti nama menjadi Pollee Allen. Dia adalah salah satu dari 110 laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang disekap secara kejam dari Benin di Afrika Barat, lalu dibawa ke AS di atas kapal yang terkenal keji tersebut.

Baca juga: Raja Belanda Pensiunkan Kereta Emas Terkait Kasus Perbudakan, Dianggap Menyinggung Banyak Orang

Kisah bagaimana kerabat Patterson tiba di AS dengan kapal budak ilegal dimulai sebagai taruhan yang sangat sembrono.

Pada 1860 atau sekitar 52 tahun setelah pemerintah AS melarang pengiriman budak, pebisnis kaya dari Alabama bernama Timothy Meaher bertaruh dapat mengatur pengangkutan orang Afrika.

Baca juga: Sejarah Perbudakan di Barbados hingga Menjadi Negara Republik

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Orang-orang Afrika yang dia sebut diculik untuk berlayar di bawah pengawasan pemerintah federal dan dapat menghindari larangan.

Pertaruhan itu belakangan memang berhasil. Dia dibantu kapten kapal bernama William Foster yang mengemudikan kapal berlayar ganda setinggi 24 meter.

Kapal itu mengarungi Samudera Atlantik selama enam pekan. Kapal menyelinap ke Teluk Mobile pada 9 Juli 1860, di bawah selubung kegelapan.

Untuk menyembunyikan bukti kejahatan, kapal layar yang terbuat dari bingkai kayu ek putih dan papan pinus kuning selatan itu dibakar, kemudian ditenggelamkan ke Sungai Mobile.

Di sungai yang dalam itu, kapal tersebut lalu menjadi tersembunyi di bawah air, keberadaannya dihilangkan.

Fakta itu tenggelam sampai 160 tahun setelahnya. Kala itu sungai surut secara tidak biasa. Seorang wartawan lokal bernama Ben Raines lalu menemukan bangkai kapal karam yang besar dan megah, yang awalnya dianggap berkaitan dengan Clotilda.

Namun temuan itu ternyata penanda palsu. Meski begitu, penemuan itu menghidupkan kembali minat dan menyebabkan pencarian ekstensif yang melibatkan banyak pihak, termasuk oleh Komisi Sejarah Alabama, National Geographic Society, Search Inc, dan The Slave Wrecks Project.

Setelah melewati upaya yang melelahkan, pada Mei 2019 akhirnya diumumkan bahwa bangkai kapal Clotilda ditemukan.

Sekitar tiga tahun setelahnya, Kota Mobile di Alabama berada di ambang ledakan pariwisata. Minat terhadap kisah Kapal Clotilda dan kehidupan para tawanannya yang tangguh perlahan meningkat.

Patterson setuju mengantar saya berkeliling Africatown, sebuah permukiman yang menjadi tempat tinggal banyak penyintas perbudakan kapal itu. Patterson juga tumbuh dewasa di daerah ini.

Kami memulai tur di sebidang tanah di tepi Sungai Mobile ini, di bawah jembatan antarnegara bagian yang menjulang tinggi. Di sinilah sekelompok keturunan penyintas kapal budak Clotilda bertemu setiap tahun dalam Festival Under the Bridge mereka.

Lewat ajang itu, mereka hendak menyuarakan bagaimana nenek moyang mereka sampai di sini.

Namun tidak ada festival pada hari saya datang ke sana. Suasananya sunyi, hanya terdapat seorang perempuan dan cucunya yang bermain di tepi air berawa, di bawah dengung lalu lintas.

Di mobilnya, Patterson, mantan penulis olahraga yang sekarang berusia 60-an tahun, mengenang Africatown sebagai tempat yang berkembang dan mandiri.

"Satu-satunya momen kami meninggalkan komunitas ini adalah saat membayar tagihan listrik," ujarnya. Selain kantor pos, tempat ini menyediakan apapun yang dibutuhkan warga.

Terletak lima kilometer di sisi utara pusat kota Mobile, Africatown didirikan oleh 32 penyintas kapal budak Clotilda. Mereka selamat dan hidup pada era emansipasi di akhir Perang Saudara tahun 1865.

Kerinduan terhadap tanah air mendorong mereka mendirikan komunitas yang hangat, yang memadukan tradisi Afrika dan cara hidup tradisional warga Amerika, seperti memelihara ternak dan mengelola lahan pertanian.

Sebagai salah satu kota pertama yang didirikan dan dikendalikan oleh keturunan Afrika-Amerika di AS, Africatown memiliki gereja sendiri, tempat pangkas rambut, dan berbagai toko, yang salah satunya dimiliki paman Patterson.

Ada pula Mobile County Training School, yaitu sebuah sekolah umum yang menjadi tulang punggung masyarakat setempat.

Namun, lingkungan yang dulu semarak ini mengalami masa-masa sulit ketika jalan bebas hambatan dibangun di jantung daerah ini pada tahun 1991. Polusi industri juga membuat banyak penduduk yang tersisa akhirnya berkemas dan pergi.

"Kami bahkan tidak bisa menjemur cucian karena akan tertutup abu produk dari tangki penyimpanan minyak dan pabrik di pinggiran Africatown," kata Patterson.

Komunitas Africatown yang membengkak menjadi 12.000 orang pada tahun 1960, kini menyusut hingga hanya sekitar 2.000 orang.

Eksodus, kemiskinan, dan bekas kerusakan lingkungan terlihat saat Patterson melaju lebih jauh ke Africatown. Kawasan itu dipenuhi pabrik-pabrik yang ditinggalkan.

Tanah dan rumah-rumah kosong terlihat di sela-sela jalan perumahan yang tenang, beberapa di antaranya dalam keadaan rusak parah. Dinding rumah tak berpenghuni itu membusuk dan ditumbuhi tanaman merambat.

Namun Africatown berubah, sekali lagi. Setelah penemuan bangkai kapal, muncul keinginan untuk membangun kembali dan melestarikan tempat bersejarah ini.

Perhatian sekelompok orang dan dana memengaruhi segalanya, dari hubungan pribadi, sejarah hingga masa depan permukiman tersebut.

Meski kisah kapal pengangkut budak Clotilda diketahui dan kehidupan para penyintasnya didokumentasikan secara baik dalam foto, wawancara, bahkan cuplikan film, tanpa bukti bangkai kapal, sejarahnya akan tetap terkubur.

Dan tanpa penemuan itu, masyarakat kulit putih tidak akan berkepentingan untuk mengakui fakta tentang sekelompok orang Afrika yang datang untuk diperbudak ini.

Penemuan bangkai kapal dapat mempertegas kisah para penyintas dan memulihkan kebenaran setelah beberapa dekade penyangkalan.

Hampir tiga tahun sejak penemuan bangkai Clotilda, sisa-sisa kapal itu menjalani eksplorasi arkeologi yang ekstensif. Salah satu tujuannya untuk menentukan cara mengangkatnya dengan aman dari bawah air.

Pemberitaan di media massa dan dorongan kepentingan publik mengalirkan dana revitalisasi berlimpah dari pemerintah, kelompok masyarakat, dan lembaga swasta untuk Africatown.

Salah satunya dari The Africatown Redevelopment Corporation yang memberi hibah khusus untuk pemulihan rumah rusak dan pembangunan ulang di tanah yang terlantar.

Ditambah pembayaran sebesar USD3,6 juta (Rp51 miliar) dari kompensasi tumpahan minyak British Petroleum yang dialokasikan untuk pembangunan kembali Africatown Welcome Center. Pembangunan ulang gedung ini telah lama ditunggu-tunggu sejak tersapu Badai Katrina pada 2005.

Patterson kemudian mengantarku ke rumah neneknya. Kami menepi untuk berbincang dengan tetangganya yang lanjut usia di beranda rumahnya. "Mohon tidak memotretku," ujarnya dengan sopan.

Tidak seperti beberapa keluarga keturunan lainnya, dia memberi tahu saya, ketika tumbuh dewasa dia hanya diberi tahu sedikit tentang leluhurnya.

"Saya pikir orang tua saya mungkin malu," kenangnya.

Rasa malu itu menurutnya muncul karena para penyintas kapal pengangkut budak itu telah menghadapi banyak hinaan, termasuk ditelanjangi selama perjalanan.

"Itu pasti menghancurkan harga diri mereka," terangnya.

Pengumuman penemuan bangkai kapal pada 2019 membangkitkan rasa ingin tahu Patterson. Dia mulai mengumpulkan peninggalan leluhurnya hingga pada titik "seluruh kehidupannya berubah".

Sejak saat itu dia menjadi orang yang aktif memastikan kisah leluhurnya diceritakan secara akurat, termasuk saat berperan dalam film berjudul Descendant yang ditayangkan perdana di Sundance Film Festival 2022.

Dia juga berperan menjadi produser dalam film dokumenter yang akan segera tayang, berjudul ‘The 110: The Last Enslaved Africans Brought to America’. Film ini berkisah tentang para penyintas kapal Clotilda.

Bagi Patterson, penemuan kapal itu membawa harapan baru bahwa Africatown akan bangkit.

"Setelah bertahun-tahun penyangkalan, keberadaan kapal itu akhirnya ditegaskan, jadi beban yang ada telah diangkat," kata Komisaris Wilayah Mobile, Merceria Ludgood.

"Itu sama pentingnya terhadap karakter Africatown dengan revitalisasi perumahan yang saat ini terjadi," ujarnya.

Meskipun jumlah restoran dan fasilitas pariwisata minim, Ludgood menilai situasi itu bisa berubah.

Dia sendiri terlibat dalam pendirian Africatown Heritage House, sebuah museum permanen yang digagas dalam kolaborasi bersama History Museum of Mobile. Tujuan museum itu adalah memetakan sejarah Africatown.

"Mudah-mudahan industri rumahan akan bermunculan, yang dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di komunitas tersebut," lanjutnya.

Ludgood mencatat bahwa penemuan Clotilda telah memberikan dorongan kepada komunitas Africatown, yang bergema jauh melampaui harapan ekonomi.

Tujuan lain dalam tur yang diapandu Patterson adalah Africatown Heritage House. Bangunan ini terletak di pusat permukiman, menghadap ke deretan bungalow sederhana yang terawat baik di jalan dengan deretan pohon palem.

Museum yang sedang dibangun ini akan dibuka pada awal musim panas 2022. Koleksinya mencakup artefak Afrika Barat dan sebagian bangkai kapal Clotilda, yang dipamerkan dalam bongkahan pelestarian.

Museum ini menjanjikan wawasan unik, mengingat waktu pelayaran Clotilda yang relatif baru dalam kaitannya dengan sejarah perbudakan.

"Ini sebenarnya adalah kisah perdagangan budak terbaik yang tercatat rapi, yang kita miliki sebagai sebuah bangsa," kata Meg McCrummen Fowler, Direktur History Museum of Mobile.

"Ada banyak sumber sejarah. Beberapa penyintas hidup panjang umur hingga abad ke-20, jadi alih-alih tenggelam, kisah itu tercatat dalam buku harian atau catatan kapal," ujarnya.

Proyek pembangunan ulang ini juga mencakup jembatan penyeberangan yang menghubungkan dua wilayah Africatown. Keduanya saat ini dipisahkan oleh jalan bebas hambatan.

Tur mengarungi air yang membawa pengunjung ke dekat lokasi kapal karam dijadwalkan akan dimulai pada musim semi tahun 2022. Beberapa penduduk lokal juga menawarkan tur jalan kaki ke Africatown.

Walau jumlah turis belum masif, Africatown menghadapi serangkaian tantangan yang umum dihadapi permukiman lainnya di AS, terutama yang mengalami revitalisasi yang cepat.

Persoalan itu antara lain memastikan seluruh warga mendukung perubahan. Namun Patterson mengatakan bahwa komunitas Africatown bersatu dalam misi yang sama.

"Kami semua setuju dengan ini," tambahnya.

Perhentian terakhir tur kami adalah pemakaman, tempat banyak budak Clotilda dikuburkan.

Saat kami berjalan, Patterson berkata bahwa dalam narasi sejarah yang meresahkan, dia berharap akan ada cukup minat berkelanjutan untuk menghasilkan dana yang dibutuhkan untuk mengangkat bangkai kapal dari air.

Meskipun dampak sebenarnya dari penemuan kapal dongeng ini belum terlihat, bagi Patterson, ini memberikan kesempatan untuk mengangkat komunitas Africatown dan menghormati perjuangan para pendirinya.

"Ini lebih dari sekadar batu bata dan mortir, ini pada akhirnya tentang pertumbuhan jiwa kita," katanya.

Patterson melihat ke atas batu nisan yang hancur. Seluruh kuburan itu menghadap ke timur, ke arah tanah air mereka di Afrika.

"Penemuan bangkai kapal ini akhirnya memvalidasi kebenaran kami," ujar Patterson.

1
7

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini