MARIUPOL - Pengeboman oleh Rusia di beberapa tempat di Ukraina begitu intens sehingga kota-kota besar terpaksa langsung menguburkan puluhan korban sipil di kuburan massal, tanpa prosesi semestinya.
Salah satunya di Mariupol, kota pelabuhan utama yang dihancurkan oleh serangan terus-menerus Rusia. Beberapa tempat pemakaman darurat telah digali dengan tergesa-gesa dalam dua minggu terakhir.
"Kami tidak dapat mengubur [para korban] di pemakaman umum, karena lokasinya berada di luar kota dan perimeternya dikendalikan oleh pasukan Rusia," kata wakil wali kota Mariupol, Serhiy Orlov, kepada BBC melalui telepon.
Bahkan pemakaman kota yang sudah lama ditutup kini dibuka kembali, kata Orlov.
Pada Minggu (13/3), dewan kota mengatakan jumlah korban sipil telah meningkat di atas 2.100 jiwa. Serangan pasukan Rusia telah mencegah evakuasi massal dari Mariupol, meskipun ada upaya untuk membuka rute keluar yang aman.
Orlov tidak bisa memberikan jumlah total warga sipil yang tewas dan dimakamkan di kuburan massal, tetapi mengatakan 67 jenazah berada di satu lokasi.
"Beberapa di antaranya kami tidak dapat mengidentifikasi, tetapi beberapa lagi memiliki dokumen."
Ribuan warga bersembunyi di ruang bawah tanah dan dalam beberapa kasus, katanya, warga mengubur anggota keluarganya secara pribadi di halaman atau kebun.
Tim pembersih dan perbaikan jalan belakangan lebih sering mengumpulkan korban-korban tewas di jalanan, katanya.
"Beberapa orang tewas selama evakuasi itu. Kami tidak memiliki listrik, atau pemanas, sanitasi, air, makanan selama 11 hari," katanya.
Sekitar 600 km ke barat laut Ibu Kota Kyiv, sebuah kuburan massal digali di dekat sebuah gereja di Kota Bucha, kata anggota parlemen lokal Mykhailyna Skoryk-Shkarivska. Ini berisi lebih dari 60 mayat.