Share

China Diam-Diam Negosiasi Kesepakatan Keamanan Rahasia di Pasifik Selatan

Susi Susanti, Okezone · Sabtu 26 Maret 2022 15:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 26 18 2568242 china-diam-diam-negosiasi-kesepakatan-keamanan-rahasia-di-pasifik-selatan-1q3Cf6f1AF.jpg China diam-diam negosiasi kesepakatan rahasia di Pasifik Selatan (Foto: Daily Telegraph Selandia Baru)

CHINA - China dilaporkan telah merundingkan pakta keamanan rahasia dengan Kepulauan Solomon, memicu alarm peringatan di Amerika Serikat (AS) dan Australia karena potensi Beijing mendapatkan tempat berpijak di Pasifik Selatan yang dapat memblokir lalu lintas pengiriman.

New York Times melaporkan pada Jumat (25/3) dengan mengutip dokumen yang dibocorkan oleh penentang kesepakatan, pejabat China dan Pulau Solomon hampir menandatangani perjanjian.

Jika selesai, pakta tersebut akan memberi Perdana Menteri Kepulauan Solomon Manasseh Sogavare kemampuan untuk meminta perlindungan kepada China, seperti dalam kasus kerusuhan sipil. Beijing akan diberikan hak untuk merapatkan kapal perang dan mengakses semua fasilitas yang diperlukan di pulau-pulau itu.

 Baca juga: Sehari Setelah Kerusuhan, Polisi Australia Ambil Kendali Ibu Kota Kepulauan Solomon

Kementerian luar negeri Australia mengkonfirmasi keaslian rancangan perjanjian keamanan dan berpendapat bahwa “keluarga Pasifik”-nya paling cocok untuk memberikan bantuan keamanan ke Kepulauan Solomon. Disebutkan bahwa Australia telah membantu negara itu di masa lalu, seperti ketika mengaktifkan perjanjian keamanan 2017 dengan Kepulauan Solomon untuk membantu memulihkan ketertiban selama kerusuhan November lalu.

Baca juga:  Massa Jarah Toko dan Bakar Gedung Parlemen, Kepulauan Solomon Berlakukan Lockdown 36 Jam

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

"Kami akan sangat prihatin dengan tindakan apa pun yang merusak stabilitas dan keamanan kawasan kami, termasuk pembentukan kehadiran permanen, seperti pangkalan militer," kata Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan. Ia menambahkan bahwa pemerintah Australia dan Sogavare mengumumkan pada hari Kamis bahwa pasukan bantuan internasional akan tetap berada di Kepulauan Solomon hingga Desember 2023.

Canberra juga akan memberikan dukungan anggaran sebesar 22 juta dolar Australia (Rp237 miliar) untuk membantu pemerintah Sogavare mengurangi dampak ekonomi dari kerusuhan dan pandemi Covid-19.

“Australia akan transparan dan menunjukkan rasa hormat sebagai mitra yang dapat diandalkan saat kami berusaha membangun persatuan di seluruh Pasifik,” lanjut pernyataan itu.

Pemimpin partai oposisi Kepulauan Solomon Matthew Wale mengatakan kepada Times bahwa dia khawatir ketidakjelasan perjanjian keamanan dengan China akan memungkinkannya digunakan untuk apa pun. "Intinya adalah bahwa ini semua tentang kelangsungan hidup politik bagi perdana menteri," katanya.

"Itu tidak ada hubungannya dengan keamanan nasional Kepulauan Solomon,” ujarnya.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS dilaporkan sedang membangun sebuah kedutaan di Kepulauan Solomon beberapa dekade setelah menutup pos diplomatiknya di Honiara.

Charles Edel, yang merupakan Ketua Australia di Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington, berpendapat bahwa kesepakatan keamanan rahasia dengan China akan menurunkan keamanan Australia. “Ini sangat bermasalah bagi AS dan menjadi penyebab keprihatinan nyata bagi sekutu dan mitra kami,” katanya kepada Times.

Diketahui, kekerasan tahun lalu muncul dari protes atas keputusan pemerintah Sogavare untuk mengakhiri hubungan diplomatik dengan Taiwan, menjalin hubungan dengan Beijing, dan menandatangani kesepakatan pembangunan dengan perusahaan-perusahaan China. Para perusuh menyerang kediaman Sogavare dan membakar bisnis di Chinatown di Guadalcanal, pulau yang terkenal karena pertempuran Perang Dunia II antara AS dan Jepang.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini