Share

Pembicaraan Damai Rusia-Ukraina Deadlock, Putin Bersumpah Lanjutkan Perang

Susi Susanti, Okezone · Rabu 13 April 2022 06:12 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 13 18 2578061 pembicaraan-damai-rusia-ukraina-deadlock-putin-bersumpah-lanjutkan-perang-EYyWakw7Jn.jpg Presiden Rusia Vladimir Putin bersama Presiden Belarusia Alexander Lukashenko di hanggar pangkalan ruang angkasa (Foto: Reuters)

RUSIA - Presiden Rusia Vladimir Putin telah berjanji untuk melanjutkan invasi ke Ukraina sampai tujuan "mulia" negaranya terpenuhi.

Dalam penampilan publik yang jarang terjadi, dia mengatakan pembicaraan damai telah menemui jalan buntu (deadlock) dan bersikeras bahwa invasi - yang berada di minggu keenam - berjalan sesuai rencana.

Dalam sebuah acara pers di dalam hanggar di pangkalan ruang angkasa timur jauh enam zona waktu dari Moskow, Putin mengatakan Moskow "tidak punya pilihan" selain campur tangan untuk melindungi separatis, mengalahkan neo-Nazi dan "membantu orang".

Kremlin mengklaim bahwa Ukraina telah melakukan genosida terhadap penutur bahasa Rusia di Ukraina timur, tetapi tidak ada bukti yang mendukung hal ini,

Baca juga:  Pembicaraan Damai Rusia-Ukraina Deadlock, Ukraina Tolak Akui Krimea Sebagai Republik Rusia

"Di satu sisi, kami membantu dan menyelamatkan orang, dan di sisi lain, kami hanya mengambil langkah-langkah untuk memastikan keamanan Rusia sendiri," tegas pria berusia 69 tahun itu.

Baca juga: Ukraina Angkat Bicara Alasan Tidak Tertarik Gencatan Senjata Sementara, Konflik Militer Akan Lebih Meningkat

"Jelas bahwa kami tidak punya pilihan. Itu adalah keputusan yang tepat," katanya, seraya menambahkan bahwa Rusia akan "secara berirama dan tenang" melanjutkan invasi.

Ditanya oleh para pekerja di pangkalan luar angkasa apakah operasi di Ukraina akan mencapai tujuannya, Putin menjawab: "Tentu saja. Saya tidak ragu sama sekali."

"Tujuannya sangat jelas dan mulia,” ujarnya.

Ini menjadi penampilan publik keduanya dalam seminggu, setelah penampilan singkat di pemakaman seorang anggota parlemen nasionalis di mana dia tidak mengatakan apa pun secara langsung tentang perang.

Komentar Putin ini menjadi yang pertama mengenai konflik tersebut dalam lebih dari seminggu.

Berbeda dengan hari-hari awal perang, dia baru-baru ini tidak menonjolkan diri.

Dia mengunjungi fasilitas luar angkasa di Rusia timur bersama Presiden Belarusia Alekander Lukashenko, salah satu sekutu terdekatnya, untuk menandai ulang tahun ke-61 Yuri Gagarin menjadi manusia pertama di luar angkasa.

Namun dalam sambutannya, dan konferensi pers selanjutnya yang diadakan di depan bendera di belakang hanggar bersama sekutu masa perangnya, Presiden Belarusia Alexander Lukashenko, Putin sering kali terlihat mengoceh atau terbata-bata. Hanya sesekali dia mengadopsi sikap dingin dan percaya diri yang telah menjadi ciri khasnya dalam penampilan publik selama lebih dari 22 tahun sebagai pemimpin Rusia.

Terkait sanksi yang dijatuhkan Barat, Putin menegaskan Rusia tidak "bisa iisolasi", dengan alasan bahwa "tidak mungkin mengisolasi siapa pun di dunia modern - terutama negara seluas Rusia".

"Blitzkrieg yang musuh kita andalkan tidak berhasil," kata Putin, tentang sanksi keuangan.

Pada Senin (11/4), Putin bertemu dengan kanselir Austria yang berkunjung. Namun pertemuan itu diadakan di sebuah kediaman pedesaan di luar Moskow dan tidak ada gambar yang dirilis. Hal ini kontras dari pembicaraan dengan para pemimpin Barat pada malam perang, ketika mereka digambarkan duduk di ujung berlawanan dari sebuah meja besar di istana Kremlin yang penuh hiasan.

Sementara itu, seorang pejabat Ukraina mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa negosiasi itu sulit tetapi terus berlanjut.

Diketahui, Moskow telah mengalihkan fokusnya ke Ukraina timur, memindahkan pasukan dari utara setelah menghadapi perlawanan sengit pada minggu-minggu awal dari apa yang disebutnya "operasi khusus".

Juru bicara kepresidenan Rusia Dmitry Peskov mengakui pekan lalu bahwa negara itu telah menderita "kehilangan pasukan yang signifikan" sejak konflik dimulai.

Rusia maupun Ukraina memperkirakan kerugian Rusia tidak dapat diverifikasi secara independen - dan analis telah memperingatkan bahwa Rusia mungkin meremehkan tingkat korbannya, sementara Ukraina dapat menggembungkannya untuk meningkatkan moral. Para pemimpin Barat percaya bahwa antara 7.000 dan 15.000 tentara Rusia telah tewas.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan 10 juta orang telah meninggalkan rumah mereka sejak invasi dimulai.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini