Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Salut! Perwira Kopassus Ini Tumpas Teroris Dalam 3 Menit Meski Kakinya Patah

Tim Okezone , Jurnalis-Minggu, 17 April 2022 |08:39 WIB
Salut! Perwira Kopassus Ini Tumpas Teroris Dalam 3 Menit Meski Kakinya Patah
Prajurit Kopassus/i kopassus.mil.id
A
A
A

JAKARTA –Komando Pasukan Khusus atau yang disingkat Kopassus memasuki umur yang ke-70. Pasukan elite TNI AD yang memiliki motto “Berani, Benar, Berhasil” ini mempunyai beragam kisah heroik sepanjang perjalanannya.

(Baca juga: Tribuana Kopassus, Kolam Renang Terdalam di Asia Tenggara Tempat Latihan Pasukan Katak Baret Merah)

Salah satunya peristiwa pembajakan pesawat DC 9 milik Garuda Indonesia atau disebut juga Woyla , pada 28-31 Maret 1981.

Informasi adanya pembajakan Garuda Woyla  di Thailand diterima Pangkopkamtib Laksamana Sudomo. Kabar ini kemudian diteruskan ke Panglima ABRI, Jenderal M Yusuf dan Asintel Hankam Letjen Benny Moerdani.

Keduanya, baik Jenderal M Yusuf dan Letjen Benny saat itu tengah berada di Ambon dalam rangka latihan gabungan ABRI. Secara pribadi, Yusuf langsung memerintahkan Benny untuk mengatasi pembajakan pesawat Garuda Woyla.

Yusuf lalu meminta Danjen Kopassus Brigjen Yogi S Memet, untuk mempersiapkan pasukan. Secara cepat Yogi menghubungi markas Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), sekarang menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Cijantung.

Selanjutnya, Yogi memerintahkan Pejabat Asisten 2 Operasi Kopassus Letkol Sintong Panjaitan, untuk memimpin operasi pembebasan sandera. Padahal kondisi Sintong kala itu tidak begitu baik. Kakinya patah saat latihan penerjunan.

Sintong sempat menjalani perawatan selama 2 minggu di RSPAD Gatot Subroto. Setelah dinyatakan membaik, Sintong diperbolehkan pulang. Namun kondisinya belum pulih benar, kakinya masih sulit berjalan normal. Dia harus menggunakan dua tongkat penyangga untuk berjalan.

Namun karena dia diberi kepercayaan untuk memimpin operasi, Sintong tidak memperdulikan kondisi kakinya. Dikutip dari DC Channel, Sintong segera membentuk grup antiteror dari grup 4 Sandhi Yudha yang berjumlah 30 orang.

Sementara Benny Moerdani dari Ambon segera terbang di Jakarta. Saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, dia bersama Sudomo menghadap Presiden Soeharto. Benny menyampaikan ke Soeharto untuk mengambil opsi militer dalam mengatasi pembajakan.

Selanjutnya pada, Minggu 29 Maret 1981 malam, Benny dan pasukan antiteror bersiap berangkat ke Thailand. Sebelum berangkat, Benny inspeksi pasukan.

Saat inspeksi, dilihatnya pasukan menggunakan senjata serbu jenis M16 A1. Benny mengatakan, kalau senjata M16 ditembakkan ke dalam pesawat, bisa meledak pesawat itu. Karena itu Benny memerintahkan untuk mengganti senapan serbu heads and key MP5 kaliber dua 9 mm buatan Jerman.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement