Pertumbuhan ekonomi Bangladesh cukup tinggi dan stabil. Sejak 2011, pertumbuhan ekonominya rata-rata di atas 6,8%. Bahkan di masa sebelum pandemi,pertumbuhan ekonomi Bangladesh mencapai 8,2% pada tahun 2019. Sementara itu, pada 2020 pertumbuhan ekonominya mencapai 8%. Melihat hal tersebut, tak diragukan lagi bahwa Indonesia perlu menjadi mitra utama Bangladesh dengan menggunakan momentum pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang sedang berlangsung di Bangladesh.
Namun demikian, pandemi Covid-19 telah memengaruhi pertumbuhan ekonomi Bangladesh. Terdapat 61,57% warga Bangladesh kehilangan pekerjaan. Pemerintah Bangladesh juga membatalkan 10 proyek pembangkit listrik tenaga batubara. Namun, cadangan devisa Bangladesh hingga Juni 2021 mencapai USD46 miliar yang diperoleh dari pekerja migran Bangladesh di luar negeri. Pendapatan per kapita Bangladesh tahun 2020 meningkat 9% menjadi USD2.227 dari USD2.064.
Sebagian besar ekonomi Bangladesh berasal dari industri tekstil yang mencakup Ready made Garment (RMG) dan knitwear, serta remmitance dari tenaga kerja Bangladesh di luar negeri. Sektor RMG menyumbang 76% total ekspor dan menyerap 42 juta tenaga kerja. Namn lebih dari 90% barang konsumdi dan kebutuhan penunjang hidup lainnya adalah produk impor.
Selain mendorong outbound investment BUMN Indonesia di sektor energi dan infrastruktur, Heru juga tengah mengupayakan kerja sama bidang kesehatan, dengan tujuan kemandirian kesehatan indonesia, termasuk kerja sama dalam bidang obat-obatan dan vaksin guna menghadapi potensi pandemi mendatang. Pada masa pandemi Covid-19, Bangladesh telah memberikan dukungan dalam bentuk obat-obatan kepada Indonesia.