DHAKA - Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia (Dubes LBBP RI), R. Heru Hartanto Subolo, sangat antusias untuk melakukan visi dan misi yang diemban selama bertugas di Bangladesh dan Nepal, khususnya untuk memajukan dan meningkatkan penguatan kerjasama bilateral ekonomi dan perdagangan.
Heru diketahui telah menyerahkan Surat-Surat Kepercayaan (Credential Letters), kepada Presiden Bangladesh, Yang Mulia Abdul Hamid di Istana Kepresidenan ‘Bangabhaban’ pada 2 Maret 2022 lalu.
Menurut dia, pokok capaian utama adalah memperkuat diplomasi ekonomi guna mendorong pemulihan ekonomi nasional. Beberapa upaya yang tengah diupayakan adalah penyelesaian Preferential Trade Agreement (PTA) Indonesia-Bangladesh, mendorong realisasi kesepakatan bisnis BUMN Indonesia di sektor energi di Bangladesh antara lain melalui realiasasi proyek PT. Pertamina Power Indonesia (PPI) dan PT. Pembangkit Jawa Bali (PJB), dan meningkatkan akses pasar bagi produk strategis dan komoditi unggulan Indonesia.
Baca juga: Presiden Jokowi Lantik 12 Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh : Okezone Nasional
Bangladesh merupakan mitra dagang Indonesia ke-3 terbesar di Kawasan Asia Selatan dimana pihak Indonesia menikmati surplus yang cukup signifikan. Bangladesh merupakan mitra dagang dalam industri strategis dan ekspor produk unggulan Indonesia, antara lain, pengadaan gerbong kereta oleh PT INKA, ekspor unit bus dan kelapa sawit.
Baca juga: Bangladesh Peringati Hari Kemerdekaan Ke-51, Puji Hubungan Bilateral dengan Indonesia
Tak hanya itu, Bangladesh merupakan salah satu pasar non-tradisional potensial untuk peningkatan ekspor Indonesia. Hal ini dibuktikan dari peningkatan volume perdagangan bilateral kedua negara yang telah melonjak tajam dari USD1,76 miliar pada 2020 menjadi USD3,03 miliar pada 2021. Bangladesh juga merupakan least developing country (LDC) terbesar dari segi populasi, dengan jumlah penduduk sekitar 162 juta (terbesar ke-8 di dunia) dengan 7% di antaranya kalangan kelas menengah ke atas. Tahun 2025 diprediksi kalangan menengah ke atas Bangladesh mencapai 20% dari total penduduk (sekitar 40 juta jiwa). Bangladesh ditargetkan lulus menjadi negara berkembang pada tahun 2026.