JAKARTA - Soekarno merupakan proklamator bangsa Indonesia yang mecetuskan Pancasila sebagai dasar negara.
Meski demikian, Bung Karno menjadi tahanan politik usai pecahnya peristiwa G30S PKI setelah lengser dari jabatannya sebagai Presiden pertama Indonesia.
Salah satu yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah pesan terakhir Bung Besar untuk putra sulungnya Guntur Soekarnoputra. Dalam pesan itu, Bung Karno memberikan pesan perpisahan kepada anak tertuanya itu.
ROSO Daras dalam buku “Total Bung Karno" menuliskan bahwa Guntur Soekarnoputra harus memikul tanggung jawab besar, ketika bapaknya, Sekarno meninggal. Ia tidak saja harus menjadi ‘pengganti’ peran ayah bagi adik-adiknya, tetapi juga siap menjalankan peran sebagai anak Bung Karno tertua.
Baca juga: LaNyalla: Serambi Bung Karno, Bukti Pancasila Wadah yang Utuh
Selama menjadi putra Bung Karno, banyak pesan yang telah dibenamkan Bung Karno di otak dan hati Guntur.
Di buku yang ditulis Guntur yaitu “Bung Karno, Bapakku Kawanku dan Guruku” diceritakan tentang pesan terakhir Bung Karno. Setelah itu tidak ada pesan lagi hingga ayahnya meninggal dunia, 21 Juni 1970.
Baca juga: Daftar Menteri Pendidikan di Era Presiden Soekarno, Ki Hadjar Dewantara yang Pertama Kali Menjabat!
Berikut pesan terakhir Bung Karno kepada Guntur:
“Tok, engkau adalah anak sulung Putra Sang Fajar. Sebab, bapakmu dilahirkan pada waktu fajar menyingsing. Fajar 6 Juni yang sedang merekah di ujung timur. Dan engkau yang lahir di tahun keberanian, juga menjelang fajar tanggal 3 November pada saat mana hegemoni kekuasaan Jepang semakin suram sinarnya.
Nah, seperti halnya bapakmu, engkau pun pantas menyambut terbitnya matahari. Jadilah manusia yang pantas menyambut terbitnya matahari. Ingat, yang pantas meyambut terbitnya matahari itu hanya manusia-manusia abdi Tuhan, manusia-manusia yang manfaat. Karena itu jangan cengeng! Buktikan kepada setiap orang yang menatapmu bahwa engkau memang pantas menjadi anak sulung Sukarno.”
Ekspresi sikap Guntur pascameninggalnya Bung Karno, baginya adalah sikap terbaik. Termasuk jika akhirnya ia memilih untuk tidak terjun ke gelanggang politik.
Akan tetapi, dengan sikapnya itulah kemudian ia dan adik-adiknya, relatif bisa bertahan hidup di rezim Soeharto, sebuah rezim yang telah menggulingkan bapaknya, tidak hanya dilengser dari jabatan, tetapi juga dikungkung di Wisma Yaso, tanpa bacaan, tanpa teman, tanpa keluarga.
Cerita sejarah Indonesia tentu akan berbeda, seandanya Guntur mengambil jalan politik dan melakukan perlawanan balik terhadap rezim Soeharto. Jalannya sejarah bisa menjadi, Guntur kembali mengibarkan bendera Bung Karno dengan pendukung yang sangat besar. Atau, sejarah bisa pula menjadi, Guntur dan adik-adiknya tersingkir, bahkan dalam arti harfiah.
Baca juga: Kronologi Penyusunan Dasar Negara Indonesia yang Kini Dikenal Pancasila
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.