Bahkan, lanjut dia, keduanya sudah berlari dengan bermodalkan penerangan senter seadanya namun tak cukup untuk mengejar waktu agar proses persalinan dilakukan di tempat yang layak.
"Sekalipun kami sudah bergerak langsung setelah mendapat panggilan, di mana kami hanya bisa berjalan kaki dan juga sesekali berlari dengan penerangan senter, namun kami hanya dapat bertemu dengan ibu tersebut di tengah hutan. Bahkan kami sempat bingung mencari posisi ibu tersebut berada. Hal ini dikarenakan kondisi hutan dan malam yang gelap, dan letaknya di hutan dan berdekatan dengan pantai," ujarnya.
"Berhubung karena hanya kita berdua yang jalan. Suami dari ibu melahirkan tidak bisa mengantar kami. Suami ibu tersebut hanya bisa mengantar kami dari jarak tertentu. Hal ini karena apa, kembali karena pantangan adat istiadat setempat. Dan pada akhirnya seorang ibu harus melahirkan bayinya dengan selamat di Hutan, gelap dan beralaskan rumput serta ditemani oleh dua orang adik perempuannya yang masih remaja," imbuhnya.
Baca juga: Serangan Nakes di Papua Bentuk Teror dari KKB yang Tak Pandang Tugas Kemanusiaan
Ia menambahkan bahwa saat itu dirinya harus mengambil langkah cepat untuk melakukan proses persalinan demi keselamatan ibu dan bayinya.
"Kemudian membawa ibu dan bayinya ke Pustu untuk melanjutkan proses penanganan medis terhadap Ibu dan Bayi," ujarnya.
Baca juga: Gerald Sokoy, Nakes di Kiwirok Papua Belum Diketahui Nasibnya
Bidan Bela yang sudah sejak tiga tahun bertugas sebagai tenaga kontrak di Pedalaman Merauke itu menambahkan bahwa seluruh perjuangan dan pelayanan yang mereka lakukan adalah sebagai tugas dan kewajiban yang harus dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab.
"Semua yang kami lakukan adalah merupakan tugas dan tanggung jawab yang wajib dikerjakan," ucap dia.